JOZEPH PAUL ZHANG, YAHYA WALONI, DAN DESAK MADE

Oleh: Denny Siregar

Saya juga gak paham ya, kenapa persoalan kita di dalam negeri itu masih itu-itu saja. Negara lain ada yang sedang mempersiapkan tur bahkan rencana tinggal di planet Mars. Ada lagi negara yang sekarang sedang menciptakan pasukan drone udara sebagai alternatif perang masa depan.

Dan bagaimana kabar Indonesia? Sampai sekarang masih berkutat di masalah penistaan agama.

Yang terbaru ada yang bernama Jozeph Paul Zhang, diperkirakan dia warga negara Hongkong, atau mungkin tinggal di Hongkong, dan berbicara di Youtube menghina agama Islam. Zhang bilang kalau dia adalah Nabi yang ke 26, sesudah Nabi Muhammad dan banyak lagi cercaan dia terhadap penganut agama Islam. Bahkan Zhang menantang polisi untuk menangkap dirinya. Mungkin Zhang pede karena dia tinggal di luar negeri.

Polisi pun gak bisa dilecehkan begitu saja. Mereka kemudian mengklaim sudah bekerjasama dengan interpol untuk menangkap Zhang. Dan keinginan polisi untuk menangkap Zhang ini didukung penuh oleh Nahdlatul Ulama.

Itu baru kasus yang Kristen menghina Islam. Adalagi yang Islam menghina Hindu.

Namanya Desak Made Darmawati, seorang ibu, seorang mualaf, yang juga dosen di sebuah perguruan tinggi. Video Desak Made ini viral di mana-mana karena di sana dia bilang kalau Hindu itu Tuhannya banyak, dan Bali sebagai pusat setan terbesar di dunia dan macam-macam lagi pernyataannya.

Ceramah Desak Made ini menyinggung orang Bali dan umat Hindu. Desak Made ramai-ramai dilaporkan ke polisi. Dan dia akhirnya minta maaf dan kesaktian meterai Rp10 ribu pun berjalan kembali. Desak Made membuat pernyataan dan diviralkan untuk meredam kemarahan. Meski sudah minta maaf, banyak pihak mendorong polisi untuk tetap menjerat Desak Made dengan hukuman.

Oke, tadi ada Kristen yang menghina Islam. Terus ada Islam yang menghina Hindu. Nah, yang sering kita dengar dan sampai sekarang aman-aman saja adalah Yahya Waloni, yang sering menghina Kristen.

Waloni ini gak tanggung-tanggung kalau soal menghina agama Kristen. Videonya suka viral di mana-mana. Dan kalau ditanya, kenapa dia sering kali menyerang umat Kristen, Yahya Waloni selalu beralasan kalau dia sayang sama Kristen, agamanya yang dulu dan dia ingin memberikan pencerahan. Lucunya, yang dimaksud pencerahan untuk agama Kristen itu dia sampaikan di depan umat agama lain, bukan di hadapan umat Kristen sendiri.

Kalau Jozeph Paul Zhang diburu, Desak Made disuruh minta maaf dan akan diproses hukum, lalu bagaimana nasib Yahya Waloni? Kenapa sih dia aman-aman saja sampai sekarang?

Ini karena pasal penistaan agama itu masih masuk dalam delik aduan, dalam artian harus ada yang mengadu dulu ke polisi, baru aduan itu akan diproses secara hukum. Kalau gak ada yang ngadu ya polisi gak bisa proses.

Nah, di sinilah kelebihan kalau menghina agama Kristen.

Agama Kristen mungkin agama yang paling sering dihina di Indonesia. Bukan hanya dihina, mereka juga bahkan dilarang ibadah di beberapa daerah. Dan karena terlalu seringnya ditekan itulah, umat Kristen kemungkinan besar menjadi apatis, “Ah, entar kalau dilaporin, kita kena masalah lagi,” begitu pikir mereka. Ya mereka gak salah, sih. Banyak kasus di mana umat Kristen selalu menjadi pihak yang dikorbankan. Kasus Ahok mungkin jadi salah satu contoh, di mana dia divonis karena kasus penistaan agama. Dan ini membekas sekali di hati umat Kristen di Indonesia.

Apalagi setiap hari Minggu, pendeta mereka selalu menekankan di dalam khotbahnya, “Kasihilah musuhmu, kasihilah musuhmu.” Sehingga umat Kristen akhirnya lama-lama menjadi orang yang nrimo, “Ah, cuma dihina. Toh masih bisa cari makan dan gak mati kalo cuma dihina doang.” Begitu mungkin pikiran sebagian besar dari mereka.

Konsep keikhlasan umat Kristen Indonesia terhadap hinaan kepada mereka inilah yang mengagumkan buat saya. Hinaan terhadap agama bukan lagi sesuatu yang penting, yang penting adalah prestasi di dalam hidup di dunia. Persis seperti apa yang mereka yakini, “Kalau pipi kananmu ditampar, berikanlah pipi kirimu.”

Bukan saya mengunggulkan agama Kristen itu lebih tinggi dari agama lain, tetapi setidaknya konsep itu bisa kita pelajari supaya kita tidak terlalu reaktif, atau bereaksi berlebihan ketika ada orang yang menghina agama kita. Karena ketika yang dihina itu reaktif, maka akan muncul hinaan-hinaan lainnya, karena pasti si penghina itu senang ada reaksi balik dari mereka yang dihina. Coba kalo kita cuek, yang menghina juga lama-lama bosen, karena pasti gak ada reaksi apa-apa.

Inilah yang terjadi di banyak negara maju, ketika hinaan terhadap agama bukan lagi sesuatu yang dianggap serius. Mereka itu lebih tertekan kalau belum dapat kerjaan, tidak diakui oleh sekitar, atau belum dapat pasangan. Masalah agama? Itu urusan pribadi dengan Tuhan, gak usahlah diumbar-umbar di media sosial.

Dan karena itulah mereka akhirnya bisa berlomba-lomba di dalam teknologi, saling berkompetisi siapa yang duluan bisa ke Mars, saling sikut menyikut di arena balap yang prestisius, juga saling mencari kejayaan di bidang ilmu pengetahuan. Itulah kenapa mereka lebih maju dari kita di Indonesia dalam segala bidang, kecuali bidang agama, bidang yang sangat kita kuasai mulai dari neraka paling bawah sampai berapa jumlah bidadari di surga, kita sangat tahu detailnya, meski takut disuruh berangkat duluan ke sana.

Ah, entah butuh berapa generasi lagi biar kita akhirnya bisa dibilang sebagai negara maju dan lebih sibuk dengan penelitian. Kelak pada waktu itu, orang-orang seperti Jozeph Paul Zhang, Desak Made, dan yang lain-lainnya akan kita ketawakan karena mereka itu sangat norak, gak update dengan perkembangan zaman.

Dan orang seperti Yahya Waloni akan ceramah di pinggir jalan, bicara tentang kiamat sudah dekat, tanpa ada orang yang mendengarkan karena mereka sibuk lalu lalang di sekitarnya.

Dari dulu kiamat dekat mulu, tapi gak pernah mempersiapkan apa yang kelak akan kita tinggalkan di dunia yang bisa berguna untuk orang banyak dan bisa menjadi pahala kelak buat kita di akhirat.

Komentar