YAHUDI DAN ZIONISME ITU BEDA

Oleh: Syafiq Hasyim.

Akibat konflik dan agresi Israel atas rakyat Palestina, pemahaman kita di Indonesia sering menyamakan antara Yahudi dan Zionisme. Seolah-olah semua orang Yahudi adalah Zionis. Keduanya tidaklah sama. Dalam bahasa Arab, Yahudi disebut dengan al-yahud dan Zionisme disebut dengan al-sahuniyyah. Artinya, orang Yahudi belum tentu memiliki ideologi Zionisme.

Yahudi adalah agama yang masuk dalam rumpun agama-agama Ibrahim bersama dengan agama Islam dan juga agama Kristen. Ketiga agama ini memiliki bapak yang sama yaitu Ibrahim. Yahudi melalui Nabi Musa, Nasrani melalui Nabi Isa dan Islam melalui Nabi Muhammad. Ilustrasi tentang Yahudi di dalam al-Quran memang sering sangat menarik dan beragam. Jumlah ayat al-Quran yang menyebutkan orang Yahudi mencapai ratusan.

Al-Quran misalnya melukiskan orang-orang Yahudi sebagai orang-orang yang beriman, namun al-Quran juga melukiskan orang-orang Yahudi sebagai orang yang ngeyel dan licin dan suka dengki pada kaum Muslim. Bahkan kisah-kisah yang seperti ini terus berkembang sampai zaman sekarang, di mana seolah-olah Yahudi itu identik dengan kelicikan dan kengeyelan dan juga sikap permusuhan pada mereka yang beragama Islam. Ini semua soal orang Yahudi dan agama Yahudi yang dilukiskan oleh al-Quran.

Di sini juga perlu saya katakan, jika al-Quran tidak pernah menyebutkan istilah Zionisme. Istilah ini sama sekali baru. Istilah Zionisme baru muncul pada abad modern. Pada tahun 1890, seorang penulis Yahudi asal Austria, Nathan Birnbaum, menulis dalam Majalah Self-Emancipation, di mana istilah Zionisme pertama kali muncul.

Lalu, tujuh tahun kemudian, 1897, Theodor Herzl menggunakan istilah Zionisme untuk penyelenggaraan Kongres Yahudi Pertama. Setahun sebelum Kongres ini, Theodor Herzl menerbitkan bukunya yang berjudul the Jewish State atau Negara Orang-orang Yahudi.

Herzl menyerukan agar orang-orang Yahudi untuk melakukan hijrah ke Israel atau ke Palestina dan mendirikan Negara Israel di sana. Pendirian negeri Israel di Palestina ini akan turut menyelesaikan masalah-masalah yang dialami oleh para diaspora Yahudi. Demikian kata Herzl. Baca sebuah kitab yang ditulis oleh Abdul Wahhab al-Masiri,
موسوعة اليهود واليهودية والصهيونية.

Panggilan orang-orang Yahudi diaspora agar melakukan hijrah ke Palestina ini adalah awal dari upaya pendudukan Israel atas Palestina. Sejarah secara umum menyatakan demikian. Namun, di balik itu, sesungguhnya hijrahnya orang-orang Yahudi diaspora ke Palestina ini justru menjadi awal perseteruan antara orang-orang Yahudi yang agamis dan kelompok Zionis dari orang Yahudi.

Kebanyakan orang-orang Yahudi yang agamis ini tidak setuju dengan Zionisme yang ingin mendirikan negara Israel di Palestina. Yunus Abdul Hamed, seorang pengajar sejarah pada Universitas Islam Gaza, menyatakan jika penolakan orang-orang Yahudi atas Zionisme karena mereka menganggap gerakan Zionisme sebagai gerakan yang harmful, merusak tatanan dunia.

Karena, kalangan Yahudi ini menganggap jika Zionisme itu bukan gerakan agama, namun lebih merupakan gerakan sekuler (harakah ilmaniyyah). Lihat buku Abdul Hamed,
التيارات اليهودية الرافضة للصهيونية.

Karena Zionisme itu gerakan sekuler, maka pendirian negara Israel itu bukan menjadi bagian dari misi agama Yahudi itu sendiri. Ternyata Zionisme sebagai gerakan politik sekuler ini memang hal yang dikehendaki oleh para tokoh gerakan Zionisme awal.

Bertis Smolenskin, yang banyak dipengaruhi oleh Ben Gourian, menyatakan jika visi Zionisme itu memang untuk menduduki Palestina untuk kehidupan dan keamanan mereka orang-orang Yahudi. Cara pandang ini disetujui oleh Max Nordau, tokoh zionisme dari Hongaria.

Saya ingin mengatakan di sini bahwa orang-orang Yahudi yang beragama atau agamis, memang dari awal banyak yang menyatakan ketidaksetujuannya pada gerakan zionisme. Dengan kata lain, Zionisme bukanlah perjuangan keagamaan mereka orang-orang Yahudi.

Di sini kita memang perlu untuk membuat perbedaan yang jelas antara Yahudi dan Zionisme itu sendiri. Yahudi adalah agama, sementara Zionisme adalah gerakan politik penguasaan yang menurut banyak kalangan Yahudi sendiri dianggap sebagai gerakan yang tidak sesuai dengan visi agama Yahudi.

Sekali lagi, karena keduanya berbeda, maka kita harus secara jernih pula menganggap bahwa seorang Yahudi tidak mesti seorang Zionis. Pemahaman kita ini perlu dikemukakan di dalam konteks Indonesia, agar kita tidak membabi-buta menyamakan Yahudi dan Zionisme.

Cara pandang yang membabi buta itu merugikan, tidak hanya bagi orang-orang Yahudi agamis tadi, namun juga bagi orang-orang Islam, karena hal demikian akan membuat citra Muslim sebagai pihak yang sering marah pada mereka yang berbeda agama.

Kita memang harus mengecam gerakan Zionisme atas tindakan ideologinya yang mengakibatkan pengusiran orang-orang Palestina dari tanah mereka, namun Yahudi sebagai agama atau orang-orang yang memeluk agama Yahudi, tidak bisa dipersamakan dengan orang-orang yang mendukung gerakan Zionisme.

Jika ada orang Yahudi yang mendukung Zionisme maka itu bukan salah agamanya, namun Zionisme itu yang harus disalahkan. Hal ini sama dengan problem kita orang Islam, sebagai orang Islam. Jika ada antara orang Islam yang mendukung dan melakukan gerakan terorisme (irhabiyyah), maka yang salah bukanlah agama mereka, namun mereka yang terjerembab dalam terorisme itu sendiri.

Kita sebagai orang Islam sering melakukan standar ganda jika melihat fenomena agama dan keberagamaan agama lain (others). Jika seorang Yahudi, Kristen, Budha, dlsb, melakukan tindakan kekerasan, pembunuhan, dlsb, maka kita buru-buru melakukan judgment jika perbuatan itu disebabkan karena ajaran agama mereka.

Namun ketika hal yang sama menimpa kalangan Muslim, maka mereka minta agar agama mereka tidak dikait-kaitkan dengan perbuatan umat mereka. Kita tahu, setiap tindakan pengeboman, para pemuka agama kita di Indonesia, terutama MUI, langsung membuat barikade dengan statemen bahwa perbuatan teroris mengebom sebuah gereja itu tidak terkait dengan agama si teroris tersebut.

Jelas, saya setuju dengan cara ini, tidak mengait-ngaitkan tindakan seorang teroris dengan agama mereka. Namun, kita harus menerapkan cara pandang itu dengan sikap yang adil. Artinya, pandangan demikian ini kita terapkan, baik untuk orang Islam sendiri, maupun untuk orang yang berada di luar Islam atau agama lain.

Sebagai catatan, dalam situasi yang serba rumit, kita memang harus memelihara nalar kita agar senantiasa bersikap obyektif dan fair. Jika gerakan Zionisme Israel itu terus berlangsung dan bahkan memakan korban, maka jelas itu dilakukan oleh mereka, kaum Zionis, bukan karena agama mereka Yahudi. Hal demikian juga dengan Kristen dan dengan orang Islam, Hindu dan mungkin agama lain. Cara pandang yang demikian ini akan membantu dunia kita untuk menjadi dunia yang lebih sehat dan memiliki masa depan.

Komentar