TIGA ALASAN ANIES LEMPAR HANDUK FORMULA E

Oleh: Rian Ernest

 

Masih inget kan rencana Anies Baswedan untuk menyelenggarakan Formula E? Itu tuh, sebuah acara olahraga yang dipromosikan dan dimiliki oleh Formula E Holdings di Inggris, sebuah ajang mobil balap bertenaga listrik, yang direncanakan akan dilakukan di Monas.

Dan inilah, 3 alasan kenapa Anies Baswedan harus lempar handuk Formula E.

Alasan pertama, rakyat lagi susah! Mending balikin ke Jakarta, duit hampir 1 T dari London!

Pak Anies baswedan, rakyat butuh makan, butuh kerja, butuh test, tracing dan treatment yang top, biar urusan COVID-19 segera tuntas! Atau butuh perbaikan tanggul, normalisasi fungsi sungai, atau mungkin butuh ditalangi tunggakan iuran BPJS bagi warga kelas 3 yang tidak bayar iuran karena PHK, karena pandemi. Atau kalau mau, Pak Anies, mending uangnya ditransfer langsung ke rakyat. Pasti jadi berkah! Kalau Pak Anies mau nyapres, saran saya, mending lakukan ini Pak. Warga pasti inget kok!

Nah, data-data ini bersumber dari laporan BPK tahun anggaran 2019.

Faktanya DKI melalui Jakpro sudah membayar fee di tahun 2019 sebesar Rp360 M dan fee di tahun 2020 sebesar Rp200 M. Kata Jakpro, fee jumbo ini ujungnya akan digunakan di Jakarta untuk penyelenggaraan acara. Entahlah.

Ada juga biaya bank guarantee di tahun 2019 yang sudah keluar dari kantong Jakpro sebesar Rp423 M. Kata Jakpro sih, ini semacam deposit yang akan balik lagi pada akhirnya. Entahlah.

Jadi kalau ditotal, 360M ditambah 200 M ditambah 423 M, totalnya tuh sekitar Rp983 M. Hampir Rp1 T biaya yang dikeluarkan untuk ‘mengamankan’ penyelenggaraan acara ini. Semuanya dari kas Pemprov DKI!

BPK juga bilang, Jakpro telah mengajukan tambahan modal ke DKI Jakarta sebesar Rp1,2 T untuk konstruksi, acara, pemasaran dan sebagainya. Entahlah, apakah angka ini, 1,2 T itu di luar dari angka-angka yang sudah saya sebutkan di awal tadi.

Dalam pemeriksaan BPK ada juga hal yang menarik. Kajian Jakpro soal biaya dan manfaat yang akan diterima oleh Jakpro sebagai penyelenggara Formula E, ternyata belum diperbarui dengan kondisi Pandemi COVID-19. Kajian tersebut juga tidak memperhitungkan fee Rp360 M yang sudah dibayarkan di 2019 tadi. Ini yang bikin kita semua geleng-geleng kepala, sampai BPK beropini kalau perkiraan dampak ekonomi penyelenggaraan Formula E kurang dapat diyakini kewajarannya.

Pada laporannya juga BPK mengatakan kalau Jakpro belum maksimal melakukan renegosiasi kontrak, sebagai imbas dari COVID-19. Iya dong, karena Covid-19 pasti semua hal tertunda. Ada perlu banyak perubahan rencana. Nah, renegosisasi ini belum dilakukan menurut laporan BPK. Anehnya juga, BPK juga bilang kalau di antara Dinas Pemuda Olahraga Pemprov DKI dan Jakpro, bahkan pembagian kewajiban antara mereka saja belum jelas!

Gimana, kusut nan ajaib kan?!

Alasan yang kedua. Pak Anies, kalau 2022 mau dibikin, siapa yang mau buang duit untuk nonton Formula E di Jakarta, Pak?

Kondisi normal pariwisata dunia baru akan tercipta di 2023. Ini menurut kajian badan khusus PBB, yakni United Nations World Tourism Organization, dalam rilsinya tentang “COVID-19 dan Pariwisata”, file ini menangkap persepsi dari para ahli pariwisata, bahwa pariwisata internasional akan kembali normal secepat-cepatnya pada tahun 2023. Pada saat itu, Pak Anies sudah tidak lagi menjadi Gubernur. Kita sudah akan punya Pelaksana Tugas Gubernur DKI.

Nah saya sendiri juga mengakui, kondisi pariwisata ini akan menyedihkan, mungkin sampai tahun 2023. Namun demikian, mungkin ini lebih masuk akal, karena kita tidak tahu seperti apa strain baru COVID-19 yang akan ada. Mungkin penonton Cokro TV sudah tahu kan ada strain baru dari Afrika Selatan, Inggris, Brazil dan sebagainya. Secara ilmiah kita masih belum tahu apakah vaksin yang sudah ada saat ini, cukup manjur untuk menghadapi strain-strain yang baru ini. Belum lagi ada isu distribusi vaksin yang belum merata. Belum lagi isu herd immunity, yang pada akhirnya akan menentukan apakah pintu gerbang pariwisata global akan dibuka kembali normal seperti sebelum COVID-19.

Nah, jadi Jakpro saya pikir perlu lebih realistis dalam optimismenya. Kata Jakpro nih, akan ada banyak orang dari luar negeri datang, berbelanja dan menginap sejenak pada saat penyelenggaraan Formula E. Katanya, “akan ada jutaan orang yang menikmati perhelatan ini”. Jakpro coba stop dulu dan cek realita!

Inilah alasan ketiga, penyelenggara Formula E sudah 6 musim perlombaan rugi terus, Bos! Ga pernah cuan!

Selalu rugi atau net loss di enam musim sampai sekarang ini adalah tulisan jurnalis di Forbes.com, Christian Sylt. Sejarahnya juga, Formula E di tahun 2015 itu hampir bangkrut sebenarnya, sebelum tertolong sponsor di detik-detik terakhir. Dalam perkembangannya pun, Formula E dikritik oleh bos Formula 1, Pak Chase Carey. Kata beliau Formula E terlalu bergantung pada dana sponsor. Artinya Formula E bukanlah olahraga yang hidup secara alamiah di masyarakat. Makanya, dalam konteks DKI Jakarta menurut saya adalah aneh kalau Pak Anies mau selenggarakan olahraga mahal seperti ini. Mendingan Pak Anies, bikin aja liga bulutangkis atau liga bola tarkam, antar-kampung. Pasti lebih seru, lebih heboh, lebih murah!

Jangan lupa juga, menurut berita Tempo.co, Pak Wishnutama–ex bos TransTV dan bosnya NetTV, dan mantan Menteri Pariwisata. Beliau ini sudah paham luar-dalam soal hiburan rakyat Indonesia, beliau sampaikan dalam rapat resmi kalau balap mobil listrik belum terbukti datangkan wisatawan. Jadi Pak Anies, bangkitkan pariwisata dengan cara lain saja, Pak. Jangan kumpulkan pajak hasil keringat warga DKI Jakarta, dikumpulkan 1 T dan dibakar begitu aja. Mending Pak Anies cari cara lain saja.

Saya sih berharap, paling tidak satu di antara puluhan anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan atau TGUPP, ada yang menonton acara ini seraya mengingatkan Anies Baswedan.

Penonton Cokro TV, catatan terakhir dari saya adalah:

Formula E sering diidentikkan dengan citra energi yang ramah lingkungan. Nah dalam konteks DKI Jakarta, apakah kita sudah ramah lingkungan, selain adanya tugu sepeda di Sudirman? Coba deh kita ingat-ingat, kita lihat-lihat lagi, berapa banyak infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU)? Apakah sudah ada di DKI Jakarta? Dan kalaupun sudah ada, apakah sudah cukup masif, dan mudah diakses oleh masyarakat luas? Atau apakah jalanan kita masih banyak kendaraan tua berasap hitam pekat? Pak Anies, benahi dulu yang mudah dan lebih mendesak, baru kita bisa lakukan lompatan ke Formula E. Jangan dibolak-balik langkahnya.

Sejak awal, proyek Formula E ini tujuannya apa sih, Pak? Apakah mercusuar menuju Capres 2024, sambil menampung simpatisan politik 2017 dan 2024 nantinya? Menurut berita Majalah Tempo, di Februari 2020, diduga ada beberapa orang yang dekat dengan lingkaran JK, yang berperan dalam terselenggaranya Formula E ini. Ada staf JK waktu di istana, ada kerabat JK, ada juga anak dari staf Pak JK. Hmmm….

Jadi Pak Anies, proyek mercusuar sah-sah saja dan boleh-boleh saja kok, tapi di tengah pandemi yang entah kapan akan usai, mending dirombak aja rencananya, Pak!

Ingat! Rakyat lagi susah! Mending balikin ke Jakarta, duit hampir 1 T dari London!

Komentar