TGUPP-NYA ANIES LEMBAGA GHOIB ATAU LEMBAGA INTELIJEN?

Oleh: Faldo Maldini

 

Banyak yang salah sangka. Banyak juga yang berpikir, TGUPP adalah bagian dari Satpol PP, karena sama-sama PP. TGUPP, makhluk apa sih itu?

Saya dari awal agak heran dengan fungsi TGUPP ini. Jumlahnya banyak dan fungsinya gak jelas. Baru-baru ini, malah urusan TGUPP ini dibahas serius di DPRD. Ada oknum yang bernama AW yang sedang menjadi sorotan. Sebenarnya, ini jabatan sepenting apa sih?

Tim gubernur Anies ini mengeluarkan anggaran miliaran rupiah. Tahun 2019 lalu jumlahnya di angka Rp19.8 miliar, kemudian sempat diajukan kenaikan sampai Rp27 miliar. Dalam kondisi Covid-19, potongan gaji mereka hanya 25%, sementara jajaran birokrasi lainnya dipotong sampai 50%. Gokil.

Ditambah lagi keajaiban tim ini, anggota TGUPP hanya bisa berhenti dengan cara, satu mengundurkan diri, dua tersandung kasus hukum, tiga meninggal, dan yang keempat sakit. Ini sama dengan aturan ASN yang diatur dalam perundang-undangan kita. Kuat sekali lembaga ini.

Padahal, rekruitmen mereka jauh berbeda dengan ASN, yang lebih terukur dan terstandardisasi di seluruh Indonesia. TGUPP cenderung lembaga yang tertutup. Apakah ini mirip warung remang-remang?

Coba kita bicara dari secara good governance, tata kelola yang baik, harusnya seorang kepala daerah mengoptimalkan peran birokrasi. Dalam Perencanaan ada Bappeda, dalam pengawasan ada inspektorat. Internal kontrol sebenarnya sudah sangat banyak instrumennya di dalam birokrasi kita.

Namun, ada lembaga baru seperti ingin melangkahi dan mengesampingkan pembenahan birokrasi yang bersih dan profesional. Ini yang jadi masalah. TGUPP ini lembaga tingkat dewa. Kebal sama urusan begituan.

Mikir gak sih? Bayar gaji PNS dan karyawan saja sudah triliunan rupiah, bahkan 50% dari APBD DKI Jakarta, yakni 60-85 triliun rupiah. Ini masih ditambah lagi ngurusin TGUPP yang gak jelas fungsinya. Jumlahnya, sekali lagi, gak kira-kira banyaknya.

Fungsi TGUPP ini sudah ada di semua jajaran birokrasi. Kalau tidak percaya dengan kerja birokrasi, TGUPP sepertinya bisa ambil alih semuanya, bahkan menghajar birokrat yang bersangkutan. Tapi itu tidak terjadi. TGUPP hanya jadi lembaga pajangan.

Pemerintah Bapak Anies Baswedan tidak pro kepada birokrasi yang bersih, efisien, dan rasional. TGUPP yang habiskan dana miliaran rupiah, untuk mengerjakan pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh levelan staff magang. Ini kan pemborosan.

Kembali lagi ke soal pembahasan DPRD terkait sosok TGUPP yang berinisial AW. Sekarang, publik bertanya-tanya, siapakah anggota TGUPP berinisial AW ini yang dibahas DPRD itu?

Aneh sekali, orang sampai tidak tahu siapa saja anggota TGUPP ini, bahkan terkesan dirahasiakan, ini sudah kayak film hollywood mata-mata Rusia. Alasannya mengundurkan diri apa? Ini kan tidak transparan kepada publik. TGUPP ini bahkan menjadi lembaga ghoib di dalam birokrasi Jakarta.

Banyak pekerjaan rumah untuk membenahi birokrasi, agar profesional. Namun, Pak Anies lebih percaya pada lembaga detektif partikelirnya. Kita tidak pernah tahu, ada transaksi apa yang terjadi di dalam TGUPP? Dan kita tidak pernah tahu, karena tidak terbuka, siapa yang akan evaluasi?

Tapi namanya juga lembaga ghoib. Semuanya serba rahasia ya.

Ada baiknya, BPK turun untuk mendalami pemanfaatan anggaran TGUPP ini, apakah benar-benar menjawab kepentingan publik, atau ada kepentingan lain yang disembunyikan. Semacam, jadi mesin politiknya Mas Anies.

Akibat praktik lembaga ghoib ini, Saya lebih khawatir birokrat cerdas dan berprestasi malah tidak mendapatkan dukungan. Semuanya harus lewat persetujuan TGUPP. Mesti kulonuwun dulu untuk menyenangkan mereka. Sehingga birokrat tidak ada motivasi lagi dalam bekerja.

Saya menduga, inilah yang menyebabkan banyak birokrat malas naik pangkat karena lingkungan kerjanya yang tidak mendukung. Kecurigaan saya, TGUPP ini menghambat mereka.

Jadi Pak Gubernur Anies, kalau TGUPP ini ga mau dibubarkan, tolonglah sedikit berempati. Kasihan Pak, warga yang susah di kala pandemi ini di Jakarta, uangnya digunakan untuk kepentingan yang ghoib. Untuk membiayai lembaga yang gak jelas, yang jumlah orangnya banyak sekali.

Komentar