APA KABAR, KAPOLRI BARU?

Oleh: Denny Siregar

 

Salah satu momen yang paling membekas buat saya di media sosial adalah sekitar tahun 2011, di sana ada peristiwa pembantaian warga Ahmadiyah di Cikeusik Banten.

Peristiwa itu divideokan oleh para pelaku dan viral di media sosial, tanpa sensor. Saya terenyuh juga takut, karena di sana saya melihat ada beberapa anggota kepolisian yang berjaga, tapi mereka kelihatannya tidak berdaya dan diam saja melihat kekejian yang berlangsung di depan mata. Hukum pada waktu itu menjadi begitu lemah, sedangkan kelompok radikal menjadi begitu berkuasa. Itulah momen-momen awal saya terjun menjadi aktivis di media sosial sampai sekarang dengan niat untuk memperbaiki keadaan yang sudah sangat rusak ketika ormas-ormas garis keras itu dibiarkan berkeliaran.

Dan, alhamdulillah, apa yang saya harapkan sejak lama sudah mulai terwujud. Aparat kepolisian sudah mulai menampakkan jati dirinya sebagai penegak hukum yang tegas. Ormas-ormas garis keras itu sudah dibubarkan dan petinggi-petingginya sudah banyak yang ditangkap. Saya, dengan rasa hormat yang sangat tinggi, harus mengangkat secangkir kopi untuk kepolisian Republik Indonesia sekarang ini.

Saya jujur tertarik dengan model kepolisian sekarang yang lebih mengedepankan konsep humanisme dibandingkna kekerasan. Konsep humanis ini pertama kali saya lihat ketika ada peristiwa pemberontakan di Mako Brimob Kelapa Dua tahun 2018 lalu. Meskipun ada anggota polisi yang gugur di sana, tapi polisi tidak membalas dendam. Mereka menangkapi 150 pelaku dan menyerahkannya kepada hukum. Padahal aparat kita sangat bisa bertindak keras, mereka senjata ada, kekuasaan ada, apapun bisa mereka lakukan di sana. Tetapi kepolisian kita malah memberi makan para pelaku pembunuhan itu di jalan, sebagai bagian dari hak asasi manusia.

Juga waktu ada kerusuhan di depan KPU bulan Mei 2019, kepolisian kita sudah menaikkan standar humanismenya dengan mengedepankan gaya bertahan daripada agresi, yang akhirnya membuat kerusuhan itu tidak jadi meluas. Meski begitu ketegasan tetap ada, tapi tidak perlu terlihat dengan menangkapi aktor-aktor kerusuhan ketika lapangan sudah mulai mereda. Ada satu momen yang menyentuh hati publik termasuk saya, ketika gambar polisi sedang berjaga di malam hari dan video-call dengan anaknya di rumah. Kepolisian berhasil memainkan kampanye untuk membangkitkan kecintaan masyarakat kepada aparat.

Kapolri baru, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menaikkan lagi standar humanisme di aparat kepolisian dengan konsep restorative justice. Apa sih restorative justice itu? Ini model baru dalam kepolisian yang digagas oleh Kapolri. Restorative justice bisa dibilang adalah upaya pendekatan antara dua orang yang bermasalah, supaya tidak selalu masuk ke wilayah hukum.

Polisi menjadi penengah masalah dan berusaha supaya semua berakhir damai dalam kesepakatan di atas kertas yang bermeterai. Dan model pendekatan inilah yang sering disalahpahami publik kalau semua masalah bisa selesai asal membawa meterai. Padahal polisi tidak ingin penjara penuh hanya karena masalah-masalah sepele yang bisa diselesaikan dengan cara mendamaikan kedua belah pihak. Baru kalau ada kejahatan berat, hukum benar-benar ditegakkan.

Tidak semua orang bisa menerima pendekatan baru kepolisian yang digagas oleh Kapolri ini, sehingga akhirnya munculah sindiran-sindiran dalam bentuk meme kalau semua masalah bisa berakhir dengan meterai Rp10 ribu. Tapi hasil akhirnya bisa kita lihat, kalau kebencian yang terbentuk di media sosial dan di lapangan itu menurun drastis, meski tetap saja ada yang berusaha memainkannya kembali.

Dan pendekatan humanis kepolisian ini juga berdampak pada begitu dekatnya hubungan kepolisian sama rakyat, sehingga banyak orang yang bahkan tidak ada takutnya sama polisi. Mereka membentak polisi dan viral di media sosial. Tapi yang menarik, polisi di jalan tidak terpancing untuk melakukan kekerasan. Mereka memviralkan pelaku pembentakan pada polisi itu sebagai bagian dari kampanye kehumanisan polisi. Meski begitu, di belakang ada tim khusus yang menangkap para pembentak polisi yang viral. Polisi malah sekarang dianggap terlalu lunak pada orang-orang yang memaki polisi dan malah terkesan lembek.

Meski begitu, polisi tetap bertahan dengan gaya barunya yang mengurangi dampak kekerasan. Saya harus apresiasi pada Kapolri baru ini. Dalam 100 hari kerjanya, sudah hampir 2000 kasus diselesaikan dengan cara pendekatan atau restorative justice. Bayangkan kalau gak ada model beginian, 2000 orang bisa masuk penjara karena kasus hukum yang tidak begitu berat dan akhirnya menjadi beban buat negara.

Selain itu, Kapolri juga meluncurkan yang namanya Virtual Police untuk mengamati media sosial yang sering dipakai sebagai ajang penyebaran hoax. Dengan Virtual Police, bisa dipilah mana yang pembuat hoax dan mana yang hanya sekadar menyebarkan dengan ketidaktahuannya. Yang menyebarkan karena tidak tahu kalo itu hoax, akan diperingatkan oleh Virtual Police bahwa berita yang mereka sebarkan itu hoax. Tetapi pembuat hoax yang memang berniat ingin memecah belah, terus diburu oleh polisi dan dimasukkan ke penjara.

Memang sih tidak ada yang sempurna, termasuk pembenahan di dalam kepolisian negara. Meski begitu, kemampuan polisi beradaptasi dengan kejahatan di internet harus kita apresiasi. Dan dalam 100 hari kerjanya, Kapolri sudah menunjukkan progres yang luar biasa, meski kadang di bawah, beberapa anak buahnya belum bisa memahami model kinerja baru Kapolri.

Sebagai contoh, waktu ada keributan masalah Timur Tengah dan di TikTok terjadi penghinaan-penghinaan, Polda NTB menangkap seorang cleaning service remaja yang dianggap menghina. Ini memunculkan reaksi besar di publik, kok ada perbedaan dalam penangkapan masalah penghinaan ini? Katanya ada model pendekatan. Untunglah, gak lama kemudian, remaja itu tidak jadi ditangkap dan hanya diberi teguran supaya tidak lagi mengulangi perbuatannya.

Kita semua berharap, polisi semakin profesional di bidangnya juga transparan dalam pelaksanaannya. Dan untuk hasil kerja Kapolri yang baru 100 hari ini, bolehlah kita mengangkat secangkir kopi sebagai tanda apresiasi.

Komentar