JANGAN MAU DIBOHONGI PKS!

Oleh: Eko Kuntadhi

 

PKS lagi demen banget keliling-keliling. Padahal lebaran kan masih lama. Kepengurusan yang baru dengan logo yang baru ini kayaknya membuat PKS perlu sowan ke partai-partai. Kini logo PKS menggunakan warna dasar oranye, warna dasar ini mirip rompi tahanan KPK.

Saat ke PDIP, PKS diterima oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Dan Bu Mega gak ikutan menerima. Mungkin Megawati masih belum sreg bertemu sama orang-orang PKS.

PKS juga bertemu sama Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto. Bertemu dengan pengurus Nasdem, PKB, dan PPP.

Saat PKS bertemu Gerindra, ketemu Pak Prabowo Subianto, PKS menawarkan ide yang unik: mereka mengajak Gerindra untuk membuat UU Perlindungan Ulama.

Kita bingung, apa yang dimaksud dengan UU Perlindungan Ulama ini? Pertama, pernah gak kepikiran UU ini mau melindungi ulama dari siapa dan dari apa?

RUU ini kayaknya, bertolak dari pemikiran bangsa Indonesia ini jahat banget sama ulama. Sehingga mereka perlu dilindungi. Kayaknya ini menyambut isu kriminalisasi ulama yang kemarin-kemarin itu ditebarkan oleh gerombolan FPI dan HTI. Dari isi pidato Presiden PKS sih, memang kayaknya pikirannya seperti itu.

Padahal di Indonesia, jujur, gak ada ulama yang di kriminalisasi. Bahar Smith ditangkap karena gebukin anak kecil. Rizieq ditangkap karena melanggar protokol kesehatan. Sugik Nur ditangkap karena menghina Habib Luthfi dengan kasar.

Artinya apa? Artinya yang ditangkap polisi itu perilaku kriminal. Kalau kebetulan pelaku kriminalnya adalah orang yang suka berceramah agama, itu gak ada hubungannya dengan kasus mereka. Artinya gini, ceramah mereka gak ada hubungannya dengan ditangkapnya mereka oleh polisi karena berlaku kriminal.

Kita khawatir, UU Perlindungan Ulama yang diusulkan PKS ini malah bertujuan melindungi perilaku kriminal yang dilakukan oleh orang-orang yang berjubah ulama. Itu yang kita khawatirkan. Dan tampaknya itu yang menjadi dasar pikirannya PKS.

Kedua, siapa yang paling pantas disebut ulama? Kalau mau ada UU Perlindungan Ulama. Kriteria ulama itu kayak apa? Wong, ketika pemerintah mau melaksanakan sertifikasi penceramah saja PKS paling kenceng menolak. Lha sekarang mereka mau bikin UU Perlindungan Ulama.

Apakah orang kayak Felix Siauw atau Yahya Waloni pantas disebut sebagai ulama?

Atau orang kayak Abu Bakar Baasyir dan Aman Abdurahman yang sering menjadi motivator para teroris untuk meledakkan diri dan membunuh orang lain, pantas dilindungi oleh UU?

Kalau kayak gitu bisa kacau Indonesia.

Saya gak tahu maksud PKS dengan usulan seperti ini apa? Yang pasti usulan ini seperti ingin menggerakkan konflik sosial di masyarakat. Karena apa? Karena ada kasta dalam masyarakat nanti. Seperti kasta brahma dan kasta sudra, kasta ulama dan kasta masyarakat bawah. Persoalannya atas nama ulama, orang bisa berbuat dan ngoceh semaunya. Karena nanti kalau ini jadi, akan dilindungi UU. Kan kacau?

Saya setuju dengan alasan penolakan dari PP Muhamadiyah. Usulan UU ini bertendensi tadi, membuat kasta dalam masyarakat.

Begini ya, ulama atau penceramah agama yang ada di Indonesia berstatus adalah WNI. Dan kita tahu semua WNI kedudukannya sama di mata hukum. Mau ulama, presiden, polisi, semua kedudukannya gak jauh beda di mata hukum. Artinya sebenarnya kemarin-kemarin itu tidak ada ulama yang dihukum. Yang terkena kasus hukum adalah para kriminal. Dan terkadang, para kriminal itulah yang memakai jubah ulama.

Sementara ulama yang benar, yang baik, yang jadi suri tauladan umat gak mungkin berlaku kriminal. Gak mungkin bertindak melawan hukum. Jadi, dasar pikiran dari UU itu sendiri kayak mendegradasi sifat-sifat keutamaan seorang ulama sejati. Kenapa harus dilindungi?

Dan yang kedua, UU ini berpersepsi bahwa masyarakat kita ini jahat dan buruk memperlakukan para ulama yang benar.

Saya sih, maklum dengan usulan PKS ini. Kalau kita telusuri, Saudi Arabia, Mesir misalnya saat ini sudah mengkategorisasi Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris. Nah, kita kan tahu, PKS itu adalah Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Partai yang dilahirkan oleh aktivis-aktivis yang mengambil, atau mendapat ide dari gerakan Ikhwanul Muslimin. Mereka khawatir jika pemerintah Indonesia nanti mencontoh Saudi atau Mesir dan kemudian menteroriskan para aktivis Ikhwanul Muslimin yang ada di Indonesia.

Dan bukan hanya itu lho. Pemerintah Saudi giat menangkapi penceramah agama yang mendukung gerakan terorisme. Mereka ditangkapi karena menjadikan mimbar-mimbar agama sebagai sarana agitasi dan provokasi.

Apalagi tokoh agama yang menunggangi agama untuk kepentingan politik. Langsung dibekuk di Saudi. Gak ada ampun.

Kita tahulah, gimana tokoh-tokoh PKS selama ini. Terhadap kasus-kasus terorisme di Indonesia, kayaknya statemen-statemen PKS selalu bernada membela mereka. Bahkan pentolan PKS pernah secara terang-terangan menunjukkan simpati pada Alqaedah dan Osama bin Laden.

Jadi, saya khawatir usulan PKS ini dengan UU Perlindungan Ulama hanya cara untuk terus-menerus melanggengkan politisasi agama. Hanya cara untuk terus-menerus melakukan atau menunggangi agama demi kepentingan politiknya. Dan dari UU ini risikonya apa? Risikonya NKRI akan makin terkoyak-koyak. Karena orang yang sembarangan membenturkan agama dengan kebangsaan, akhirnya gak terkena konsekuensi hukum.

Kalau mau jujur, yang dibutuhkan bangsa Indonesia sekarang ini bukan UU Perlindungan Ulama. Yang kita butuhkan adalah UU yang melindungi masyarakat dari orang-orang yang mengaku ulama. Dari para pengasong agama. Dari para preman berjubah.

Coba lihat di sekeliling kita. Berapa banyak orang yang sebetulnya gak punya kapabilitas yang cukup, gak punya pengetahuan agama yang cukup, tiba-tiba sudah naik mimbar. Memberi fatwa, memberi nasehat agama. Ngomongnya sembarangan. Biasanya mereka mengambil tema yang ditujukan untuk menggesek-gesekkan konflik antar-umat beragama.

Coba dengerin ceramahnya Waloni, Somad dan lain-lain. Kadang-kadang usaha-usaha menggesek-gesekkan emosi antar-umat beragama terus-menerus dilakukan.

Orang-orang seperti ini gak pantas menyandang titel ulama. Mereka hanya provokator. Mereka hanya berlindung di balik jubah agamanya untuk membuat kekacauan. Mestinya Parpol seperti PKS melihat bahaya laten ini sebagai ancaman bangsa. Bukan malah mencari jalan untuk melanggengkan dengan membuat UU yang kedengarannya kayaknya keren juga, Perlindungan Ulama. Padahal sesungguhnya gak gitu.

Sebagai contoh, ketika ada aturan PNS gak boleh terafiliasi dengan HTI dan FPI, PKS menolak aturan ini. Kan gila. Masa ada orang yang digaji negara, tapi dibiarkan bertujuan untuk menghancurkan negara yang menggajinya. Kan lucu?

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang melindungi kaum perempuan dari para lelaki jahanam. Tahu gak? Ditolak sama PKS. Padahal sudah ada ribuan korbannya. Apa karena di mata mereka perempuan adalah makhluk kelas dua, sehingga gak perlu dilindungi haknya? Gak perlu dilindungi fisiknya? Gak perlu dilindungi perasaannya? RUU PKS, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, PKS gak setuju.

Ini yang aneh. Sementara mereka mengajukan UU Perlindungan Ulama. Anehnya, PKS mengajukan UU Perlindungan Ulama hanya karena ada satu-dua orang yang ngaku ulama dan mereka kedapatan berbuat kriminal dan ditahan oleh kepolisian.

Kita, saya dan anda, tentu gak mau dibohongi oleh PKS dengan ide murahan ini. Sejatinya kita semua hormat pada ulama. Tapi ulama yang bener. Yang mendidik umat dengan cara yang baik. Bukan ulama yang abal-abal. Apalagi ulama jadi-jadian.

Sudahlah, akhi PKS. Jangan terus-menerus menggesekkan bangsa ini dengan isu murahan berbasis agama yang selalu kamu tenteng-tenteng ke mana-mana. Kami ini sudah capek dengan ulahmu.

Kami iri dengan Saudi dan Mesir yang menteroriskan Ikhawanul Muslimin.
Saya hanya mengajak kita semua berpikir. Kesimpulannya ya, terserah anda…

Komentar