MUNARBOY DIBEKUK, ANIES KELIMPUNGAN

Oleh: Eko Kuntadhi

Munarman ditangkap Densus 88. Kalau detasemen ini yang menangkap orang, kita tahu dugaannya pasti teroris. Kasusnya jelas. Munarman terlibat pembaiatan ISIS di Makassar, di Medan dan di Jakarta. Alumni baiat Munarman kemudian jadi teroris.

Mereka misalnya menjadi pengantin bom bunuh diri di Gereja Katedral Jolo, di Filipina. Dan baru kemarin ada lagi alumni baiat Munarman itu jadi pengantin bom bunuh diri di gereja Makassar, kemarin.

Sebetulnya sejak tanggal 20 April 2021, kepolisian sudah menetapkan Munarman jadi tersangka. Artinya sudah ada alat bukti yang lengkap. Makanya polisi gak pakai acara panggil-panggil dulu, jadi saksi dulu. Ya langsung ditangkap. Pertama karena dia sudah jadi tersangka.

Kedua, karena pasal yang ditersangkakan adalah soal terorisme. Jadi kalau soal terorisme memang penanganannya bukan seperti kriminal biasa.

Bersama penangkapan Munarman di rumahnya, di daerah Tangerang Selatan, polisi juga menggerebek markas Munarman di Petamburan. Bukan cuma polisi, ketika mereka menggerebek markas di Petamburan bersama juga TNI. Markas ini yang dulu didatangi oleh intel perempuan yang dari Jerman itu lho.

Saat digerebek di markas itu ditemukan puluhan bahan kimia yang bisa digunakan atau dijadikan bahan dasar pembuat bom. Salah satu jenisnya adalah TATP. Ada yang sudah diolah jadi bubuk, ada yang masih berbentuk cair.

Bukan hanya satu jenis yang ditemukan, tapi ada puluhan jenis bahan kimia lain di sana. Dan kesemuanya bisa dijadikan bahan baku peledak yang berbahaya. Ada yang berdaya ledak tinggi. Ada juga yang berdaya ledak sedang. Atau zat kimia yang mudah terbakar seperti bahan untuk membuat molotov.

Nah, bahan-bahan ditemukan di condet dalam penggerebekan bulan lalu ini sama dengan bahan yang ditemukan di kantornya Munarman. Di condet ketika digerebek, mereka adalah anggota FPI yang bersiap melakukan kerusuhan di Jakarta. Mereka membuat 200 bom, untuk meledakkan pom bensin, jaringan gas, kantor polisi, markas TNI, serta industri milik warga Tionghoa.

Munarman bisa dikatakan adalah tokoh yang menyeret FPI dalam petualangan terorisme. Ia menjadikan FPI sebagai sarang baru gerombolan radikal. Seperti biasa, ditangkapnya seorang tokoh teroris, selalu mengundang pembelaan dari orang-orang dalam lingkarannya.

Kita ingat Azis Januar, itu pengacaranya Rizieq yang juga katanya pengacaranya Munarman, dia langsung menyangkal bahwa bahan kimia di Petamburan itu kata Azis, bukan buat bahan pembuat bom, tapi buat membersihkan WC. Buset. Apa emang Munarman sekarang buka bisnis WC umum, sehingga punya banyak banget bahan kimia di kantornya untuk bersihin WC?

Padahal ya itu kan cuma ruko paling ada dua-tiga WC paling banyak.

Tapi statemen Azis ini menandakan ia tahu pasti ada pembelian puluhan bahan kimia itu. Azis terang-terangan menyatakan diri, bagian atau orang yang mengetahui keberadaan bahan-bahan kimia itu.

Kenapa? Ya statemennya tadi menandakan bahwa Azis adalah seorang yang tahu. Kalau seandainya ini adalah bahan pembuat bom, sepertinya polisi penting juga untuk memeriksa Azis atas pengetahuannya terhadap keberadaan bahan-bahan tersebut. Apakah benar WC-WC di kantor itu memerlukan puluhan jenis bahan kimia berbahaya, seperti yang disampaikan Azis? Atau ini adalah bahan untuk membuat peledak?

Jika ditelusuri, Azis ini memang lingkaran orang dalam FPI. Ia dikenal sebagai orang dekatnya Munarman. Kisahnya sih, menurut informasi, Azis juga dikenal punya fantasi esek-esek yang agak liar. Kabarnya ia sangat mudah terangsang dengan tokoh Sailormoon. Jadi ia pernah kencan di tempat kencan yang pakai kostum cosplay gitu dan dia hobinya berkencan dengan orang yang pakai kostum Sailormoon.

Catatan lain soal Azis adalah, ia pernah diadukan juga ke polisi karena kasus pemalsuan kendaraan bermotor. Sekarang Azis tampil di depan membela sekutunya Munarman. Dengan alasan bahan pembuat bom tadi sebagai alat untuk membersihkan WC.

Selain Azis, tokoh yang giat membela gembong teroris adalah Fadli Zon. Politisi Gerindra ini menunjukkan ke mana afiliasi partainya dalam kasus-kasus terorisme. Fadli adalah pembela Rizieq, pembela Munarman, dan kita juga pernah tahu ketika Abu Bakar Baasyir baru saja keluar dari tahanan, Fadli juga orang yang mendatangi tokoh atau gembong teroris itu.

Kalau saya sih menilai Gerindra itu seperti apa yang dikatakan Fadli. Artinya apa? Saya ingin menilai Gerindra cukup dari arah omongannya Fadli. Arah omongan itulah yang saya pegang sebagai wajah partai kepala burung itu yang sebenarnya.

Kalau Fadli lantang membela Munarman yang menjadi tokoh baiat ke ISIS. Ya, jangan salahkan saya kalau saya menganggap itulah sikap resmi partai Gerindra. Kalaupun belum dinyatakan secara resmi, karena memang selama ini Fadli mewakili sikap partai itu

Tapi kita juga kenal Fadli sebagai pembela jaringan Cendana yang konsisten. Sementara hubungan Cendana dengan gerombolan FPI sudah jadi rahasia umum. Jadi selain dia mewakili pemikiran partainya, Fadli bisa dibaca sebagai protes dari bohir yang selama ini mengandalkan Ormas teror untuk kepentingan politiknya.

Motivasi Fadli, mungkin serupa dengan Partai Demokrat yang mempertanyakan penangkapan Munarman. Mereka atau partai-partai ini mau dapat limpahan suara dari gerombolan yang diwakili oleh Munarman.

Lalu bagaimana dengan Novel Bamukmin? Ia juga berkomentar membela dengan keras Munarman.

Di mata saya sih, Novel hanya tokoh pecahan botol di FPI. Ia bukan orang penting, tetapi ngebet disebut penting. Makanya ia berusaha mementing-mentingkan dirinya dengan berbagai komentar nyeleneh.

Jadi abaikan saja.

Ada lagi orang kayak jens Refly Harun atau Said Diddu yang juga pasti berkomentar miring. Kalau dua orang ini posisinya sama kayak Novel. Sejak kenikmatannya sebagai komisaris BUMN dicabut, keduanya memang sering sakit hati dengan Jokowi. Jadi apapun yang dilakukan pemerintah, atau aparat pemerintah, pasti dua orang ini nyinyir.

Jadi gak usah heran.

Saya gak tahu bagaimana sikap Anies Baswedan misalnya. Kita tahu Anies adalah Gubernur yang berhutang banyak pada Munarman dan kelompok seperti FPI. Kenaikannya ke kursi Gubernur Jakarta itu seperti memanjat di pundak orang-orang seperti Rizieq atau Munarman. Dan keduanya sekarang ada dalam tahanan polisi.

Dengan diobrak-abriknya seluruh kekuatan FPI, ini sama juga memotong satu kaki-kaki politik Anies Baswedan. Padahal kita ingat, Anies adalah satu-satunya gubernur yang mengatakan bahwa FPI adalah organisasi yang bermanfaat buat Indonesia.

Ketika Anies ngomong gitu saya tahu banget ia pasti tahu kiprah FPI sebelumnya. Anies juga tahu bagaimana organisasi terlarang ini menjadi momok di masyarakat. Tapi demi kepentingan politik, Anies harus menyanjung FPI setinggi langit. Dan saya gak tahu apa sikapnya atas penangkapan Munarman.

Artinya sama seperti Fadli, Partai Demokrat, Anies juga orang yang ingin memanfaatkan massa FPI untuk kepentingan politiknya.

Yang pasti langkah polisi penangkap Munarman ini diapresiasi oleh seluruh masyarakat. Coba lihat media sosial, ramai ucapan terima kasih kepada Polisi.

Bahkan hari ini, di Mabes Polri berjajar karangan bunga dari masyarakat sebagai tanda terima kasih. Sebab kejahatan terorisme memang sudah sangat meresahkan kita.

Ada satu yang harus diperhatikan. Biasanya penangkapan gembong teroris kayak gini akan mengundang reaksi para pengikutnya. Jadi kita penting sampaikan kepada bapak-bapak Polisi, bapak-bapak TNI harus tetap waspada pada aksi-aksi balas dendam, terutama oleh para lonewolf yang memang susah dideteksi geraknya.

Alhamdulillah, Ramadan ini kita dihadiahi puasa tanpa FPI. Rasanya jauh lebih sejuk. Rizieq juga lagi sibuk di pengadilan menghadapi kasusnya.

Menjelang lebaran kita dapat THR. Munarman ditangkap!

Nah, tinggal tugas kita sebagai rakyat tetap menjaga jangan sampai bibit-bibit radikalisme seperti ini muncul di lingkungan kita.

Sebab ini Indonesia kita. Kitalah yang harus menjaganya!

Komentar