ANCAMAN “PREMAN” DI SIDANG RIZIEQ!

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Siang tadi kembali digelar sidang putusan untuk kasus pelanggaran protokol kesehatan. Terdakwanya Rizieq Shihab. Orang menyebut dia imam besar. Sementara kita gak tahu sampai sekarang, apanya yang besar?

Emang sih, kalau kita perhatikan sudah macam-macam gaya yang dikeluarkan Rizieq dalam menjalankan persidangan. Tujuannya untuk menunjukkan kekuatan dan ancaman. Maksudnya, kalau dia nanti mengancam hakim dan jaksa, agar hakim dan jaksanya takut.

Agar jaksa misalnya, gak berani mengungkap fakta yang terjadi sebenarnya. Sedangkan hakim takut gak berani memutus perkara dengan benar.

Intinya dalam proses persidangan itu, Rizieq mau melakukan psywar di ruang sidang.

Caranya ya macam-macam, mulai dari memaki-maki jaksa dengan kata yang kasar. Mengutip teks agama secara serampangan untuk membela diri. Juga menuding-nuding saksi yang disebutnya sebagai pembohong.

Untung saja saksinya, Walikota Bogor, Bima Arya menjawab dengan tegas. “Anda yang bohong, Bib!” ujar Bima Arya ketika dia membalas tudingan Rizieq tersebut.

Iya, bener kata Bima Arya. Rizieq berbohong saat dirawat di RS Ummi di Bogor. Ia menyembunyikan hasil test Covid-19. Padahal hasilnya reaktif. Tapi ia gak mau ngaku.

Perilaku itu menunjukkan Rizieq emang gak peduli dengan orang lain. Kebohongannya tentang kondisi kesehatannya kan berisiko menularkan orang-orang yang sehat.

Tapi emang, kalau dilihat dari kebiasaannya, dia emang gak pernah peduli dengan keselamatan orang. Yang penting dia bisa main drama.

Bukan hanya mengintimidasi persidangan. Gerombolan pendukungnya juga berkali-kali menggelar aksi di luar sidang. Pengacaranya bahkan kedapatan bawa-bawa parang di mobilnya.

Saat dikonfirmasi buat apa parang itu, pengacara Rizieq ngakunya buat ngupas mangga. Gila kan? Itu pengacara apa tukang rujak?

Soal parang buat ngupas mangga sebetulnya sih belum seberapa. Pendukung Rizieq yang lain malah mau meledakkan Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Untuk intimidasi, targetnya, agar Rizieq dibebaskan. Salah satu tempat yang akan diledakkan adalah kantor pengadilan tempat Rizieq disidang. Kantor Pengadilan Jakarta Timur.

Untung aja polisi sigap. Orang-orang seperti Husein Hasni, Zulhaimi dan beberapa pentolan perencana aksi teror langsung digulung oleh polisi. Di markas mereka di Condet, ditemukan berbagai bahan kimia yang sudah diracik sebagai bahan dasar bahan peledak dan daya rusaknya tinggi.

Kata polisi, diperkirakan dari bahan peledak yang ditemukan saja mereka bisa membuat 200 buah bom. Iya, 200 buah dengan daya ledak yang tinggi. Karena selain Jakarta, yang mau dihancurkan adalah kota-kota besar lainnya. Alat-alat itu, atau bahan-bahan itu akan dikirim ke berbagai kota.

Jadi persidangan Rizieq itu memang dirancang sebagai salah satu momentum untuk membuat kerusuhan di Jakarta. Sasarannya jelas, toko-toko milik warga Tionghoa, SPBU, kantor polisi atau kantor TNI, dan fasilitas publik lainnya.

Nah, tadi tuh, menjelang sidang, massa mau dikerahkan lagi. Poster-poster disebar. Katanya persidangan Rizieq menyakiti hati umat!

Hallo? Umat mana yang disakiti? Adanya juga Rizieq menyakiti umat yang tadinya sehat, karena dia gak mau jujur tentang kondisi kesehatannya menyangkut Covid-19. Kan dia bisa membuat droplet, bisa membuat orang yang sehat jadi sakit. Ketularan dropletnya.

Apalagi kalau ngomong mangapnya gede banget.

Sebetulnya ya kalau kita perhatikan, pola menekan proses hukum dengan ancaman seperti ini, dengan massa, dengan ancaman segala macam, itu emang ciri khas Rizieq dan gerombolannya. Cara-cara preman dilakukan untuk menawar proses hukum.

Baik buat membebaskan orang segolongan yang terkena kasus hukum, maupun untuk menekan musuh-musuh politiknya agar dihabisi.

Kita ingat dong kasus 212. Bagaimana gerombolan ini menekan hukum agar Ahok diadili. Juga kasus Ibu Meliana di Tanjung Balai Asahan. Didemo habis-habisan. Dibakar kotanya agar Ibu Meliana diadili.

Kini yang dilakukan sama. Demo. Kirim ancaman. Bikin bom. Tujuannya apa? Tujuannya untuk menekan para penegak hukum agar mereka takut. Dan jaksa dan hakim ini jadi ngeri. Kenapa? Karena mereka takut dengan tekanan massa.

Dari berbagai kasus hukum Rizieq yang menjerat. Persidangan ini sebetulnya baru satu kasus. Akan ada lagi kasus-kasus lain yang bakal digelar. Salah satunya kasus chat esek-esek itu.

Kita sih, percaya para penegak hukum akan bekerja dengan baik. Tugas kita menyuport aparat menegakkan hukum seadil-adilnya.

Soal demo-demo itu, soal poster yang ngajakin orang turun ke jalan untuk membebaskan
Rizieq itu udah enggak zaman di zaman sekarang. Sekarang hukum harus bicara. Harus tegas. Jangan mau lagi diintimidasi dengan massa. Jangan mau lagi diintimidasi dengan isu kriminalisasi ulama.

Tugas kita sebagai rakyat Indonesia itu menyuport para aparat penegak hukum. Agar mereka bisa menegakkan hukum secara benar, secara adil. Gak peduli dengan status atau golongan sosial siapapun.

Kalau ada WNI yang memang melanggar hukum ya disidang, diputuskan dengan benar kalau memang terbukti bersalah ya dihukum. Tugas kita itu, menyuport aparat dan mengabaikan orang-orang yang menekan hukum dengan gaya preman berjubah.

Sebab ini Indonesia. Kitalah yang harus menjaganya.

Komentar