ADUH JUBIR, URUSAN BABI PANGGANG AJA KEPLINTIR…

Oleh: Denny Siregar

 

Saya awalnya gak peduli ketika orang ribut masalah bipang atau babi panggang yang diucapkan Jokowi sebagai anjuran supaya orang membeli oleh-oleh lewat online.

Itu masalah remeh-temeh, sih. Mirip dengan kancing jas, dialek Inggris Jokowi, yang selalu dipermasalahkan oleh mereka yang memang tidak menyukainya. Orang-orang ini memang kerjaannya selalu mencari celah sekecil apapun untuk mereka bully. Apalagi kalau itu berbau-bau agama, wah seneng banget biasanya kalau dapat gorengan kayak begini.

Yang saya heran itu justru reaksi dari orang-orang Istana yang terlalu over. Seperti si jubir Istana, yang tiba-tiba ngeles mengubah masalah bipang jadi jipang, makanan dari beras. Wong jelas-jelas Jokowi ngomong itu bipang atau babi panggang Ambawang, makanan khas daerah Kalimantan Barat. Gak ada lagi hubungannya sama bipang atau jipang yang ada di Pasuruan.

Cara ngelesnya Bang Fadjroel inilah yang, maaf ya Bang, jadi bahan ketawaan banyak orang. Maksudnya sih pengen melindungi Presiden dengan memutarbalikkan fakta, tapi gak paham kalau dunia media sosial ini berbeda. Orang bisa dengan mudah mencari data, mana yang benar, dan mana yang tidak. Dan jelas-jelas jubir itu salah besar, memelintir maksud dari bipang yang disebut-sebut oleh Jokowi.

Saya juga gak paham, apa sih yang harus diklarifikasi masalah omongan bipang itu? Bahkan Mendag Lutfi pakai acara minta maaf lagi. Gak ada yang salah dengan perkataan Jokowi itu, wong beliau Presiden kok bukan ketua ormas agama. Jadi, Presiden itu berdiri di atas semua golongan, semua agama, dan dia tidak bisa diidentikkan dengan agama tertentu, meskipun ia orang yang beragama.

Presiden itu jabatan, bukan orangnya. Jadi wajar kalau Jokowi ketika menjabat, dia bicara tentang kuliner daerah dan di antaranya ada babi panggang. Bahkan pernah Jokowi mampir ke Manado dan melihat Pasar Tomohon, pasar ekstrim yang menjual tikus, ular, sampai kampret di sana. Saya tahu, sebagai muslim Jokowi gak mungkin memakan binatang-binatang itu. Tapi sebagai Presiden, dia harus datang ke sana, ke tempat yang mungkin buat sebagian orang mengerikan. Karena, ya itu tadi, dia seorang Presiden yang berdiri di atas semua golongan.

Terus, memang kenapa kalau dia promo babi panggang, makanan khas orang Kalimantan Barat? Itu kan promo. Dan dalam rangka Hari Bangga Buatan Indonesia. Catat ya, itu dalam rangka promo Hari Bangga Buatan Indonesia.

Tapi kan Jokowi ngomongnya belanja untuk lebaran hari raya umat Islam, Bang? Eh, sini gua kasih tau. Lebaran itu meski hari rayanya umat Islam, tapi yang liburan dan belanja semua agama. Yang jualan juga semua agama, bukan Islam aja. Jadi gak ada salahnya kalau Jokowi promo kuliner buat yang nonmuslim. Lagian lebaran kali ini barengan dengan Kenaikan Isa Almasih, atau di Kristen mereka mengenal dengan kenaikan Yesus Kristus. Lalu, di mana salahnya?

Nah, seharusnya beginilah jawaban seorang jubir Istana. Bukan malah ngeles ke jipang, bipang dari Pasuruan segala. Gak ada Bro korelasinya. Kalau mau menjelaskan sesuatu, jelaskan dengan benar. Gak usah pakai ngeles segala. Ngeles ginian lah yang bikin gorengan jadi tambah panas dan apinya membesar. Coba dari awal dijelaskan dengan benar, tentu gak akan seramai ini.

Jawaban jubir Istana yang ngeles inilah yang membuat saya yakin kalau ada masalah dalam tim komunikasi Jokowi. Mereka ini gak percaya diri, cenderung insecure, akhirnya komunikasinya buruk, dan kekanak-kanakan. Dan saya sudah kritik sejak lama masalah ini, tapi ya gak pernah berubah malah semakin lama semakin parah.

Orang-orang Istana Jokowi masih orang-orang jadul, gak mampu berkomunikasi dengan ringkas di zaman teknologi ini. Proses komunikasi mereka terhambat oleh ketakutan mereka kalau program Jokowi akan menyinggung sebagian orang. Ada trauma di mereka, kalau nanti pelintiran-pelintiran itu akan dijadikan senjata seperti yang pernah dilakukan ke Ahok dulu.

Ya jelas bedalah. Isu agama tidak akan mempan ke Jokowi, wong Presidennya aja muslim. Wapresnya muslim. Apa yang harus ditakutin? Lagian di zaman Ahok kan kelompok garis keras kayak FPI sama 212 itu lagi besar-besarnya. Kalau sekarang, udah pada lembek kayak kancut basah.

Apa sih yang ditakuti? Kayaknya gak gagah gitu orang-orang Istana. Wong lagi berkuasa aja takutnya segitu, gimana nanti kalo gak berkuasa lagi? Perbaikilah cara komunikasi kalian dengan benar. Rakyat ini memantau. Jangan sampai ketidakmampuan kalian berkomunikasi akhirnya jadi tudingan kalau itu karena Presidennya yang tidak mampu. Masa gini aja harus gua yang ajarin terus?

Beginilah model komunikasi yang hancur kalau terus mengikuti irama genderang oposisi. Oposisi memang begitu, mereka akan selalu mencari celah untuk menyerang. Dan sesudah menyerang, mereka akan menunggu reaksi balasan apa yang diberikan? Semakin kacau reaksinya atau semakin over reaksinya, mereka akan terus mengipas isu itu sebesar-besarnya.

Gak ada yang salah dengan Presiden promosi babi panggang itu. Itu justru menghormati saudara-saudara kita sebangsa yang nonmuslim dan bagi mereka itu kuliner daerah dan bagian dari budaya. Presiden toh gak menganjurkan supaya umat muslim yang belanja babi panggang. Dia hanya mengingatkan momentum baik ini supaya orang pada belanja. Karena ketika orang berbelanja, maka putaran ekonomi di masa pandemi ini diharapkan bisa membaik.

Dan gak perlu minta maaf segala. Gak ada yang salah. Yang salah adalah pikiran-pikiran orang-orang picik dari sebagian orang yang gampang tersinggung kalau ada yang dianggap gak enak di hatinya. Kalau orang seperti ginian ditanggapi terus, capek Bro dan jadinya gak kerja-kerja. Kalo cuma urusan babi panggang ginian, biar jadi urusan netizen aja. Jubir cukup diam dan silakan makan gaji buta.

Komentar