KURSI KRISTEN, KURSI ISLAM: SESAT PIKIR YAHYA WALONI

Oleh: Syafiq Hasyim

 

Yahya Waloni tidak berhenti untuk terus membuat kontroversi dalam kegiatan dakwahnya. Kontroversi terbaru yang diperkenalkan adalah benda ternyata memiliki agama. Dia sebut kursi Gereja atau kursi Kristen vs kursi Islam. Kursi yang sudah disediakan oleh penyelenggara sebagai tempat duduknya dalam sebuah acara dakwahnya ternyata ia anggap sebagai kursi Gereja atau kursi Kristen.

Karena kursi kayu yang didudukinya berbusa. Dia minta kursinya diganti dengan kursi kayu yang keras yang disebut dengan kursi Islam. Karena Islam menurutnya suka yang keras-keras.

Jelas, cara pikir kayak begini mencerminkan ketidaktahuannya dia akan Islam. Tampaknya, orang seperti Yahya Waloni memang sengaja berbuat kontroversi, karena itu yang bisa membuat mereka memiliki pendengar. Anehnya, fenomena asal bicara seperti ini kenapa kerap terjadi pada pendakwah-pendakwah yang berlatar belakang muallaf.

Pertama, dengan mengatakan ada kursi Gereja versus kursi Islam, sebenarnya dia tidak tahu apa hakikat agama dan untuk siapa agama itu diturunkan. Siapa saja di alam semesta ini yang bisa beragama atau siapa saja yang menjadi sasaran agama. Siapa saja yang keagamaannya diterima dan siapa saja yang keagamaannya tidak diterima.

Manusialah di bumi ini yang terkena seruan beban (taklif) untuk beragama. Itu pun di dalam konsep Islam, Allah memberi pilihan bebas kepada manusia, apakah manusia itu memilih beriman atau memilih inkar. Sudah barang tentu, dengan konsekuensinya masing-masing.

Hewan dan benda-benda, meskipun ciptaan Allah, itu tidak ada tuntutan bagi mereka untuk beragama, untuk memiliki agama tertentu. Jadi, kalau benda-benda mati seperti kursi disemati atau diberi identitas agama atau hal-hal yang berkaitan dengan agama, maka itu jelas-jelas cara berpikir yang mengada-ada.

Saya memandang bahwa Yahya Waloni sengaja melakukan itu untuk mendapatkan tanggapan dan respon dari para pendengar dan pendukungnya. Sudah barang tentu respon yang emosional yang dia harapkan. Provokasi seperti ini akan bahaya kalau dia terus dia lanjutkan dalam dakwahnya karena cara ini bisa membuat hubungan antar-agama di akar rumput, terutama di tempat di mana dia berdakwah bisa disharmonis dan bisa terpecah-belah.

Masalahnya, model Yahya Waloni yang lain juga masih banyak. Ini bagian dari keruwetan dalam penyelenggaraan dakwah di ruang publik yang selama ini tidak memiliki aturan yang ketat. Pendakwah model Yahya Waloni juga memperlihatkan kepada orang banyak tentang kelemahan sumber daya manusia pendakwah Muslim, pendakwah kita.

Bagi orang di luar, kenapa orang berdakwah dengan kualitas seperti itu masih mendapat tempat di dalam masyarakat kita dan masih ada pendengar dan penggemarnya juga. Saya sering mengatakan bahwa fenomena seperti ini justru bisa menjadi polusi bagi dunia dakwah kita.

Kedua, penyebutan kursi Gereja atau kursi Kristen dan kursi Islam itu sepintas tampak sederhana, namun jika kita pikirkan secara mendalam hal itu memiliki implikasi yang sangat jauh. Di balik pernyataan seperti itu ada kesan jika Yahya Waloni ingin membenturkan agama yang pernah diyakini dan agama baru yang kini dia yakini.

Bahkan rasa permusuhan dia pada agama lamanya itu terlihat melalui eskpresi dia dalam soal agama atau soal kursi tadi. Secara umum, apa yang diungkapkan oleh Yahya Waloni memang menunjukkan bahwa sasaran tembak para pendakwah di Indonesia adalah kelompok Kristiani.

Kristen dianggap oleh pendakwah model Yahya Waloni sebagai rival utama Islam. Kristen dianggap sebagai agama yang menduduki peringkat utama mengancam Islam di Indonesia. Karenanya, Kristen selalu menjadi agama yang disebut di depan di dalam konteks persaingan agama-agama di Indonesia.

Yahya Waloni harus tahu bahwa sejarah Islam-Kristen di Indonesia bisa dikatakan cukup baik. Pada masa awal-awal kedatangan agama-agama bisa dikatakan hubungan antara Islam dan Kristen berkompetisi secara damai. Masing-masing agama melakukan ekspansi untuk mendapatkan umatnya.

Bahkan, jika kita tilik sejarah awal tidak pernah ada kejadian benturan fisik atau perang antara umat Kristiani dan umat Islam di Indonesia. Sejarah Islam-Kristen di Indonesia sangat berbeda dengan sejarah Islam-Kristen di dataran Eropa atau di wilayah lainnya seperti di Afrika.

Karenanya, dalam konteks ini, pengungkapan pengalaman pribadi Yahya Waloni pada agama yang dia peluk sebelumnya untuk dia publikkan itu jelas-jelas tindakan yang tidak fair. Seolah-olah semua orang ingin diajaknya kepada urusan pribadi dia, merasakan pengalamannya, padahal publik belum tahu atau sama sekali tidak memiliki pengalaman dan imajinasi seperti yang Yahya Waloni miliki.

Dakwah adalah pekerjaan publik karena itu dilakukan untuk mempersuasi publik agar publik mengikuti apa yang dikatakan oleh si pendakwahnya. Karena itu hal-hal personal atau pribadi yang dibawa ke ruang publik layaknya adalah hal-hal yang baik dan memiliki pesan rahmatal lil ‘alamin.

Jika dia membawa hal-hal pribadinya ke publik, apalagi mengajak dan menyeru ruang publik agar membenci agama yang dia peluk sebelumnya, maka itu sama dengan melakukan agitasi dan penciptaan permusuhan di ruang publik pada pihak yang tidak terkait urusan dengannya.

Ketiga, sekali lagi saya berpendapat jika dakwah-dakwah seperti yang dilakukan oleh Yahya Waloni terus berkembang di masyarakat, maka saya tidak akan heran jika lambat laun hubungan antara Islam dan Kristen atau Islam dan agama-agama lain akan mengalami degradasi.

Apa yang kita bayangkan tentang hidup damai saling berdampingan bisa terkikis dengan model penceramah seperti Yahya Waloni. Di negara multi-agama seperti Indonesia, sudah barang tentu, dakwah model Yahya Waloni lebih menjadi ancaman serius daripada menjadi harapan hidup bagi negeri ini.

Kalau tidak ada upaya bersama untuk memperbaiki mutu dakwah, maka yang akan merugi kita semua. Di sini-lah saya setuju jika masing-masing agama di Indonesia melakukan peningkatan mutu pengetahuan bagi para pendakwah mereka masing-masing. Negara dalam hal ini bisa memberikan supportnya, penyediaan sarana-prasarana dan orang-orang yang ahli di masing-masing agama untuk melakukan peningkatan mutu dakwah tersebut.

Sebagai catatan, maraknya dakwah keagamaan di tengah-tengah masyarakat kita pada satu sisi menunjukkan gairah keagamaan yang tinggi, namun, sudah barang tentu dakwah yang berkualitas, bukan dakwah yang asal-asalan. Dakwah asal-asalan ini harus dihadapi dengan gerakan dakwah yang benar, yang memberi respon pada dakwah asal-asalan, agar dakwah asal-asalan tersebut tidak dianggap sebagai dakwah yang benar di lingkungan masyarakat.

Komentar