NGERI… TSUNAMI CORONA DI INDIA

Oleh: Denny Siregar

 

Bulan Maret 2021, Menteri kesehatan India mengumumkan dengan kebanggaan, bahwa India sudah dekat dengan kemenangan melawan Covid. Dia mengambil data bulan Februari, dimana kasus infeksi disana rata-rata 11 ribu kasus. Jauh dibawah tahun lalu yang mencapai 93 ribu kasus.

Kabar dari Menteri kesehatan ini disambut dengan penuh kemenangan oleh masyarakat India yang berjumlah lebih dari 1 milyar orang itu. Mereka melepas masker dan mulai menghadiri banyak kegiatan berkumpul dengan orang banyak. “Kita masuk pada fase herd immunity..” kata mereka. Herd immunity adalah keyakinan sebagian orang bahwa virus tidak akan menyebar jika dalam sebuah kelompok sudah banyak orang yang kebal. Dalam arti sederhana, cuekin aja virusnya, entar mati mati sendiri..

Dan itulah yang terjadi. Ketika ada festival keagamaan umat Hindu, jutaan orang datang dari segala penjuru dan menuju satu titik yang sama, yaitu sungai Gangga di India. Media menyebut ada 5 juta orang yang kumpul disana. Mereka tidak pakai masker dan tidak menjalankan protokol kesehatan. Buat warga India yang datang ke sungai Gangga, Covid akan disembuhkan oleh Dewa mereka. Rakyat India sangat percaya bahwa sungai Gangga adalah “ibu” mereka, yang akan menyembuhkan segala penyakit termasuk menambah rejeki mereka.

Selesai pesta keagamaan itu, meledaklah Covid varian kedua disana. Dan meledaknya gak tanggung-tanggung, mirip tsunami Corona. Dari angka 11 ribu efeksi yang diumumkan Menkes, mendadak naik menjadi 250 ribu orang terinfeksi Corona. Rumah sakit di India penuh, ambulans dimana-mana. Bahkan karena sudah tidak sempat lagi melakukan autopsi, yang mati langsung dibakar oleh petugas di beberapa tempat. India dari gembira, langsung sedih mendadak karena banyak orang yang kehilangan sanak saudara.

Dari kasus di India ini, kita belajar bahwa Covid ini gak bisa dipandang enteng. Ketika virus ini menyebar, dia punya kekuatan berkali-kali lipat dari penyebaran sebelumnya. Apalagi kalau ada kelompok yang dengan bangganya bilang, bahwa herd immunity itu adalah solusinya. Seperti di India, ternyata pemikiran seperti itu tidak menyelamatkan nyawa mereka.

Itulah kenapa pemerintah kita melarang mudik tahun ini. Dan larangan kali ini benar-benar keras, karena seluruh moda transportasi mulai dari darat sampai udara dibekukan selama beberapa hari.

Kenapa harus dilarang mudik ? Karena mudik itu adalah peristiwa besar buat orang Indonesia, mirip dengan orang India waktu mereka menghadiri upacara keagamaan. Jutaan orang dalam waktu yang sama akan bergerak menuju satu tujuan, bercampur dengan yang lain, sudah pasti tidak ada jarak dan masker juga akan dilepas.

Kalau itu terjadi, mungkin kita gembira ketemu keluarga karena sudah lama tidak jumpa. Apalagi ketemu orang tua sambil makan makanan yang biasanya terhidang setahun sekali kalau ada acara. Habis itu jalan-jalan ke tempat hiburan, sambil bawa anak-anak liburan.

Tapi yang terjadi sesudah itu, bisa mirip dengan apa yang terjadi di India, yaitu tsunami Corona. Bisa banyak orang yang kehilangan keluarga dan kita harus mulai dari nol lagi dalam melawan Corona, padahal sudah ratusan triliun rupiah yang dikucurkan untuk menghadang virus itu beserta dampak ekonominya. Di India sekarang sudah berlaku jam malam, untuk mencegah penyebaran Corona. Masak di kita juga harus begitu, ada jam malam sehabis libur lebaran ? Ekonomi bisa anjlok lagi.

Sejak awal Corona, India adalah negara yang cocok untuk dijadikan pelajaran buat kita. Ketika India lockdown, kita akhirnya melihat betapa sengsaranya ekonomi mereka sehingga kita tidak melockdown negara tetapi menerapkan konsep pembatasan sosial. Dan ketika India akhirnya gagal dalam menerapkan konsep herd immunity, kita mulai berjaga-jaga jangan sampai kita seperti India, dihantam gelombang virus kedua.

Lebih baik sementara ini, kita lebaran di rumah saja. Tahan diri dulu dan bersabar. Kita juga tidak ingin menularkan orang tua kita yang daya tahan tubuhnya pasti lebih lemah dari kita, virus yang bisa mengambil nyawa mereka. Bertemu mereka dan maaf2an lewat video call juga bisa. Ga mengurangi nilai spiritualnya. Teknologi ada untuk memudahkan itu semua.

Untuk semuanya, semoga tetap sehat dan jangan lupa, masker jangan dilepas ketika kita ada diluar rumah, apalagi ketika kita ada di dekat kumpulan orang banyak..

Komentar