GILA! POLISI BERHASIL SIKAT SABU SENILAI Rp1,6 TRILIUN!

Oleh: Denny Siregar

Di saat banyak orang sedang tidur pulas, ada sebagian kecil aparat kepolisian yang sedang bertugas. Mereka mempertaruhkan nyawa dengan terus mengikuti jaringan bandar narkoba besar, yang sedang berusaha memasukkan barangnya ke Indonesia. Dan gak main-main, kemarin akhirnya aparat kepolisian berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba dari Timur Tengah sebanyak 1,1 ton sabu. Tahu berapa nilainya? Rp1,6 triliun. Gila.

Penangkapan ini tentu prestasi buat Polri, tapi juga menakutkan buat saya. Sebelumnya, di bulan April, polisi juga menggagalkan penyelundupan narkoba berjenis sabu sebesar 2,5 ton dengan nilai Rp1,2 triliun. Itu masih belum sitaan-sitaan lain yang lebih kecil, tetapi masif. Seperti misalnya, tahun 2020 lalu, ada sindikat narkoba yang tertangkap di Petamburan, Jakarta Pusat dengan barang sitaan seberat 200 kilogram.

Saya mencari catatan di banyak media online, kenapasih begitu masifnya narkoba masuk Indonesia sekarang ini? Padahal kan orang Indonesia terkenal religius? Masa mereka pakai sabu? Itu kan haram.

Penjelasan yang membuka mata saya datang dari Kombes Pol. Hengki Haryadi, yang sekarang menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Pusat. Hengki menjelaskan kalau Indonesia sekarang ini sudah menjadi target dari organisasi kejahatan internasional. Nah, salah satu pembuka pintu gerbang supaya organisasi internasional ini bisa masuk ke Indonesia adalah narkoba. Narkoba, selain berfungsi sebagai pendanaan untuk terorisme, juga berfungsi sebagai perusak supaya nilai sosial di masyarakat kita menjadi rusak. Dalam artian sederhananya, racuni dulu masyarakat dengan narkoba sehingga mereka bisa merusak sekitarnya tanpa ada perasaan bersalah.

Itulah jawaban, kenapa narkoba yang banyak disita polisi ini berjenis sabu, bukan ganja misalnya, karena sabu punya efek yang sangat merusak. Awalnya sabu banyak dipakai para artis, karena dianggap cocok sebagai vitamin mereka supaya mereka bisa kerja keras, shooting dari tv ke tv, dari pagi sampai malam hari tanpa merasa capek dan lapar. Tetapi efek akhirnya sesudah kecanduan adalah kerusakan otak sehingga pecandu sabu bisa menjadi pelaku kekerasan karena mereka depresi.

Semakin kencangnya masuknya narkoba jenis sabu dari negara luar ini, juga berkaitan dengan efek pandemi. Ketika banyak orang di Indonesia sedang depresi karena masalah ekonomi, frustrasi karena nganggur gak kerja-kerja, akhirnya mereka menggunakan sabu untuk melupakan masalahnya. Dengan sabu itu awalnya mereka merasa nikmat, dan pelan-pelan karena ketergantungan yang sangat tinggi, mereka mencoba mencari jalan untuk mendapatkan uang membeli sabu dengan jalan merampok, membegal, mencuri, dan lain sebagainya.

Banyak kasus kejahatan dan kekerasan di Indonesia, pelakunya dipastikan kecanduan sabu. Pelaku kekerasan dan kejahatan di jalan seperti para begal, mereka merasa tidak bersalah ketika membegal korbannya bahkan sampai mati di jalan sesudah mereka memakai sabu. Karena mereka menganggap kalau dirinyalah yang harus diselamatkan karena kecanduan, bukan korban yang mereka habisi nyawanya.

Mengerikan, ya?

Itulah yang terjadi. Pandemi ini malah menaikkan jumlah transaksi narkoba semakin besar ke Indonesia. Yang dulunya cuma main kilogram, sekarang sudah main ton-tonan. Yang dulunya keuntungan cuman miliaran, sekarang sudah main triliunan. Tahun 2019, seorang bandar besar narkoba ditangkap. Namanya M Adam. Dia sudah menjadi bandar narkoba sejak tahun 2000. Dan dari bisnis narkoba itu, Adam sudah bisa punya private jet, kapal pesiar, kalau rumah mewah jangan ditanya lah. Total hartanya saja, sesudah dihitung oleh polisi, sebesar Rp12,5 triliun. Ngeriii, Bro.

Saya jadi ingat peristiwa dulu di Suriah, ketika beberapa pemberontak di sana ditangkap oleh aparat keamanan Suriah, sesudah mereka selesai memutilisasi korban-korbannya. Para pemberontak itu memakai sabu dan menganggap yang mereka mutilasi itu adalah seekor babi yang buat mereka “haram dimakan”.

Perang narkoba di Indonesia belum selesai. Saya yakin, gak lama lagi polisi akan menangkap sindikat narkoba dengan nilai tangkapan yang jauh lebih besar. Jaringan sindikat narkoba yang sekarang masuk ke Indonesia, bukan lagi didominasi dari Cina, tetapi sudah mulai dikuasai oleh jaringan dari Timur Tengah.

Kita apresiasi dulu kerja aparat dengan angkat secangkir kopi. Terima kasih untuk Kapolri. Terima kasih, Kapolda Metro. Terima kasih untuk satgas narkoba yang bertugas mempertaruhkan nyawa. Berhasil tidak dipuji, matipun tidak dikenali.

Komentar