MEMBONGKAR JARINGAN YANG MENGANCAM INDONESIA

Oleh: Ade Armando

 

Kalaulah saya kembali mengingatkan Anda tentang gerakan teror Islamis Radikal, saya tidak sedang menakut-nakuti. Saya tidak sedang ingin membuat Anda ketakutan melihat orang bersorban, berbaju gamis, berjanggut, bercadar.

Saya tidak ingin Anda menyamakan Islam dengan teror. Tapi saya wajib mengingatkan adanya ancaman nyata kaum Islamis Radikal yang bersedia melakukan aksi teror untuk mencapai tujuan mereka. Ancaman itu bukan mengada-ada.

Jadi kalau saat ini Anda melihat POLRI atau Densus kita bersikap tegas menindak kelompok-kelompok tersebut, tolong dukung aparat keamanan kita. Ancaman Islamis Radikal itu bukan hasil konspirasi untuk menghancurkan Islam di Indonesia.

Kaum radikal yang bisa menjelma menjadi kaum teroris itu adalah mereka yang percaya bahwa mendirikan negara Islam adalah sebuah kewajiban dari Allah dan karena itu mereka akan melakukan apapun untuk memenuhi kewajiban itu, termasuk membunuhi orang. Kita tidak perlu lagi berusaha mengingkari bahwa Front Pembela Islam (FPI) adalah organisasi di mana mereka berkumpul.

FPI dulu mungkin dibentuk untuk memperjuangkan kepentingan kelompok-kelompok yang berseteru dalam kancah politik Indonesia. Belakangan mereka menjelma menjadi organisasi penyedia jasa preman untuk pihak-pihak yang bersedia membayar.

Tapi segenap perkembangan politik yang terjadi terutama sejak pemerintahan Jokowi menyebabkan mereka menjelma menjadi kelompok ekstrem yang berkomitmen untuk menumbangkan pemerintahan yang sah.

Mulai terkuak fakta bahwa salah satu orang yang paling berperan memimpin dan mengarahkan FPI menjadi organisasi radikal dan bahkan ekstrem adalah Munarman. Tidak semua anggota FPI happy dengan manuver Munarman. Tapi kepercayaan yang diberikan kepada Munarman telah sedemikian besar selama beberapa tahun terakhir ini, sehingga ia sekarang bisa disebut sebagai orang nomor 1 yang menentukan arah perjuangan FPI.

Salah satu yang sudah sukses dilakukannya adalah mengumpulkan orang-orang yang berkomitmen untuk terlibat dalam projek-projek kekerasan FPI. Hampir tidak mungkin Munarman beroperasi sendiri. Tapi kita tidak tahu persis juga siapa yang berada di belakang Munarman.

Yang pasti dia menempati posisi sentral dalam jaringan kekerasan dan teror yang terjadi. Dan yang menakutkan, para pelaku yang menjadi bagian dari jaringan kekerasan ini mungkin sekali berada di sekitar kita. Cerita-cerita tentang anggota jaringan teroris yang terbongkar menunjukkan mereka ada di mana-mana.

Kita sebut saja contoh Husein Hasny, yang ditangkap Densus 88 di Jalan Raya Condet, Jakarta Timur, akhir Maret lalu. Dia pernah menjadi Wakil Ketua Bidang Jihad FPI. Penampilan kesehariannya sih biasa saja. Dia adalah juragan tanah atau juragan ruko yang disewakan kepada para pelaku usaha di sekitar rumahnya.

Ia kaya raya dan punya tanah sangat luas. Ia memang dikenal tertutup dan hampir tak pernah beraktivitas bersama warga sekitar, tapi tidak ada yang menyangka ia terlibat dalam jaringan teror. Saat penggerebekan, polisi menemukan kartu anggota FPI.

Dia juga memiliki seragam berwarna hijau bertuliskan FPI, buku berjudul Amar Ma’ruf Nahi Munkar, poster Rizieq Shihab, kalender serta kaus yang berkaitan dengan reuni alumni 212.

Orang seperti Husni ini ternyata punya peran penting dalam FPI dan rencana aksi teror yang untungnya berhasil digagalkan. Sebagian besar anggota jaringan teroris yang ditangkap polisi di beberapa lokasi ternyata memang direkrut Husein di markas FPI Petamburan.

Menurut hasil penelusuran, mereka berencana meledakkan beberapa sasaran objek vital seperti SPBU di wilayah Lenteng Agung, pipa gas di daerah Bogor, industri milik Cina, dan pabrik Aqua di Sukabumi.

Kelompok ini juga menargetkan perusahaan dan industri Cina karena mereka beranggapan bahwa negara Indonesia sudah dikuasai oleh Komunis (Cina). FPI sendiri memang berkeras membantah bahwa Husein adalah anggota FPI. Munarman menyebut mereka sebagai oknum.

Tapi fakta-fakta yang terkumpul menunjukkan sulit untuk membantah mereka adalah bagian organik dari FPI. Walaupun secara organisasi FPI sudah bubar, namun eks anggotanya dan simpatisan FPI yang sudah terikat dalam jaringan yang kokoh selama bertahun-tahun sangat mungkin terus mengembangkan aksi ideologis, politis, dan terornya walau tanpa menggunakan nama FPI.

Bom yang dibuat oleh kelompok Husein adalah Bom TATP, atau dikenal juga dengan sebutan yang menyeramkan, “Mother of Satan”. Julukan itu diberikan karena TATP adalah bom kimiawi yang sangat berbahaya dan punya daya ledak tinggi.

TATP adalah jenis bom yang mudah dibuat tapi sangat sensitif dan tidak stabil dan kalau ada sedikit saja salah penanganan, bom ini akan meledak. Bahan peledak TATP yang ditemukan polisi di dua lokasi, mencapai 4 kg, yang kalau dikembangkan bisa melahirkan 200 bom siap ledak. Mereka bahkan berencana menggunakan alat remot agar bisa meledakkan bom dari jarak jauh.

Walau kaya raya, Husein tidak mau pendanaan ditanganinya sendiri. Kelompok ini juga mengumpulkan uang dengan cara infak setiap ada pengajian yang dilakukan bergilir di rumah anggotanya. Pembelian bahan kimia dilakukan berkali-kali, untuk menghindari kecurigaan.

Bila semua bahan peledak sudah siap, itu akan dibagikan kepada DPW-DPW FPI di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Mereka juga melakukan aksi pengisian ilmu kebal di rumah Abah Popon di Sukabumi. Ini dilakukan agar mereka kebal terhadap senjata Polisi dan tidak perlu takut pada saat melakukan aksi.

Para anggota juga diwajibkan berbaiat dan janji setia, serta bersumpah tidak akan menyebutkan nama-nama anggota yang terlibat jika ditangkap oleh pihak kepolisian. Saat ini polisi dan Densus 88 masih terus berusaha membongkar jaringan teror ini. Salah satu daerah yang berulang kali disebut adalah Makassar.

Kita mungkin hanya mengingat adanya aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Maret lalu. Namun informasi sesungguhnya jauh lebih luas. Pada awal tahun ini polisi sudah menangkap sekitar 20 orang terduga jaringan teroris di Villa Mutiara, Makassar.

Mereka tergabung dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang berkedok pengajian. Setelah ditelusuri, diketahui bahwa ada banyak irisan keanggotaan JAD dan FPI.
Pasutri pelaku bom bunuh diri di depan Geraja Katedral itu sangat mungkin terkait dengan organisasi ini.

Dan minggu lalu kita mendengar polisi menangkap 6 terduga teroris yang terkait dengan aksi bom bunuh diri itu, yang tergabung dalam grup ‘Batalyon Iman’. Total saat ini sudah ada 33 terduga teroris yang ditangkap pasca bunuh diri Makassar, dan salah seorang di antaranya adalah pensiunan BUMN.

Yang menarik mereka semua mendapat pelatihan teror di sebuah kompleks perumahan bernama Villa Mutiara di Makassar. Sekadar catatan, Villa Mutiara inilah tempat di mana pada tahun 2015 berlangsung pembaitan anggota ISIS. Dan di acara itu hadir Munarman.

Jadi, saya sama sekali tidak ingin membuat Anda semua resah. Saya hanya ingin mengatakan jaringan teroris itu ada. Dan sangat mungkin terkait dengan FPI. Yang bisa kita lakukan adalah bersikap tenang dan terus dukung aksi polisi, Densus, BIN, TNI membongkar dan menghancurkan jaringan teror Islamis Radikal ini. Mari kita terus bersatu.

Komentar