INVESTASI BODONG 212 MART

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Di Samarinda Kalimantan Timur, ratusan orang saat ini resah. Janji investasi untuk mendirikan minimarket 212 Mart gak jelas lagi. Tiga minimarket 212 Mart tutup di kota itu. Karyawannya gak digaji. Pengurus koperasi syariah 212 Samarinda sekarang kabur entah ke mana.

Ratusan orang itu mendatangi polisi. Mengadukan nasib uang investasinya yang udah pasti gak jelas. Sebagian mereka ada juga yang kerja di minimarket tersebut. Jadi sambil investasi, mungkin orang tuanya investasi, dianya kerja di situ. Gak digaji sejak Oktober 2020.

Di banyak tempat, saya juga menyaksikan Minimarket 212 Mart hidup segan mati ogah. Barangnya banyak kosong, rak-raknya melompong, pelayanannya masih males-malesan. Karena itu perputarannya mungkin lama karena tidak ada konsumen yang belanja. Risikonya apa? Risikonya banyak barang kadaluarsa. Kalau banyak barang kadaluarsa konsumen makin malas belanja di tempat itu.

Kita tahu 212 Mart dibentuk sebagai lanjutan dari demo di Jakarta yang berbasis politik SARA dan kebencian. Waktu itu demo untuk menjegal Ahok sebagai gubernur. Nah, karena saat itu dianggap dukungannya sangat besar dan merasa mendapat angin, sebagian orang menggunakan momentum 212 itu untuk kegiatan ekonomi.

Lalu kemudian ramai-ramai dibentuklah ekonomi syariah atau koperasi syariah 212, salah satu produk dari koperasi syariah itu adalah 212 Mart. Koperasi syariah ini juga berusaha menggalang dana dari publik. Ada pola-pola penggalangan dana. Ada yang lewat pengajian, lewat jemaah masjid atau mushola. Jadi ketika ngaji ya sekalian digalang dana. Atau ada juga yang bentuknya investasi. Ditawarin investasi. Seperti layaknya investasi di perusahaan-perusahaan.

Yang lewat pengajian atau lewat jemaah mushola, ya mungkin tawarannya gak imbal-balik secara langsung, paling hanya dijanjikan surga sebagai imbal-hasilnya. Kabarnya nih ya, mereka mengumpulkan kira-kira ya Rp10 ribu per orang setiap pertemuan pengajian. Duitnya dikumpulin, kemudian diserahkan ke kelompok-kelompok ini. Alasannya buat kebangkitan ekonomi umat.

Keren kan, kebangkitan ekonomi umat. Pasti kata ini sangat memotivasi orang-orang yang jadi jemaah pengajian pada saat itu.

Pasti juga mereka malu kalau mereka mau menanyakan gimana kabarnya ekonomi umat sekarang? Maksudnya, gimana kabarnya duit mereka sekarang? Kalau mereka nanyain, nanti nama mereka dicoret dari buku besar pahala. Itu yang mereka khawatirkan. Apakah ekonomi umat atau katakanlah investasinya itu masih jalan atau sudah mulai terseok-seok?

Begitu juga dengan 212 Mart yang kabarnya saat itu berkembang sampai ratusan gerai. Jargonnya kebangkitan ekonomi umat. Lagi-lagi pakai kata umat. Pada tahun 2017 atau mungkin 2018, barangkali nafsu memerangi Ahok masih berkobar-kobar. Nafsu memerangi yang bukan Muslim masih berkobar-kobar. Jadi gerai-gerai itu tumbuh sebagai usaha perlawanan pada gerai-gerai, atau toko-toko yang dianggap dikelola bukan oleh Muslim. Mereka taumbuh dengan semangat awal apa? Memerangi orang lain.

Tapi pertanyaannya, mungkin gak sih bisnis kelontong yang basisnya adalah pelayanan, servis, produk, dibangun di atas dasar memerangi orang lain. Dengan memakai merk 212 Mart, gerai itu sudah memasang tembok yang tinggi, setidaknya tembok yang melarang orang untuk masuk dan datang ke gerai itu. Mereka membatasi diri. Dan membatasi diri ini berbeda dengan memilih segmen pasar.

Ada produk yang memilih segmen pasar Muslim. Itu memilih segmen pasar secara sadar. Tapi 212 Mart menurut saya adalah bisnis yang membatasi diri. Artinya apa? Artinya memusuhi orang yang bukan kelompoknya. Otomatis orang yang di luar kelompoknya pasti gak mau datang.

Dalam bisnis memusuhi konsumen, orang-orang ini adalah konsumen minimarket, itu sama juga kiamat!

Ingat kan, bahkan dengan sesama Muslim saja, gerakan 212 gak mau menyolatkan orang yang beda pandangan politik. Jadi ketika 212 Mart berdiri, mereka sudah membuat batasan itu. Jangan datang ke sini orang-orang yang dulu atau yang gak sepakat dengan gerakan 212 ala FPI itu. Jangan datang ke sini para orang yang setuju dengan Ahok. Jangan datang ke sini para Muslim yang tidak setuju agamanya dipolitisasi.

Apalagi bagi yang non-muslim. Sudah pasti ogah datang ke 212 Mart. Wong mereka memang lagi dimusuhin.

Yang kedua, persepsi yang nempel di publik soal 212 adalah FPI. Jadi 212 sama dengan FPI. Itu yang ada di benak publik. Coba saja lihat siapa pentolan-pentolan FPI yang menjadi tokoh 212. Slamet Maarif, Novel Bamukmin, itu kan pentolan yang selama ini dikenal sebagai orang FPI, juga ada Haikal Hasan yang sangat gencar untuk menarik orang berinvestasi di 212 syariah, atau koperasi 212 syariah.

Nah, sekarang polisi mengkategorikan FPI sebagai organisasi terlarang. Banyak anggotanya, banyak pengurusnya, banyak penggedenya yang terlibat kasus terorisme. Pertanyaannya, lu sebagai konsumen mau gak belanja di toko yang berafiliasi atau yang dipersepsikan berafiliasi dengan teroris? Kan begitu persepsi yang terbentuk di benak publik.

Ketiga, cobalah anda mikir sebagai konsumen. Sebagai konsumen ya, kita atau anda jika ingin membeli barang, pertimbangan pertama apa yang anda kedepankan? Apakah karena pemilik tokonya satu agama dengan anda? Atau karena kualitas barangnya, harganya, pelayanannya yang baik? Kalau anda konsumen rasional pasti anda memilih pilihan kedua. Alasannya karena kualitas barang, harga, pelayanan yang baik.

Nah, 212 Mart menyodorkan pertimbangan pertama kepada konsumennya. Yang penting seiman. Layanan dan kualitas bisa jadi nomor dua. Alasan yang sama ketika mereka mendukung Gubernur Jakarta. Yang penting seiman. Kemampuan kerja dan kapabilitas itu nomor dua. Akibatnya Jakarta kayak sekarang.

Keempat, ini yang juga penting. Kapabilitas dan kemampuan pengelola bisnisnya. Apalagi kalau menggunakan dana publik atau investasi dari banyak orang. Kalau mau buka toko retail, tapi yang jalanin marbot masjid yang gak ngerti dagang, gak lama, sebentar juga bubar.

Kalau mau narik investasi, tapi uang banyak itu diserahkan ke tangan orang yang gak terlatih amanah, yang tukang nyolong, ya bablas. Meskipun mereka pakai ubel-ubel gede di kepalanya. Ini juga biasanya menjadi masalah serius pola investasi yang bawa-bawa agama. Gak amanah.

Skill dan akhlak mengelola duit selalu jadi sandungan bisnis yang mengatasnamakan agama. Kebanyakan mereka cepat horni kalau lihat duit nganggur. Padahal bukan duitnya sendiri.

Walhasil, dengan pola mikir seperti itu wajar saja jika sekarang banyak gerai 212 Mart yang hidup ogah, mati ogah, jadi kayak setengah zombie. Mereka ngos-ngosan membiayai operasionalnya. Seperti yang terjadi di Samarinda itu. Bangkrut. Bubar. Pengelolanya kabur. Dan investasi umat yang dijanjikan dapat imbal balik meruap entah ke mana. Umatnya diharapkan ikhlas agar balasannya surga.

Bisnis itu intinya dagang. Dagang adalah melayani. Mana mungkin ada dagang yang sukses kalau dasarnya kebencian seperti ideologi 212 itu.

Bagi saya simpel. Kalau mau membangkitkan ekonomi umat, ajarkan umat berdagang yang baik. Jadi pedagang yang jujur. Jadi pedagang yang amanah, yang cerdas dalam bisnis. Dia gak ngurangi timbangan. Melayani dengan cekatan. Serta menjalin relasi dengan semua stakeholder. Tanpa memandang agamanya.

Kalau umatnya diajari dengan kebencian, terus ngomongnya mau membangun ekonomi umat dengan bisnis yang mengundang investasi, ini mah tipu-tipu. Di sisi lain berharap jemaah ngumpulin duit untuk dijadikan modal bisnisnya. Biasanya janjinya plus bonus kunci surga.

Percaya deh, sekali lagi itu cuma tipu-tipu. Gak akan bertahan lama. Nanti juga pengelolanya kabur sendiri, bareng sama duit yang anda tanamkan di situ.

Komentar