PKS, JANGAN MAEN-MAEN SAMA NETIZEN

Oleh: Denny Siregar

 

Baru saja dengar kabar, Kuntjoro Pinardi salah satu Direktur di PT PAL Indonesia, mengundurkan diri dari jabatannya. Padahal dia baru 5 hari menjabat di kursinya. Tapi sejak dia diberi kepercayaan menjabat, keributan pun terjadi di media sosial kalau rekam jejak Kuntjoro ini adalah pernah menjadi caleg dari Partai Keadilan Sejahtera atau PKS.

Sebenarnya rekam jejak Kuntjoro Pinardi ini gak keren-keren amat sih. Dia juga gak begitu dikenal dalam kancah politik di Indonesia. Tapi ketika Erick Thohir memberinya jabatan sebagai salah satu Direktur di PT PAL, mulailah ada yang memantau rekam jejaknya. Dan jejak masa lalunya pun kemudian terbongkar, bahwa dia pernah menjadi calon legislatif dari partai PKS. Hanya jadi caleg doang, gak ngapa-ngapain. Itu juga caleg nomor 6 lagi dari Jawa Tengah.

Tapi yang namanya sentimen, cepat sekali menyebar seperti api yang membakar lahan yang kering. Mendengar nama PKS, netizen kemudian gerah dan memviralkan berita tentang Kuntjoro Pinardi.

Kuntjoro sendiri membantah berita kalau ia mendukung radikalisme. Katanya, dia memang pernah jadi caleg PKS di tahun 2014, tetapi gagal. Dan sesudah gagal, dia kembali lagi ke dunia akademi dan bisnis. Sesudah itu gak ada urusan lagi dengan PKS.

Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Karena gak kuat dengan tekanan media sosial yang begitu hebat, Kuntjoro akhirnya memilih mundur. Entah mundur dengan sukarela atau dipaksa mundur. Pokoknya dia mundur.

Dan selesailah keributan di media sosial ini. Orang akhirnya lega ketika PKS tidak ada dalam pemerintahan apapun di republik ini.

Kenapa bersentuhan dengan PKS malah jadi stigma buruk sekarang ini?

Ini sebenarnya salah PKS sendiri. Sejak lama, partai yang dikabarkan sebagai anak kandung dari organisasi global ikhwanul muslimin ini, punya rekam jejak buruk dalam politik Indonesia. Publik mencatat, PKS-lah yang memulai model politik identitas di negeri ini yang membuat akhirnya politik kita menjadi kotor. Politik identitas PKS dimulai ketika mereka membangun narasi waktu Megawati mau jadi calon presiden. Megawati diisukan tidak boleh menjadi presiden karena ayat dan hadis tidak membolehkan seorang muslim menjadikan wanita sebagai pemimpin.

Di situlah tonggak awal politik identitas kita yang berkembang dengan varian-varian barunya, dan meluas yang akhirnya memecah belah negara ini. Dan PKS menikmati situasi ini sebagai bagian dari motor politik mereka untuk menguasai banyak daerah.

Dan melihat situasi yang tidak sehat untuk republik ini, publik Indonesia pun melawan. Mereka sejak 2014, punya motto yang seragam, “Di manapun PKS berpihak, maka pilihlah lawannya.” Dan itu betul-betul diaplikasikan, sehingga PKS akhirnya kalah selama 2 periode di dalam politik nasional. Mereka selama 10 tahun ini tidak pernah menduduki kursi di pemerintahan dan itu membuat nama PKS tergerus di mana-mana.

Akhirnya supaya tidak semakin hancur, PKS kemudian mengubah logo dan warna partainya. Warna partai yang dulu hitam emas, sekarang jadi putih oranye. PKS ingin mengubah citra dari yang dulu buruk, semoga sekarang disambut baik oleh masyarakat.

Tapi publik gak peduli. Pokoknya apapun yang berbau PKS, hajar habis. Mereka sudah muak dengan apapun yang PKS selama ini lakukan. Dan ini saatnya balas dendam. Siapapun yang punya jejak dengan PKS, hancurkan. Siapapun. Jangan sampai mereka ada dalam kabinet sekarang ini. PKS sudah dianggap virus yang akan meracuni seluruh piring jika ia ada di sana.

Mungkin ini bisa buat PR untuk Erick Thohir sebelum memilih direktur ataupun komisaris di jajarannya, hindarilah yang ada hubungannya dengan PKS. Karena itu “buruk buat bisnis”. Nama mereka adalah kartu mati bagi republik ini.

Nah, buat PKS daripada makin blunder, mending jangan cuma ganti logo sama warna partai aja. Tapi sekalian ganti nama. Gimana kalau saya usulkan namanya berubah menjadi Partai Sejahtera Keadilan atau disingkat PSK?

Komentar