Mengharap Kelompok Hijrah Bersikap Moderat, Mungkinkah?

Oleh: Syafiq Hasyim

 

Istilah hijrah yang tadinya sangat positif, kini menjadi kontroversi karena dipakai dan dibajak oleh sekelompok orang yang mengklaim diri mereka, “telah lahir dan pindah dari situasi lama ke dalam situasi baru, situasi yang dianggap lebih baik dari situasi yang mereka alami sebelumnya.”

Situasi lama mereka biasa disebut sebagai situasi kebodohan atau jahiliyah dan situasi baru mereka sering klaim sebagai situasi yang lebih sesuai dengan agama, lebih sesuai dengan kebenaran dan sinar pengetahuan. Mereka juga mengklaim situasi yang mereka jalani itu adalah situasi yang sesuai dengan Sunnah. Karena mereka yang paling Sunnah maka yang lain dari mereka tidak dianggap sebagai orang yang mengikuti Sunnah.

Karena yang lain tidak sesuai dengan Sunnah, maka yang lain mereka anggap juga melakukan hal yang tidak diizinkan oleh Sunnah. Pendek kata, kelompok hijrah ini memantapkan diri sebagai kelompok yang paling benar. Cara pandang demikian sering diucapkan oleh mereka yang hijrah, dari banyak lapisan, orang biasa, orang terpelajar dan bahkan artis-artis.

Sementara banyak pihak yang masih berharap jika orang-orang yang mengklaim berhijrah ini untuk kembali kepada jalur kehidupan agama yang moderat. Moderat di sini berarti cara pandang dan sikap keagamaan yang berada di tengah-tengah. Tidak ekstrem ke kanan dan tidak ekstrem ke kri. Dalam bahasa Arabnya, moderat biasa disebut dengan istilah wasatiyyah. Sikap dan cara pandang moderat inilah yang sesungguhnya yang dianjurkan Nabi Muhammad untuk umatnya.

Dalam sebuah hadis Nabi menyatakan, sebaik-baik perkara apabila bisa berada di tengah-tengahnya.  Sikap dan cara pandang moderat ini diyakini adalah sikap dan cara pandang yang paling ideal bagi umat, apabila bisa dilaksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan sikap moderat ini umat Islam tidak mudah mengekslusi dan mempersekusi pihak seagama dan maupun pihak yang di luar agama.

MUI dan organisasi-organisasi Islam mengajak semua umat Islam di Indonesia agar mengikuti cara pandang dan cara hidup Islam-Wasatiyyah ini. Bahkan negara, melalui program Kementerian Agama memprakarsai kegiatan-kegiatan dialog antarumat Islam dan juga antaragama tentang moderasi beragama.

Namun, maukah kelompok hijrah ini mengubah sikap dan cara pandang yang cenderung ekstrem ini untuk ke arah tengah?

Saya berpendapat jika mereka, atau kelompok hijrah ini, akan sulit untuk bergerak ke arah tengah atau ke arah moderat. Mereka sulit untuk menjadi orang yang bisa melihat praktik keagamaan di luar kelompoknya sebagai praktik keagamaan yang sama dengan mereka, dalam hal kebenaran.

Mereka sulit untuk menerima kenyataan bahwa ada kebenaran lain di luar kebenaran yang mereka yakini. Bahkan mereka sulit bisa menerima bahwa di dalam agama itu ada khilafiyah (perbedaan pendapat). Orang seperti Arie Untung misalnya, akan sulit untuk menerima kenyataan bahwa di kalangan ahli fiqih itu ada perbedaan pendapat tentang hukum bunga bank.

Hal ini bisa terjadi karena di dalam mendapatkan pengajaran agama, mereka mendapatkannya melalui jalur yang doktrinal dan otoriter. Guru-guru mereka tidak memberikan pengetahuan yang obyektif dan lengkap tentang perkembang keilmuan di dalam Islam, keilmuan keagamaan tentang tafsir, hadis, fiqih, usul fiqih, tasawuf, dlsb, yang terus berkembang dalam menjawab tantangan zaman. Guru-guru mereka lebih menekankan pada aspek ketaatan-literal atau harfiah daripada aspek nalar agama yang rasional.

Jadi, bicara kaum hijrah ini tidak bisa berhenti pada sosok-sosok artis atau kelompok-kelompok masyarakat lain yang sering aneh mengeluarkan kontroversi sepihak dan tanpa dasar, namun juga bicara tentang tradisi penularan pengetahuan Islam yang terjadi di kalangan mereka.

Saya berpandangan bahwa orang-orang yang mendapat pengetahuan agama dengan jalur yang demikian akan sulit untuk bergerak menjadi manusia moderat. Mereka akan cenderung terus berada di zona yang ekstrem. Dalam konsep demokrasi kita, berhadapan dengan kelompok hijrah ini merupakan problem tersendiri.

Pada satu sisi, mereka memiliki hak untuk berada pada posisi keagamaan yang mereka yakini, posisi keagamaan yang ekstrem. Pada sisi lain, posisi yang seperti itu akan memberi pengaruh buruk pada kehidupan di ruang publik. Bayangkan kalau mereka terus mempromosikan agar orang keluar dari pekerjaan mereka, yang terkait dengan persoalan bunga bank, karena bunga bank bagi mereka pasti haramnya, maka hal itu akan berdampak pada penyusahan negara.

Mengapa? Karena setelah keluar dari pekerjaan mereka, mereka tidak memiliki pekerjaan yang pasti. Pada umumnya, pada bulan-bulan awal mereka bisa berusaha dengan berjualan produk-produk tertentu atau yang lain, namun dalam banyak kasus menununjukkan akhirnya mereka tiba menjadi pihak yang tidak memiliki penghasilan tetap.

Apa yang mereka dapatkan sehari-hari tidak sesuai dengan kebutuhan yang harus mereka penuhi sehari-hari. Artinya apa? Mereka akan menjadi beban negara dan mungkin juga akan menjadi beban masyarakat. Dan jika yang terjadi demikian, apa yang bisa dilakukan oleh para penganjur hijrah atas umat mereka yang seperti ini?

Tidak semua dari mereka yang memiliki harta cukup, tabungan, atau keterampilan usaha. Tidak semua dari mereka seperti artis-artis hijrah yang masih memiliki modal cukup untuk menjalani hidup mereka. Mengapa mereka misalnya tidak berusaha untuk tahu dulu bahwa di dalam perdebatan fiqhiyyah soal bunga bank itu menjadi wilayah khilafiyah. Ada ulama yang mengharamkam bunga bank dan ada pula ulama yang membolehkannya, karena bunga bank yang ada sekarang ini mereka anggap tidak masuk dalam kategori riba yang dikehendaki oleh al-Quran.

Melihat beberapa studi, problem kelompok hijrah ternyata tidak hanya terkait dengan sikap ekslusif dan ekstrem mereka, namun juga terkait dengan soal ketahanan ekonomi mereka pascahijrah yang tidak jarang mengalami kesulitan. Namun, banyak dari mereka yang menganggap jika kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup pascahijrah bukan mereka anggap sebagai masalah besar bagi mereka.

Mereka berkeyakinan jika hidup keluar dari jeratan ekonomi riba adalah sebuah kewajiban bagi mereka. Keyakinan mereka atas hal ini sangat tinggi. Dari kesulitan ini pula, lalu mereka mulai melakukan kritik pada sistem ekonomi negara yang menurut mereka harus diubah.

Sebagai catatan, kombinasi antara keyakinan agama yang literal dan tertutup dengan keyakinan ekonomi yang sebagaimana mereka peluk selama ini adalah hal yang menurut hemat saya sesuatu yang sulit bagi mereka untuk kita harapkan bergerak menuju ke arah tengah, ke arah moderasi beragama.

Komentar