DI JAUH SANA ADA P4LESTIN4, DI DEKET SINI ADA AHMADIYAH

Oleh: Syafiq Hasyim

 

Umat Islam Indonesia memang selalu merasa memiliki solidaritas sesama. Meskipun bukan sebangsa dan satu negara, namun umat Islam Indonesia selalu ada untuk rakyat Palestina. Kuncinya karena rakyat Palestina dianggap sebagai bagian dari umat Islam.

Keduanya antara umat Islam Indonesia dan umat Islam Palestina memiliki identitas agama yang sama. Sama-sama sebagai pemeluk agama Islam. Memang rakyat Palestina sebenarnya tidak semua beragama Islam. Mereka yang menjadi korban Israel juga tidak semuanya Muslim, namun umat Islam Indonesia tetap mencurahkan solidaritas keislaman internasional mereka.

Persoalan Palestina dan Israel memang bukan hal yang mudah dipahami, apalagi diselesaikan. Sejarahnya rumit sejak dari sananya. Baik orang Islam, Kristen maupun Yahudi memiliki sejarah dengan tanah Palestina. Orang Islam menganggap bahwa Israel telah merebut negeri Islam yang konon ditaklukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Ya, benar bahwa Umar bin Khattab berhasil menaklukkan Yerusalem, kota suci bagi tiga agama, pada 637 M. Ketika Umar menaklukkan Yerusalem dari kekuasaan Bizantium, Umar langsung melakukan pembangunan atas kota ini.

Sebelumnya, Umar dan Patriach Sopronius meneken perjanjian. Isi perjanjian mereka berdua adalah jaminan keselamatan Umar atas penduduk Yerusalem atas tanah mereka, gereja mereka, salib mereka, sakit dan sehat kota ini dan seluruh ibadah yang mereka laksanakan.

Gereja tidak akan dihuni oleh orang Islam dan juga tidak akan dirusak orang Islam. Perjanjian ini juga menyatakan jika mereka tidak akan dipaksa untuk pindah agama. Orang Yahudi, dalam perjanjian ini, juga tidak akan hidup dengan mereka di Yerusalem. Orang-orang Yerusalem harus membayar pajak pada pemerintahan Muslim.

Dari sejarah ini kita tahu jika Yerusalem memang bukan milik asli kekuasaan Islam, namun diambil dari kekuasaan Bizantium. Bahkan Persia juga pernah menguasai Yerusalem. Kata Palestina sendiri sebenarnya bukan istilah asli Arab. Kata ini berasal dari kata Yunani, Philistia, yang diberikan oleh para penulis Yunani pada abad 12 sebelum penanggalan Kristen (BCE).

Philistia adalah nama untuk sebongkah tanah di antara Tel Aviv (modern) dan Gaza. Pada abad 2 Era Penanggalan Kristen, orang-orang Romawi menyebutnya Syiria Palaestina karena memang ini bagian dari negeri Syiria pada masa itu. Menurut kalangan ahli sejarah, yang disebut wilayah Palestina memang selalu tidak jelas teritorinya, bahkan sejak sebelum ditaklukkan oleh Islam melalui Umar bin Khattab.

Terlepas sejarah panjang ini, Palestina terutama dengan Yerusalemnya adalah memang kota yang menjadi klaim dari tiga agama yang kita kenal saat ini sebagai agama langit.

Pada abad modern, pasca-kemenangan tentara Israel dalam perang 6 hari, tepatnya tahun 1967, umat Islam menganggap telah kehilangan wilayah mereka. Kekalahan dunia Islam pada perang itu ditambah dengan dukungan internasional atas Israel, menjadikan Israel semakin kuat mendominasi wilayah-wilayah negeri-negeri Muslim.

Ada sebagian Mesir, ada sebagian Lebanon, ada sebagian Syiria, dlsb. Israel berhasil menjadi negara dan Palestina berusaha melakukan perebutan kembali atas wilayah yang mereka klaim. Ada banyak kelompok yang ikut berjuang dan ingin kembali mengambil tanah-tanah yang diokupasi oleh Israel sekarang ini.

Sayang sekali, perlawanan mereka terpecah. Negara-negara Arab Muslim juga terpecah dan bahkan negara-negara besar seperti Mesir dan Turki harus tetap membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Ya, kita memang sedih melihat nasib orang-orang Palestina yang diusir dan dibunuh oleh orang-orang Israel. Wajar jika umat Islam di Indonesia, bahkan di seluruh dunia memberikan solidaritas atas mereka.

Namun, solidaritas internasional kita jangan sampai melupakan masalah yang hampir-hampir sama dengan yang dialami oleh orang-orang Palestina. Jika saya boleh mengatakan di sana ada rakyat Palestina, di kita, di negeri kita di Indonesia, ada warga negara Indonesia, Ahmadiyah yang kebebasan mereka sampai kini belum jelas. Konon Ahmadiyah sudah tiba di tanah air, sejak 1924, ikut mendirikan negeri ini.

Namun nasib mereka, karena sebagai pengikut Ahmadiyah, dianggap sebagai warga negara Indonesia yang lain. Mereka mengalami stigmatisasi, persekusi, marginalisasi, serta diskriminasi. Siapa yang melakukan itu semua? Kita, kelompok arus Muslim utama di negeri kita ini.

Tahun 2005 pecah. Pusat Ahmadiyah di Bogor diserang oleh kelompok utama Muslim atau kelompok mainstream. Tempat mereka dihancurkan dan orang-orang mereka juga ada yang menjadi korban mati maupun luka.

Tidak hanya berhenti di situ, pada tahun-tahun berikutnya, ada Tragedi Cikesik, Tragedi Lombok, mereka mengalami persekusi. Korban juga banyak berjatuhan. Puncaknya, 2008 pemerintah mengeluarkan SKB 3 Menteri tentang Ahmadiyah yang intinya adalah membekukan kegiatan Ahmadiyah di ruang publik.

Berdasarkan SKB ini kegiatan ibadah mereka terhenti di ruang publik. Artinya, masjid-masjid mereka tidak berpenghuni lagi. Jangankan membangun masjid, menggunakan masjid yang sudah ada saja mereka tidak diperbolehkan. Setiap ada usaha membuka masjid yang sudah digembok bertahun-tahun, maka upaya untuk menghentikannya datang. Kelompok arus utama Muslim bergerak untuk menutup kembali masjid yang akan mereka buka.

Saya bayangkan, ketika SKB 3 Menteri soal Ahmadiyah yang diteken pada zaman Pemerintahan SBY dan JK saat itu, sebagai upaya transisional mencari penyelesaian yang lebih mapan berdasarkan pada pondasi hukum dan kemanusiaan, serta kewarganegaraan yang kuat.

Namun ternyata sampai kini tidak ada upaya untuk melihat kembali SKB Tiga Menteri tentang Ahmadiyah tersebut. Saya pikir bahwa SKB itu bukan permanen, namun sampai rezim sekarang, belum ada upaya untuk mencarikan jalan keluarnya. Terutama, bagaimana nasib orang Ahmadiyah di Indonesia tetap sama sebagaimana nasib orang Palestina.

Beberapa saat lalu, komunitas Ahmadiyah di Garut berusaha untuk membangun kembali masjid mereka, namun penguasa lokal menghalanginya. Bupati yang seharusnya menjadi Bapak dari seluruh warga negara di kabupaten Garut tersebut, tanpa melihat latar belakang keyakinan warga mereka, telah bertindak diskriminatif pada warga yang ingin melaksanakan keyakinan mereka.

Ini adalah ironi besar yang kita hadapi bersama dan solidaritas kita atas orang-orang Ahmadiyah sangat jauh dan rendah sekali apabila dibandingkan dengan solidaritas kita atas saudara-saudara kita di Palestina. Jika kita ini manusia, maka seharusnya solidaritas pada saudara kita yang Ahmadiyah itu sejajar dengan solidaritas-solidaritas untuk kemanusiaan lainnya.

Sebagai catatan, apa yang dialami oleh orang-orang Palestina yang sudah bertahun-tahun memiliki masalah kemanusiaan atau kita anggap sebagai masalah kemanusiaan. Demikian juga, apa yang dialami oleh orang-orang Ahmadiyah di Indonesia adalah juga merupakan masalah kemanusiaan. Karena dua-duanya adalah masalah kemanusiaan, maka dua-duanya harus mendapatkan solidaritas yang sama besar dari kita semua. Mari kita teguhkan solidaritas kemanusiaan kita untuk Palestina dan juga solidaritas kemanusiaan kita untuk warga Ahmadiyah.

Komentar