PARA MUALAF, TIRULAH DEDDY CORBUZIER

Oleh: Denny Siregar

 

Penceramah-penceramah mualaf seperti Yahya Waloni ini, sebenarnya sangat mengganggu kita yang beragama Islam. Pernyataan-pernyataan kontroversialnya benar-benar membuat Islam seperti berada di titik terendah di dalam pemikiran. Waloni dengan seenakudelnya pernah bicara tentang bagaimana dia menabrak seekor anjing tanpa ada perasaan dosa, hanya karena menganggap anjing itu najis. Padahal, kalau Waloni mau belajar lebih dalam lagi tentang agama, kenajisan anjing dalam pandangan agama itu masih dipertanyakan, karena bahkan di dalam Alquran sendiri anjing dikatakan sebagai salah satu binatang yang masuk surga.

Okelah kalau Waloni menganggap anjing itu najis. Tetapi agama tidak mengajarkan kita untuk menyakiti makhluk hidup, apalagi binatang meskipun dia dianggap najis. Toh, disebutkan Islam sebagai agama rahmat bagi alam semesta, kan? Binatang juga bagian dari semesta, seharusnya ia diperlakukan sebagaimana habitatnya.

Si Waloni jelas kurang ngaji, tapi sudah digadang-gadang untuk ceramah di berbagai tempat. Gitu, dia mau lagi. Ya gimana, daripada gak punya apa-apa, tiba-tiba diundang ke berbagai tempat dengan amplop lumayan, ditambah penghargaan dan penghormatan, siapa yang tahan? Apalagi sejenis Waloni, yang dulunya bukan siapa-siapa, tiba-tiba diangkat menjadi seseorang. Pasti situasi itu dia manfaatkan.

Sesudah masalah anjing, terus adalagi cerita Yahya Waloni memisahkan kursi berdasarkan agamanya. Ada kursi yang Kristen dan ada juga kursi Islam. Meskipun itu disebutnya bercanda, tetapi apa yang dilakukan Waloni lebih berupa ejekan dan itu sangat tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang mengaku pindah agama, seolah-olah Islam suka mengejek agama lainnya.

Dan model yang sama kita lihat dari banyak penceramah mualaf lainnya, seperti Irene Handono, Felix Siauw, dan banyak lagi. Polanya sama, mereka mencari nafkah dari agama barunya.

Tetapi apakah benar para mualaf seperti itu?

Gak juga. Banyak mereka yang mualaf jauh dari perilaku seperti para penceramah-penceramah itu. Seperti contohnya Deddy Corbuzier.

Ketika pertama kali Deddy mengumumkan kepindahan agamanya, saya sempat kesal, “Ngapain sih pindah agama aja mesti diumumin?” Buat saya, agama itu urusannya dengan Tuhan, dan tidak perlu pengakuan dari sesama manusia kecuali kalau nanti saya harus ada urusan formal sama negara, seperti bikin identitas misalnya. Dan saya sempat mengira, Deddy akan sama dengan para penceramah mualaf lainnya. Minimal tampilannya akan berubah, pakai gamis, pelihara jenggot, dan bicara seperti Arie Untung tentang tangga Raja Salman yang gak tahu gimana tiba-tiba disambungin ke riba.

Tapi, ternyata gak. Deddy tetap Deddy. Dia dulu, sama seperti dia kini. Gak ada perubahan, baik tampilan maupun sikapnya. Tetap ngehe, tetap menyebalkan, tapi itulah dia apa adanya.

Kenapa ada perbedaan sikap antara mualaf seperti Yahya Waloni dan mualaf seperti Deddy Corbuzier?

Seperti kita bahas di awal tadi, ada tipikal manusia yang tidak kuat mendapat ujian kenikmatan. Ini ujian yang paling berat daripada ujian kesengsaraan. Kalau diberi ujian kesulitan, manusia pasti tidak akan lupa berdoa. Tetapi dikasih sedikit kenikmatan, biasanya kita pasti banyak lupanya.

Yahya Waloni ketika berada di agama lamanya, dia bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa. Baru ketika dia pindah agama, dia menemukan jualan yang tepat dengan menjelek-jelekkan agama lamanya, maka lama-lama dia dapat tempat di kalangan orang yang sedang masturbasi agama, yang mencari kenikmatan lewat cerita kejelekan-kejelakan tetangga. Jadilah Yahya Waloni “seseorang” di kelompok itu. Dianggap ustaz, meski ilmunya belum seujung kuku. Yang terjadi adalah si buta menuntun si buta, dan mulailah kebodohan berjamaah.

Deddy Corbuzier sudah tidak membutuhkan pengakuan dan panggung seperti itu. Dia punya panggung sendiri dan model “dakwah”-nya sendiri, dengan gayanya yang sudah dia bangun selama ini. Dia tidak butuh “amplop” untuk ceramah di mana-mana seperti Yahya Waloni, karena Deddy sudah mapan bahkan sebelum dia pindah agama. Dan karena kemapanan itu pula dia tidak perlu juga jualan kejelekan dari tempatnya yang lama. Untuk apa? Gak ada manfaatnya.

Jadi, belajar dari sini kita bisa membedakan, mana orang yang pindah agama karena memang sedang mencari Tuhan, dan mana orang yang pindah agama karena mencari makanan. Perbedaan itu terlihat dari perubahan perilaku, yang menunjukkan labilnya dirinya dalam kehidupan.

Semoga musim transfer berikutnya ada yang masuk dengan kualitas seperti Deddy Corbuzier dan Marcel Siahaan. Mungkin kalau kalian mau ambil Yahya Waloni lagi, silakanlah. Dia udah terlalu lama duduk di bangku cadangan.

Komentar