FIRLI VS NOVEL, ADU KEKUATAN DI KPK

Oleh: Denny Siregar

Sudah sejak lama saya mendengar, kalau serikat pekerja di dalam KPK atau yang dikenal dengan nama Wadah Pegawai KPK, menjadi tuan sebenarnya di dalam Komisi Pemberantasan Korupsi itu. Merekalah yang mengatur apa saja yang dilakukan oleh KPK, perkara mana saja yang bisa dinaikkan dan mana yang harus dibuang. Wadah Pegawai KPK ini begitu kuat dan solid, meskipun terdiri dari berbagai faksi, tapi mereka punya tujuan yang sama yaitu menjadikan KPK sebagai kendaraan untuk kepentingan masing-masing faksi mereka. Orang yang menentang Wadah Pegawai KPK ini, bisa ditendang lewat segala macam cara termasuk pembusukan nama mereka.

Salah satu orang yang terkena hantaman keras dari orang-orang di Wadah Pegawai KPK ini adalah Aris Budiman. Irjen. Pol. Aris Budiman, yang sekarang menjabat Kapolda Kepri, yang pertama kali membongkar ada pemufakatan di dalam KPK. Aris waktu itu menjabat Direktur Penyidik di KPK. Dia sempat berseteru dengan Novel Baswedan yang dibilangnya sebagai “orang berpengaruh” dan “bisa mempengaruhi kebijakan”. Aris kemudian kalah ketika menghadapi desakan dari Wadah Pegawai KPK dan keluar dengan segala propaganda busuk tentang dirinya.

Novel Baswedan sempat mengepalai Wadah Pegawai KPK ini, dan sekarang komandonya diberikan ke Yudi Purnomo. Mereka itu sebelas-duabelas, gak ada bedanya. Karena memang Wadah Pegawai KPK ini harus dikepalai oleh orang-orang mereka, sesuai dengan misi dan kepentingan mereka.

Dan Revisi UU KPK salah satu tujuannya adalah membubarkan Wadah Pegawai KPK ini, yang semakin lama semakin politis dan berakar di sana. Tidak ada pegawai baru di KPK yang tidak melalui wadah pegawai ini. Dalam artian, kelompok mereka bisa memilih dan membentuk kader-kader mereka di dalam supaya cengkeraman mereka terhadap KPK semakin kuat. Dengan adanya Revisi UU KPK, maka seluruh pegawai di dalam KPK harus menjadi pegawai negari atau ASN. Dan ASN tidak punya wadah pegawai lainnya selain daripada Korpri. Dengan begitu, Wadah Pegawai KPK harus bubar dan berganti baju baru.

Inilah yang tidak diinginkan sebagian orang di dalam KPK, terutama mereka yang selama ini merasakan “manfaat” dengan adanya Wadah Pegawai KPK. Mereka dulu terbiasa mengatur KPK, dan sekarang mereka harus diatur oleh negara. Mereka kemudian berontak. Sejak Revisi UU KPK, orang-orang di Wadah Pegawai KPK inilah yang terus berdemo dengan memainkan narasi kalau “KPK sedang dilemahkan” dan “Jokowi pro-koruptor”. Narasi ini terus diulang-ulang lewat jaringan teman-teman media mereka. Berharap ada perlawanan dari masyarakat kepada pemerintah dan mengembalikan KPK seperti dulu, seperti saat waktu mereka berkuasa.

Tapi usaha orang-orang di Wadah Pegawai KPK itu gagal total. Ketua KPK yang baru, Firli Bahuri bukan orang yang gampang ditekan begitu saja. Pengalamannya sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus di Kepolisian, bisa mencium aroma busuk di dalam KPK dengan adanya Wadah Pegawai KPK itu. Lalu bersama Badan Kepegawaian Negara dan Kemenpan RB, mereka sepakat mengadakan tes wawasan kebangsaan khusus di dalam KPK untuk bisa tahu masing-masing psikologi para pegawai KPK yang rata-rata sudah bekerja sangat lama di sana.

Dan di sinilah keributan baru terjadi. Orang-orang KPK lama, dipimpin oleh Novel Baswedan, kemudian melakukan perlawanan. Mereka terus menerus memainkan propaganda kalau tes kebangsaan yang mereka dapatkan, tidak sesuai dengan keilmuan mereka. Novel Baswedan dan kawan-kawan bahkan meminta Presiden Jokowi untuk membatalkan pemecatan orang-orang yang dianggap tidak lulus tes wawasan kebangsaan. Aneh, kan? Kemarin menuduh Jokowi pro-koruptor, sekarang malah minta bantuan ke beliau.

Tentulah ada udang di balik sambal. Novel Baswedan dan kawan-kawan ingin menyeret Jokowi ke medan perang mereka. Dengan begitu, mereka berharap gaung keributan itu akan semakin membesar dan mereka mendapat keuntungan dalam bentuk promosi. Tetapi Jokowi pintar. Dia lalu menyerahkan semua permasalahan di dalam KPK kepada KPK sendiri. Dia hanya menyampaikan supaya pegawai yang tidak lulus tes kebangsaan tidak dipecat, tetapi dibina saja, meskipun tidak jelas juga, apa maksud dibina itu. Yah, mungkin saja dari proses pembinaan itu bisa ketahuan kalau pegawai KPK yang tidak lulus tes, ternyata punya bakat lain yang lebih mumpuni daripada jadi penyidik atau penyelidik di KPK. Banyak kerjaan di dalam KPK, seperti contohnya jadi vas bunga atau jadi lukisan. Siapa tahu mereka berbakat di sana.

Novel Baswedan tahu kalau Jokowi jauh lebih pintar dari dia dalam masalah trik dan strategi. Karena itu dia ingin memperluas medan perangnya, dengan mengajak Persekutuan Gereja Indonesia atau PGI. Novel ingin memperbesar pasukannya. Mereka yang tidak lulus tes kemudian datanglah ke PGI, yang ndilalah, cepat sekali reaksinya daripada saat mengurus izin gereja-gereja umatnya. Sorenya, Ketua PGI langsung konferensi pers berkata akan mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi perkara “pelemahan KPK”.

Reaksi yang datang dari umat Kristen, mungkin tidak disangka oleh PGI. Alih-alih dapat pujian, bullyan kemudian datang dari mana-mana, mempertanyakan apa maksud PGI masuk ke ranah politik KPK bukannya fokus mengurusi umat mereka? PGI mungkin ingin mengikuti jejak saudaranya di MUI, yang sering ikut campur urusan yang bukan dalam kapasitasnya. Kenapa? Ya soalnya lebih ngetop ternyata, daripada ngurusin umat gak ada pemberitaan.

Novel Baswedan sukses menyeret PGI ke dalam pertarungannya, tetapi gagal total menyeret umat Kristen. Novel kira umat Kristen bodoh mau diperalat untuk kepentingan politik pribadi dia dan kawan-kawannya? Meskipun begitu ada juga beberapa komentar lucu dan positif menangggapi kunjungan Novel Baswedan ke PGI itu. Mereka menduga, siapa tahu Novel datang ke PGI untuk menerima pertobatan dan pindah agama. Ya, harus disambut dengan suka cita lah.

Perang di tubuh KPK ini sudah sejak awal saya prediksi seru. Karena lawan Novel Baswedan kali ini bukan orang sembarangan. Bisa saya bilang, dari semua Ketua KPK yang pernah ada di sana, baru Firli Bahuri lah yang terkuat. Dia tetap kokoh meski dapat hantaman dari mana-mana. Firli tidak peduli, dia tetap fokus menjalankan tugasnya, yaitu membersihkan KPK dari orang-orang busuk yang mencari makan di sana.

Persis seperti yang saya bilang dulu waktu Firli Bahuri dilantik menjadi Ketua KPK baru, “Hanya polisi yang bisa mengalahkan seorang mantan polisi.”

Novel masih didukung orang-orang setianya yang dulu tergabung di Wadah Pegawai KPK. Bahkan ada kabar, 400 pegawai KPK yang lolos tes wawasan kebangsaan menolak pelantikan menjadi ASN. Ada ikatan nostalgia di antara mereka semua untuk melawan Ketua KPK yang baru, Firli Bahuri.

Komentar