MENYAKSIKAN RIZIEQ DEPRESI DAN MENGAMUK DI PENGADILAN

Oleh: Ade Armando

 

Kalau Anda pecinta Rizieq, nampaknya ada kabar buruk tentangnya. Saya duga dia saat ini depresi. Dan rasa frustrasinya ia tumpahkan dengan mengamuk-ngamuk di pengadilan Jakarta Timur.

Ia bahkan berdiri dari kursi untuk menuding-nuding jaksa. Barangkali memang tak banyak di antara Anda yang mengikuti berita tentang pengadilannya yang terus berlangsung. Rizieq perlahan tidak lagi menjadi nama yang diburu awak media.Namun, menurut saya, apa yang terjadi di ruang pengadilan sungguh penting untuk diketahui.

Rizieq sedang mengalami terjun bebas. Dari seseorang yang dielu-elukan, dianggap sebagai imam besar umat Islam, kini menjadi pesakitan yang tak berdaya.

Apalagi FPI yang selama ini menjadi pengawal utamanya sudah semakin menciut dan tersudut. Bukan cuma dibubarkan, namun aliran dananya pun sudah disumbat. Rencana aksi teror di pengadilannya pun keburu dibongkar polisi.

Rizieq mungkin sadar dia tinggal menghitung hari. Karena itulah dia meracau. Semula saya mengira dia akan menjadikan pengadilan sebagai panggung pertunjukan. Saya menyangka dia akan beracting sebagai martir yang dizalimi. Sebagai seorang ulama yang berjuang dengan penuh kewibawaan dan keberanian di hadapan pengadilan yang zalim.

Tapi yang terjadi jauh dari bayangan itu. Yang terlihat adalah gaya seorang drunken master, pendekar mabuk, yang mempergakan jurus tak karuan.

Sekadar sebagai catatan, Rizieq diadili karena tiga kasus: dia dianggap bertanggungjawab atas kerumunan di Petamburan, berbohong dalam kasus test usap palsu di RS Ummi Bogor, dan kasus kerumunan di Pondok Pesantren FPI, Megamendung.
Rizieq sudah berulah sejak persidangan pertama di pertengahan Maret.

Dia memutuskan walk-out saat jaksa membacakan dakwaan. Dia beralasan tidak mau mengikuti persidangan yang digelar secara virtual. Rizieq kembali menolak hadir di persidangan online lanjutan, ketika jaksa menjemputnya di lorong menuju ruang sidang di Rutan Bareskrim.

Saat itu dia sudah mulai marah-marah. Dengan kasar dia membentak petugas penyiaran yang merekam momen-momen tersebut yang tersiar via live streaming.

Ketika akhirnya dia berhasil dipaksa dihadapkan ke layar yang memperlihatkan majelis hakim, Rizieq langsung tancap gas meluapkan amarahnya. “Saya dipaksa, didorong, dihinakan! Ini hak asasi saya sebagai manusia,” seru Rizieq.

Hakim kemudian mengabulkan permintaan Rizieq dan tim kuasa hukumnya perihal sidang secara offline di Pengadilan Jakarta Timur. Tapi saat sidang offline pun, perangai Rizieq tidak berubah. Pada sidang test usap palsu, dia marah-marah pada Wali Kota Bogor, Bima Arya. Rizieq marah sebab Bima menyebutnya berbohong dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Menurut Bima, Rizieq tidak mengaku terkena Covid saat dirawat di RS Ummi.

Rizieq membantah. Bahkan dengan sombong dia bilang: “Kalau memang ada hasil test yang menyatakan saya positif Covid dan saya bilang saya sehat, saya salah. Saya harus dituntut, harus dipenjara, saya rela,” ujarnya.

Dengan pongah Rizieq menyatakan: “Saya minta dicatat bahwa Walikota Bima Arya, Walikota Bogor sekaligus sebagai Kepala Satgas Covid-19, di pengadilan yang mulia ini telah melakukan kebohongan di atas kebohohongan,” katanya.

Lucunya, pada persidangan selanjutnya, Rizieq mengaku ia memang bohong dan sengaja merahasiakan bahwa dia positif Covid-19. Dia mengaku membuat surat resmi melarang RS mengumumkan hasil test swabnya, dengan alasan agar tidak dipolitisir.

“Sebenarnya kalau pihak luar datang baik-baik, nanya baik-baik, saya berikan,” ujarnya membela diri.

Pengakuannya ini ia keluarkan setelah pengadilan menghadirkan dokter yang merawat Rizieq dan menyatakan Rizieq memang positif Covid-19 dan karena itu dirawat di RS Ummi.

Rizieq juga berulang kali membentak dan menghina jaksa. Pada akhir Maret, saat membaca nota pembelaan, Rizieq menyebut para jaksa dungu, pandir, dan menyebarkan hoaks dan fitnah. Dia marah ketika jaksa memintanya tidak menggiring opini para saksi.

Dalam kasus Bima Arya, jaksa misalnya menginterupsi dan meminta hakim agar tidak membiarkan Rizieq mencecar dan menuduh Bima Arya pembohong.

Karena dipotong oleh jaksa, Rizieq lantas mengamuk. “Cukup Jaksa Penuntut Umum, cukup. Ini hak saya bicara, cukup. Saya berhak membela diri karena saya yang akan dipenjara,” ucap Rizieq dengan nada tinggi sambil menunjuk-nunjuk jaksa.

Rizieq kembali meluapkan amarah dalam persidangan berikutnya ketika pengadilan menghadirkan Kepala Satpol PP Kabupaten Bogor, Agus Ridhallah, terkait kasus kerumunan Megamendung.

Dalam kesaksiannya, Agus menjelaskan bahwa dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren FPI di Megamendung, sama sekali tidak diterapkan protokol kesehatan dan jumlah hadirin pun melebihi batas yang ditentukan.

Kemudian Agus menjelaskan bahwa yang bertanggungjawab adalah pemilik pondok pesantren, yang adalah Rizieq Shihab.

Rizieq tidak terima dan kemudian dia meminta Agus menjelaskan apakah ada kasus serupa yang diajukan ke pengadilan. Ketika itulah jaksa menginterupsi dan menyatakan pertanyaan tersebut menggiring saksi.

Rizieq pun marah bukan alang kepalang. Rizieq berdiri dari kursinya dan menunjuk jaksa. “Anda memidanakan Maulid Nabi, itu hanya khawatir! Anda khawatir, Anda ketakutan!” kata Rizieq kepada jaksa.

Beberapa tim penasehat hukum Rizieq pun tampak ikut berdiri dan menunjuk-nunjuk jaksa. Jadi, seperti saya bilang, Rizieq nampaknya sudah kehilangan kendali. Dan ini menunjukkan bahwa ia sebenarnya depresi dan frustrasi.

Kemarahannya pada pengadilan, pada jaksa, pada saksi, adalah cerminan keputusasaannya. Rizieq sedang terjun bebas. Padahal proses pengadilan masih berlanjut. Dan sangat mungkin, Rizieq akan diadili bukan hanya untuk tiga kasus ini.

Jadi, cerita masih jauh dari selesai. Kita ikuti saja secara seksama.

Komentar