BUYA SYAFII MAARIF, HARAPAN TERUS ADA

Oleh: Syafiq Hasyim

 

Siapa yang tidak tahu Buya Syafii Maarif ini. Tokoh Muhammadiyah dan tokoh nasional penting yang masih tersisa pada zaman ini. Mestinya, orang seperti saya, berharap pada mereka yang masih muda untuk Indonesia ke depan. Tapi harapan seperti ini buat saya tidak berlaku pada Buya Syafii yang sudah menua.

Harapan saya pada Buya Syafii untuk menjaga Indonesia lebih baik, jauh lebih besar daripada harapan saya pada kaum cerdik-pandai yang muda-muda itu. Sebagai orang awam, saya benar-benar melihat sosok Buya Syafii Maarif, dalam usia yang 86 tahun ini, memberikan energi besar buat kita semua.

Buya berada dalam medan pertempuran publik. Beliau tidak hanya Begawan, namun juga berada di lapangan. Alasannya sederhana: Dalam usia yang sudah sepuh ini apa yang dikatakan dan dilaksanakan oleh Buya Syafii adalah hal yang penuh dengan konsistensi antara yang seharusnya dan yang dilaksanakannya.

Buya Syafii tetap seorang yang bisa berpikir bening (clear) dan sesuai dengan harapan hati nurani kebanyakan orang. Bahkan dalam menyuarakan pujian, kritik, sarkasme, Buya Syafii mampu melakukannya dalam waktu dan konteks yang selalu pas.

Pada saat semua tokoh diam atas gerakan vigilante keorganisasian keagamaan, Buya Syafii mengeluarkan pernyataan soal perang terhadap “preman berjubah.” Pada saat itu semua orang merasa takut untuk mengomentari fenomena vigilante yang dilakukan oleh FPI, FUI, dan organisasi-organisasi keagamaan vigilante lainnya, namun Buya Syafii dengan tanpa gentar mengatakan jika mereka adalah “preman berjubah.”

Pernyataan ini jelas mengundang kontroversi, apalagi itu dinyatakan oleh mantan ketua organisasi keagamaan Islam terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah. Karenanya, Buya Syafii juga mendapatkan kritik atas pernyataan di atas, terutama dari pihak yang memiliki kesamaan dengan organisasi preman berjubah.

Menurut mereka yang tidak sependapat, Buya Syafii harusnya tidak mengatakan demikian untuk organisasi-organisasi keagamaan Islam. Menurut yang tidak sependapat, mereka harusnya dididik, bukan dilabeli. Demikian kritik pada Buya Syafii Maarif. Namun Buya jelas tidak bergeser pada pendiriannya. Justru ucapan beliau itu dilatarbelakangi oleh pengetahuan dan pemahaman beliau tentang organisasi Islam vigilante ini.

Memang, jika Buya tidak melontarkan ini, maka apa yang dilakukan oleh FPI dan FUI pada saat itu bisa dianggap oleh masyarakat sebagai bentuk perjuangan agama. Justru dengan ungkapan preman berjubah ini memberikan penyadaran kepada kita semua bahwa meskipun mereka meneriakkan nama Tuhan dan sifat-sifat-Nya, namun itu tidak sesuai dengan tindakan yang mereka lakukan. Meskipun berpakaian jubah, namun perilaku mereka tidak jauh dari perilaku preman, artinya merugikan masyarakat secara luas.

Pada saat kita tidak ada kata untuk maraknya orang-orang yang mendukung dan banyaknya generasi muda yang terlibat dalam tindakan terorisme, terutama mengapa orang rela bunuh diri untuk membunuh orang lain, maka Buya Syafii Maarif mengatakan bahwa terorisme yang ganas itu adalah fenomena orang yang “berani mati takut hidup.”

Ungkapan berani mati takut hidup adalah ungkapan untuk orang yang picik yang ditujukan, terutama untuk pelakunya dan sekaligus juga untuk mereka yang setiap ada tindakan terorisme mereka mengungkapkan simpatinya. Kita tahu bahwa terorisme itu tindakan sejahat-jahatnya, namun di Indonesia ada saja pihak yang masih bisa bersimpati terhadap para teroris.

Alasan mereka yang bersimpati karena mereka para teroris adalah melakukan jalan jihad. Dalam perspektif Buya Syafii, teroris yang dielu-elukan syahid oleh kelompoknya sebenarnya bukan syahid, namun mati sebagai pecundang. Kaum pencundang ini adalah kaum putus asa yang tidak berani menghadapi realitas dan problema hidup yang penuh tantangan. Artinya, tidak mungkin tindakan seperti itu dianggap sebagai jihad, jika mereka mengorbankan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah untuk membunuh pihak lain, bahkan membunuh sesama agama mereka.

Lihatlah korban-korban perbuatan para teroris itu, banyak dari mereka yang justru berasal dari agama yang sama. Jelas sikap itu adalah sikap picik semata. Karenanya, ungkapan Buya Syafii berani mati takut hidup itu merupakan sarkasme yang luar biasa, yang bukan hanya untuk teroris, namun juga untuk mereka yang bersimpati. Mungkin teroris yang melakukan bunuh diri sudah mati, namun mereka yang bersimpati masih hidup, jadi penting agar mereka tahu jika masalah ini adalah masalah yang serius.

Hal yang membuat Buya Syafii selalu memiliki relevansi dalam usia yang tidak muda lagi adalah posisi moral yang selalu dimainkannya. Pasca Buya Syafii menjabat sebagai ketua umum Muhammadiyah, bisa dikatakan seratus persen peran yang diambilnya adalah sebagai penyeru moral kebangsaan.

Meskipun Buya Syafii kini duduk sebagai Dewan Pembina BPIP, namun beliau tidak ragu untuk melontarkan kritiknya tentang pelaksanaan dan penafsiran Pancasila dalam kehidupan bernegara kita akhir-akhir ini. Buya Syafii mensinyalir jika sekarang ini Pancasila mengalami kelumpuhan. Jelas, kritik ini dilontarkan oleh Buya pada kalangan pemegang kekuasaan di negeri ini.

Kira-kira Buya Syafii ingin mengatakan, mbok demi kekuasaan, sebuah ideologi itu jangan digunakan sebagai instrumen untuk mendukung pencapaian kekuasaan tersebut. Keinginan berkuasa jangan sampai menyebabkan para penguasa membuat tafsir Pancasila yang tidak berdasar pada nalar sehat.

Tidak hanya itu, Buya Syafii juga dengan keras melakukan koreksi terhadap perilaku keagamaan yang inginnya mendongkel dan membentur-benturkan Islam dengan Pancasila. Nampaknya, Buya tetap ingin meletakkan posisi Pancasila sebagai ideologi luhur bangsa yang tetap terbuka.

Buya Syafii juga memberikan pembelaan yang genuine terhadap kelompok minoritas. Beliau tidak mau melihat nasib kelompok Ahmadiyah, Syiah dan lain sebagainya, terus mengalami diskriminasi di negeri kita. Perlakuan yang tidak adil pada kelompok ini merupakan pengkhianatan pada sila kedua Pancasila, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Demikian kata Buya Syafii.

Mereka ini adalah warga negara, jadi mereka harus mendapatkan perlindungan dari negara. Buya Syafii bahkan juga tidak segan untuk mengritik MUI agar tidak menjadikan fatwa-fatwanya sebagai hukum positif di negeri ini. Kata beliau, Indonesia ini negeri Pancasila, jika MUI terus menginginkan agar fatwa menjadi hukum positif di negeri ini, maka itu sama dengan menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah.

Sebagai catatan, peran yang selama ini dimainkan oleh Buya Syafii adalah peran yang istimewa, karena kini kita sudah jarang sekali memiliki tokoh seperti beliau. Beliau melakukan pemihakan bukan pada orang dan kelompoknya, namun pada nasib siapa saja yang diperlakukan secara tidak adil dan diskriminatif.

Komentar