PENGHINAAN JOSEPH ZHANG, UNI EROPA, DAN NASIB TIONGHOA-KRISTEN

Oleh: Ade Armando

 

Jozeph Paul Zhang tidak perlu diberi simpati. Saya percaya penghinaannya pada Nabi Muhammad, ia lakukan untuk tujuan yang sangat pragmatis. Ucapan-ucapannya sangat provokatif. Yang paling bikin marah bukanlah pernyataannya bahwa dia adalah nabi ke-26.

Klaim-klaim sepihak itu sih biasa saja. Yang lebih penting adalah kalimat berikutnya. Dia menyebut dia bertugas untuk meluruskan kesesatan ajaran Nabi Muhammad dan kecabulannya yang maha cabulullah. Menyebut Nabi Muhammad sebagai nabi sesat dan cabul tentu adalah penghinaan luar biasa.

Tentu dia tahu bahwa itu pasti akan menimbulkan kemarahan dan sanksi hukum. Tapi saya rasa dia memang bertujuan itu. Dia ingin dikejar polisi Indonesia, dan kemudian dengan alasan itu dia akan meminta suaka politik agar bisa diterima sebagai warga Uni Eropa.

Saya sudah memperkirakan alasan ini sejak pertama kali kasus Jozeph ini mencuat. Tapi ini dikuatkan oleh wawancaranya dengan Jawa Pos yang disiarkan di Youtube. Dalam percakapan itu, dia menyatakan dia memang akan atau sudah meninggalkan kewarganegaraan Indonesia.

Dia memang tidak akan pulang ke Indonesia. Jawaban ini menjadi menarik karena pihak kepolisian Indonesia sudah menyatakan bahwa Jozeph masih WNI dan tidak data yang menunjukkan dia sudah memperoleh kewarganegaraan Jerman.

Kata Jerman disebut karena media memberitakan dia berada di Berlin. Dalam wawancara dengan Jawa Pos itulah, Jozeph menjelaskan yang bilang dia ada di Jerman itu hanyalah media.

Di mana dia sesungguhnya, dia tidak mau bilang. Jadi dengan kata lain dia mungkin sudah atau akan memperoleh kewarganegaraan lain di Eropa, di luar Jerman. Dalam wawancara itu, Jozeph menyatakan bahwa ada banyak cara untuk menjadi warga negara di Eropa.

Dia punya cara tersendiri agar bisa hidup legal di Eropa. Dia sudah meninggalkan ke-WNI-annya, tapi dia juga tidak tanpa kewarganegaraan (stateless) di Eropa. Tapi ketika wartawan bertanya lebih lanjut, dia bilang dia tidak bisa menjelaskan cara yang ditempuhnya.

Dia katakan, kalau prosesnya dia jelaskan dia akan disalahkan oleh penasehat hukumnya. Kalau dia jelaskan cara dia tinggal hidup di Eropa, akan banyak orang berbondong-bondong pindah ke Eropa dengan cara yang sama. Karena itulah, Jozeph menolak menjelaskan isu kewarganegaranya itu.

Bagi saya, ini memperkuat dugaan bahwa dia memang berusaha menjadi warga negara Eropa dengan cara meminta suaka politik. Negara-negara Eropa memang saat ini menjadi wilayah yang menampung para imigran yang melarikan diri dari negara asalnya karena berbagai alasan.

Alasan yang lazim digunakan adalah melarikan diri karena perang, penindasan atau juga karena dipersekusi oleh pemerintah. Negara-negara Eropa mudah jatuh hati dengan para aktivis atau warga dari negara berkembang yang menyatakan diri di negara asalnya mereka tertindas.

Itulah modus Jozeph. Kalau dia sampai dijadikan buronan polisi Indonesia, itu adalah bukti yang sangat kuat untuk membuktikan bahwa dia tertindas.

Karena itu semakin keras kita memburu dia, semakin kuat alasan baginya untuk memohon perlindungan dari Uni Eropa.

Ini bukan modus baru. Ini sudah sejak lama terdengar. Ada banyak orang Indonesia yang mengaku-aku bahwa mereka hidup di bawah ancaman, penindasan, persekusi agar bisa diterima menjadi warga negara di sana. Karena itu menurut saya Jozeph Paul ini culas. Untuk tujuan personalnya, dia dengan sengaja mengompori kemarahan umat Islam.

Untunglah kemarahan umat Islam di Indonesia tidak tersulut.

Saya bayangkan, kalau orang seperti Rizieq Shihab masih bebas, kalau FPI dan HTI masih ada, kalau ustaz-ustaz radikal masih mudah memprovokasi umat, apa yang diucapkan Jozeph itu akan menjadi mesiu untuk meledakkan penyerangan terhadap umat Kristen.

Saat ini saja kita bisa membaca maki-maki yang menyebar di berbagai media sosial. Tapi tanpa pimpinan dan tanpa ada organisasi yang memobilisasi gerakan, kemarahan itu sulit untuk terwujud dalam gerakan massa.

Selain itu, sikap tegas dan langsung dari POLRI juga turut menenangkan massa untuk tidak bertindak anarkis. Jadi kita pantas bersyukur bahwa, karena kondisi yang ada, ucapan Jozeph tidak berdampak pada konflik yang bisa memakan korban terutama kaum Kristen Tionghoa.

Bagaimanapun, kemungkinan itu sebenarnya ada, dan Jozeph secara tidak peduli mengabaikannya. Tidakkah dia sadar, kalau kerusuhan sampai terjadi, yang akan menjadi korban adalah saudara-saudaranya sendiri, sesama umat Kristen.

Dia bisa tenang-tenang hidup di Eropa. Tapi saudara-saudaranya di Indonesia? Tidakkah mereka bisa menjadi korban empuk sasaran kemarahan massa yang beringas? Karena itu Jozeph Zhang tidak perlu diberi simpati.

Kalau kita mendengar wawancaranya dengan wartawan Jawa Pos, kita mungkin bisa mengerti mengapa dia membenci Islam. Sejak kecil dia dibully karena dia Kristen dan dia Tionghoa. Dia diteriaki Cina, dipukuli.

Rumahnya pernah didatangi warga satu kampung Ayahnya hampir dibunuh. Semula dia melawan dan berkelahi, tapi pelan-pelan dia memilih diam dengan memendam kemarahan. Sampai akhirnya dia merasa terpanggil untuk mewartakan Injil kepada masyarakat.

Selama menjalankan misi sucinya itu, dia terus mengalami hambatan dan ancaman. Dia juga menyaksikan bagaimana umat Kristen ditindas. Gereja dilarang dibangun. Gereja ditutup. Di Indonesia ada UU Penistaan Agama, tapi yang dihukum cuma orang Kristen yang dianggap menghina Islam, kata Jozeph. Tapi kalau orang Islam menghina Kristen, dibiarkan.

Karena itulah sekarang ketika di Eropa, dia merasa bebas melontarkan semua uneg-unegnya tentang Islam. Dia merasa bisa meneriakkan apa yang selama ini dipendamnya. Dan, menurutnya, dia tidak merasa bersalah karena dia sekadar mengungkapkan kebenaran yang diyakininya.

Dia juga bilang, kalau ucapan-ucapannya disampaikan dengan nada santun dan penuh kasih, tidak akan ada banyak orang mendengarnya.

Tapi kalau dia meneriakkan serangannya kepada Islam dengan keras, memang akan ada banyak orang yang marah, tapi di antara yang marah itu akan ada sebagian orang yang akan tertarik untuk mempelajari pandangan-pandangannya.

Jozeph percaya begitu orang tertarik mempelajari pandangan dan tulisannya secara mendalam, mereka akan memeluk Kristen.

Menurut saya, Jozeph mengambil jalan yang salah. Jozeph mungkin punya pengalaman hidup yang pahit. Tapi kalau metode yang ia pilih adalah memprovokasi dan menghina Islam dia justru akan melanggengkan kebencian dan penindasan terhadap umat Kristen.

Saya setuju bahwa Jozeph harus menyebarkan kebenaran yang diyakininya. Dan kebenaran itu kadang menyakitkan. Tapi apa perlu dengan menyebarkan penghinaan? Sampaikan saja kritik terhadap Islam dengan cara yang berwibawa.

Kita semua bisa kok membedakan antara menyampaikan kebenaran dan menghina. Kalau Jozeph ingin mengkritik hukum poligami dalam Islam misalnya, sampaikan saja secara kritis dan lurus.

Banyak sarjana Islam yang mungkin akan bersepakat. Tapi kalau Jozeph menyebut Nabi Muhammad adalah nabi cabul cabulullah, itu adalah penghinaan yang tidak akan diterima muslim yang paling moderat sekalipun.

Memang ini semua mungkin tidak relevan bagi Jozeph. Dia mungkin memang sekadar ingin memaki-maki Islam saja. Dan mungkin dia memaki-maki Islam agar dia bisa hidup lebih diterima sebagai warga Uni Eropa.

Karena itu, dengan akal sehat, kita rasanya tidak perlu bersimpati pada Jozeph. Orang seperti Jozeph adalah bagian dari masalah.

Komentar