POLRI DIMAKI, POLRI DICINTAI

Oleh: Ade Armando

 

Di era Idulfitri kali ini, ada pemandangan menarik di media massa dan media sosial kita. Salah satunya adalah soal polisi. Kita terus menyaksikan bagiamana polisi harus dengan sabar tapi tetap tegas melawan warga +62 yang ngotot ingin mudik.

Pemandangan polisi dimaki-maki lazim kita lihat. Salah satu yang terkenal adalah video penumpang perempuan berjilbab yang memaki-maki polisi dengan sebutan anjing. Sebetulnya yang mulai memaki adalah penumpang pria yang marah besar karena kendaraannya harus berputar.

Tapi yang epic memang si ibu yang dengan sombong memaki: “Anjing kamu!” ke arah polisi. Begitu juga juga ada TikTok perempuan berjilbab bernama Ressa yang bilang bahwa polisi lebih sibuk menangkapi pemudik daripada koruptor.

“Ini Indonesia kenapa sih? Sekarang polisi sibuk banget nangkapin orang-orang yang mudik, alasannya corona,” kata Ressa dengan gaya alay.

Menurutnya, mau mudik ataupun tidak, pandemi Covid-19 masih akan tetap berlangsung. Namun, untuk pulang kampung belum bisa diketahui apakah tahun depan masih punya waktu berkumpul dengan keluarga atau tidak.

Ressa kemudian mengaitkannya dengan kedatangan para WNA yang akan bekerja di Indonesia.

“Ini rumah kita lho. Kita tuan rumah di negeri ini, tapi kenapa enggak bebas? Untuk ke mana-mana kita enggak bebas. Tapi warga negara asing dengan bebasnya mereka keluar masuk Indonesia,” kata Ressa.

Ada pula video seorang polisi yang beradu jawab dengan seorang pengendara mobil yang menolak untuk berputar arah seraya mengaku-aku dia adalah seorang bawahan pejabat terkemuka.

Si polisi terlihat sekali kesal dan menantang si pemudik bandel itu untuk menelepon atasannya. Tentu saja, pria itu cuma membual. Atasannya bukan siapa-siapa. Tapi ada juga video yang mengharukan.

Ada video menampilkan seorang anggota polisi yang tengah memeluk pemudik yang hendak pulang kampung. Sang polisi rupanya berusaha meredam emosi si calon pemudik yang ingin sekali bertemu keluarga di rumahnya.

“I feel you, bro!” mungkin kata si polisi. Tapi begitulah wajah polisi kita saat ini.

Berbeda dengan masa lalu di saat polisi nampak menakutkan, kini kita tengah menyaksikan wajah polisi yang humanis, bersahabat, sabar, meski tetap tegas. Dan wajah polisi berwibawa ini tidak hanya tampil di kasus seperti mudik.

Sebagai orang yang cukup mengenal proses demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia, wajah polisi Indonesia saat ini memang mengalami transformasi luar biasa. Tentu saja ini tidak dimulai saat ini.

Bisa dibilang sejak awal kepemimpinan Jokowi, transformasi ini secara gradual berlangsung. Dan kini kita secara nyata menyaksikan hasil perubahan itu.

Saya mungkin tidak memiliki pengetahuan cukup tentang apa yang terjadi di daerah-daerah. Tapi kalau pengamatan dilakukan dari Jakarta, kepolisian kita saat ini benar-benar layak menjadikan kita optimis.

Ini terutama terlihat dalam kinerja Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kapolda DKI Inspektur Jenderal Polisi Fadil Imran. Salah satu yang terpenting adalah bagaimana aksi mereka menghabisi kaum teroris.

Ini menyangkut ketegasan polisi terhadap FPI, Rizieq, Munarman, tapi juga menyangkut aksi pembersihan jaringan teroris yang dibongkar di banyak tempat dalam waktu singkat. Polisi kini tidak nampak ragu menghabisi siapapun yang memang mengancam keselamatan masyarakat, apalagi NKRI.

Apa yang polisi lakukan mendapat dukungan publik karena masyarakat sudah melihat bahwa polisi bukanlah alat negara untuk menghabisi suara-suara anti pemerintah. Karena itulah upaya sebagian kelompok nyinyir untuk menggambarkan sikap tegas kepolisian sebagai lonceng kematian demokrasi, tidak disambut masyarakat.

Polisi kita saat ini adalah penjaga demokrasi. Saya gunakan saja contoh tentang kebijakan Kapolri soal internet.

Selama ini banyak pihak menganggap internet adalah sebuah media yang sedemikian bebasnya untuk dimanfaatkan untuk penyebaran informasi sesampah apapun.

Di sisi lain, Indonesia yang juga memiliki UU ITE yang di dalamnya ada pasal-pasal yang menjadikan netizen bisa diperkarakan secara hukum hanya karena hal sepele, misalnya mengejek, menyindir atau juga karena melaporkan adanya kekerasan seks, atau kelakuan curang sebuah lembaga.

Kapolri scara brilian menemukan jalan keluar. Di satu sisi, polisi sekarang memiliki semacam polisi virtual yang mengawasi lalu lalang informasi di internet.

Sehingga begitu polisi menemukan adanya netizen yang menyebarkan hoax, kebencian, menghina agama, atau hal yang berpotensi dipidanakan karena dianggap mencemarkan nama baik, atau melanggar kesusilaan, polisi dapat segera menegur akun bersangkutan.

Si warga akan diminta untuk menurunkan konten tersebut agar tidak terjadi kasus penindakan hukum. Di sisi lain, Kapolri juga mengingatkan bahwa polisi tidak akan begitu saja menindaklanjuti aduan masyarakat terkait dengan konten di internet.

Polisi akan melakukan mediasi terlebih dulu. Bila si pengunggah konten minta maaf, kasus diharapkan dihentikan. Dengan langkah-langkah ini diharapkan kasus-kasus pemidanaan konten internet dapat dikurangi secara drastic.

Yang menarik juga, polisi menyatakan bahwa konten-konten yang berisi kritik terhadap pemerintah tidak akan diminta untuk diturunkan. Karena itulah dalam pandangan saya, langkah Kapolri ini luar biasa.

Anehnya, langkah sebrilian ini justru dianggap oleh organisasi semacam KontraS sebagai ancaman terhadap demokrasi. Menurut saya, justru dengan adanya kebijakan Kapolri ini, warga akan lebih berani bicara.

Pokoknya selama muatannya tidak fitnah, tidak melanggar susila, tidak menyebarkan kebencian, penghinaan agama, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan bahkan kalau konten negatif semacam itu sampai terupload, masih akan ada langkah mediasi oleh polisi sehingga tidak perlu berlanjut ke pengadilan.

Ini cuma satu bagian dari langkah-langkah penting perubahan polisi. Yang misalnya juga layak disebut adalah penggunaan platform digital seperti tilang elektronik. Melalui terobosan ini, polisi lalu lintas tidak perlu lagi melakukan penegakan hukum di jalanan sehingga mereka lebih berkonsentrasi membantu masyarakat.

E-tilang ini juga akan mencegah penyelahgunaan wewenang di lapangan. Di sisi lain, tim polisi kita juga kini sedang beroperasi di Papua untuk menghabisi kaum pemberontak senjata yang kini sudah resmi dllabeli sebagai teroris. Buat saya, ini semua adalah berkah luar biasa bagi Indonesia.

Indonesia akan kuat bukan hanya bila kita memiliki pemerintah yang kuat, lembaga pengadilan yang kuat, tapi juga polisi dan tentara yang kuat. Kita dukung terus POLRI dengan akal sehat.

 

Komentar