BISNIS BABI NGEPET

Oleh: Denny Siregar

 

Mengikuti peristiwa babi ngepet di Depok, saya kok jadi tertarik ya dengan modusnya.

Ceritanya nih si “ustaz” pengen dapat duit. Dia lalu kumpulkan 8 orang temannya supaya mereka bisa punya usaha bersama, dan nama usahanya babi ngepet. Si “ustaz” ini paham banget kalo masyarakat sekitar Depok itu percaya banget sama takhayul dan mistis, meski di satu sisi juga mereka kelihatan sangat agamis.

Lalu dibelilah seekor babi secara online. Yang masih kecil dan anakan, supaya bisa dibikin isu kalau babinya sesudah ditangkap itu menyusut. Isu babi menyusut ini penting sekali, supaya orang makin percaya. Lalu dibikinlah lagi cerita, kalau ke 8 temannya itu menangkap babi sambil bugil.

Yang ini saya agak kurang yakin ya, kenapa kok babi ngepet takut sama lelaki bugil? Apa takut liat pentungan-pentungan berlarian?

Isu tertangkapnya babi ngepet itu pun tersebar ke mana-mana. Wartawan datang dan menambah nilai beritanya. Apalagi ketika ada seorang ibu bernama Wati, pas diwawancarai wartawan dengan pedenya dia bilang kalau dia curiga sama tetangganya yang gak pernah keluar kerja, tapi kok duitnya banyak?

Oke, di mana kira-kira unsur bisnisnya? Ternyata ada di tiket pengunjung. Kalau mau lihat babi ngepet, harus bayar Rp2 ribu. Mau foto? Bayar lagi Rp2 ribu. Setiap warga hanya boleh melihat selama semenit saja. Bayangkan, kalau ada 2000 orang yang nonton waktu itu, si “ustaz” bisa dapat duit Rp4 juta per hari. Belum lagi kalau si warga pengen fotoin si babi. Yah, omzet kotor mereka bisa dapat Rp6 sampai 7 juta lah si “ustaz”-nya sehari.

Bisnis yang mudah kan? Begitulah cara mudah mencari uang. Kalo kita pintar memainkan isu, maka uang akan mengalir deras. Gak penting itu haram atau halal, yang penting itu cuan.

Model bisnis isu ini dikenal dengan nama “Monkey Business”. Monkey Business mengenalkan kepada kita bagaimana cara menipu orang awam dengan isu, supaya mereka mau mengeluarkan uang.

Dan situasi yang sama kita kenal dulu dengan peristiwa tanaman gelombang cinta. Gelombang cinta diisukan diburu orang dengan harga sampai miliaran rupiah. Penyebar isunya adalah majalah-majalah tanaman pada waktu itu. Dan orang begitu panik untuk membeli tanaman gelombang cinta karena mereka terbius keuntungan besar sekejap mata. Yang panen adalah yang jual tanaman. Harga gelombang cinta pun berlipat-lipat. Bayangkan, nilai tanaman yang kalau dihitung secara normal harganya cuma maksimal ratusan ribu rupiah saja, di pasaran bisa dijual sampai miliar rupiah. Itu pun dengan berbagai drama untuk menaikkan harganya supaya berlipat-lipat.

Apa ini sama dengan bisnis babi ngepet? Sama juga. Lihat aja, poinnya adalah mimpi bagaimana mendapatkan uang dengan mudah, gak pakai kerja keras, cukup jaga lilin di rumah. Dan kalau pintar duitnya dapat, kalau bego ya bangkrut serumah.

Jangan salah, model bisnis babi ngepet ini juga bukan hanya ada di daerah yang percaya mistis meski agamis, seperti di Depok, tetapi juga di seluruh dunia.

Kalau kita perhatikan, permainan saham, permainan uang krypto, itu juga pakai model babi ngepet. Mereka memainkan isu supaya orang mau beli barangnya. Semakin hangat isunya, semakin hangat beritanya, nilainya semakin naik, bahkan kadang di luar batas rasional kita.

Lihat saja uang digital seperti Bitcoin yang harganya bisa naik gila-gilaan, tanpa ada bisnis fundamentalnya. Banyak orang terbius dan masukkan duitnya ke sana dengan mimpi yang tinggi akan exit dengan cuan yang segudang. Mereka yang pintar, itu pasti cuanlah. Mereka beli uang digitalnya di harga rendah sebanyak-banyaknya. Lalu hembuskan isu lewat media massa dan ahli-ahli yang dibayar untuk menaikkan harga. Dan orangpun ramai-ramai membeli dengan harga yang lebih tinggi. Semakin lama semakin tinggi nilainya, tapi nilai produk sebenarnya itu gak ada harganya.

Dan kelak satu waktu akan crash, bubble, gelembung pecah, dan jutaan orang akan menangis karena mereka bahkan sudah jual rumahnya hanya supaya mimpinya kaya. Kalau Elon Musk sih sudah pasti dia kaya raya, dan jangan-jangan dia seperti si “ustaz Depok”-nya itu.

Karena itu, di zaman banyak model bisnis babi ngepet seperti ini, pintar-pintarlah. Yang penting jangan nafsu melihat orang lain lebih kaya dari kita. Tetap berjalan sesuai passion kita sendiri, supaya kita gak mudah dibohongi oleh orang lain.

Komentar