MEREKA YANG (INGIN) MELEPAS JILBAB

Oleh: Ade Armando

 

Saya baru saja mendapat cerita bahagia dari seorang mantan mahasiswi saya yang memutuskan melepas jilbab. Dia sedang merantau dan semakin lama dia semakin yakin bahwa dia harus melepas jilbabnya.

Dengan sangat hati-hati dia mengabari kedua orangtuanya tentang pilihannya. Dia tidak ingin kedua orangtua yang sangat dia sayangi tersakiti. Ternyata respons mereka mengejutkan. Tapi sebelum saya lanjutkan cerita bahagia ini, saya mau mengangkat dulu kisah yang sebaliknya.

Hampir dalam waktu bersamaan, saya juga mendapat kiriman kisah sedih mengenai jilbab. Ini menyangkut seorang mahasiswi berusia 20 tahun yang merantau, kuliah di tempat berbeda dengan tempat tinggal orangtuanya.

Gadis ini sangat khawatir dengan kedua orangtuanya yang ia rasa semakin menjadi Islamis radikal. Ia pernah melihat adik prianya berusia 15 tahun dicekik olah sang ayah hanya karena si adik mendengarkan musik dan menurut si ayah, musik itu haram.

Si mahasiswi ini juga dilarang menggunakan parfum dan tentu saja wajib mengenakan jilbab. Ia semula merasa sangat bahagia ketika akhirnya bisa kuliah di kota berbeda dan bisa tinggal di kost-kostan dekat kampus,

Sampai kemudian suatu kali si ayah membuka laptop sang putri dan menemukan foto-fotonya yang tidak mengenakan jilbab. Foto-foto tanpa jilbab itu tidak untuk dipertunjukan di medsos. Cuma untuk koleksi pribadi. Tapi itu ternyata cukup untuk membuat kedua orangtuanya marah besar.

Tempat kostnya didatangi. Rambut si mahasiswi dijambak, dia diseret keluar tempat kostnya. Dia dimaki sebagai pelacur, perempuan murahan, jual diri, dan maki-makian kasar lainnya.

Orangtua itu menuduh ini semua terjadi karena pendidikan yang diperoleh dan karena itu mereka menyatakan tidak akan lagi membayarkan uang kuliah. Saat ini gadis tersebut hanya berkurung di rumah. Menurutnya, beberapa kali terlintas di kepalanya untuk bunuh diri. Tapi kemudian pikiran itu ia enyahkan karena ia tahu dia harus berjuang untuk masa depan yang lebih baik.

Yang mengalami penderitaan ini bukan cuma ia sendirian. Maret lalu Human Rights Watch meluncurkan sebuah laporan 150 halaman berjudul: “Aku ingin lari jauh: Ketidakadilan aturan berpakaian bagi perempuan di Indonesia.”

Laporan itu mendokumentasikan perjalanan para perempuan di beberapa kota di Indonesia yang menolak berjilbab dan akibatnya mengalami perundungan, bullying habis-habisan. Tekanan bisa datang dari berbagai penjuru: orangtua, sesama teman, senior, atasan, guru, kepala sekolah, dan para pemagang otoritas lainnya.

Ini lazim sekali terjadi pada siswi-siwi yang menempuh pendidikan di sekolah negeri.
Seorang siswi tidak berjilbab akan terus diganggu dengan pertanyaan dari teman-temannya yang menyatakan, “Kan berjilbab itu wajib?”

Ia bahkan bisa diisolasi dalam lingkungan pertemanan. Tapi itu tentu tidak sebanding dengan sikap guru dan orangtua. Para pemegang otoritas itu gemar menyudutkan siswi tak berjilbab baik dengan kata-kata halus atau bahkan kasar, misalnya dengan mempermalukan sang siswi di depan kelas.

Sebagian siswi dipaksa keluar sekolah atau mengundurkan diri di bawah tekanan. Atau banyak pegawai yang kehilangan pekerjaan atau terpaksa akhirnya mengundurkan diri karena tak tahan mendapat tekanan dari lingkungan.

Tidak sedikit yang mengalami kegoncangan psikologis, trauma, ketakutan, dan bahkan berusaha bunuh diri. Human Rights Watch mengumpulkan data sejak tahun 2014, di berbagai kota di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.

Apa yang terjadi ini adalah persoalan serius. Dalam Islam, tidak ada kesepakatan tentang jilbab. Dalam keluarga saya, istri saya berjilbab dan anak perempuan saya tidak berjilbab.

Putri saya merasa tidak nyaman berjilbab, dan dia bercerita bahwa seringkali teman-temannya heran bahwa dia sebenarnya seorang muslim, terutama karena dia tidak berjilbab.

Saya tidak pernah memilih sekolah untuknya yang memiliki kultur wajib jilbab. Dia bebas untuk menentukan cara berpakaiannya. Namun sekarang saya tahu cara berpakaiannya sangat sopan dan saya sama sekali tidak meragukan akhlaknya.

Pakaian sama sekali bukan ukuran keimanan. Karena itu, sungguh menyedihkan kalau di Indonesia, ini masih bertebaran kaum berpikiran sempit yang menindas kaum perempuan tidak berjilbab.

Mereka ini tidak memiliki pengetahuan keagamaan yang cukup sehingga percaya bahwa Tuhan akan menimpakan azab bagi masyarakat yang mengizinkan warganya tidak berjilbab.

Mereka bodoh tapi kemudian dengan kebodohannya itu mereka ingin mengatur kehidupan orang. Saya bahagia sekali dengan keputusan tiga menteri – Menteri Pendidikan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri – yang melarang kewajiban berjilbab di sekolah-sekolah negeri.

Itu adalah langkah yang luar biasa penting untuk melindungi Hak Asasi Manusia. Tapi yang juga penting harus dilakukan adalah mengubah cara berpikir masyarakat. Masyarakat harus percaya bahwa setiap warga memiliki hak untuk hidup sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Masyarakat harus memahami bahwa beragama yang baik adalah beragama yang tidak memaksakan kehendak pada orang lain.

Masyarakat harus paham bahwa agama adalah sesuatu yang dapat ditafsirkan dengan cara beragam dan masing-masing tafsir tidak bisa dikatakan dengan sendirinya lebih benar dari yang lain.

Agama itu relatif. Karena itu tidak berjilbab dan melepas jilbab adalah hak yang harus kita dukung dan perjuangkan. Oh ya, saya harus kembali ke cerita bahagia saya di awal tadi.

Seperti saya katakan, meski dengan khawatir, si mantan mahasiswi saya itu mengirimkan pesan pada orangtuanya bahwa dia memutuskan untuk melepaskan jilbab.

Dia bercerita kepada orangtuanya bahwa dia selama ini sebenarnya merasa tertekan saat menggunakan jilbab, karena dia merasa seharusnya seorang manusia tidak dinilai karena cara berpakaiannya.

Dia merasa dia mengenakan jilbab lebih karena harapan orang-orang lain, bukan karena dia ingin berjilbab. Dia merasa dia bukan dirinya. Karena itu, dia mengabarkan pada orangtuanya bahwa dia akan melepas jilbab.

Mungkin suatu saat dia akan kembali berjilbab, tapi untuk saat ini dia tidak ingin berjilbab. Dia bilang, dia akan tetap berusaha bermanfaat bagi orang-orang sekitar dan membuat bangga ayah dan ibunya.

Dengan kekhawatiran yang mendalam, dia kirim WA itu kepada orangtuanya. Jawaban Ibunya luar biasa mengharukan.

Tulis sang Ibu: “Tidak apa-apa anakku, belajarlah dengan gembira dan berbahagialah. Yang penting kamu tetap menjadi muslimah yang solehah. Jangan pernah tinggalkan salat. Semoga keputusanmu membuat kamu bahagia dan nyaman. Kami selalu ada untukmu. Jadilah selalu kebanggaan kami. Selalu sehat dan bersemangat, kuat, dan tabah dengan semuanya. Dari kami yang selalu mendoakanmu, yang terbaik untukmu, dan selalu merindukanmu. Salam kami dari jauh buatmu, anakku.”

Saya bahagia bisa menutup kisah dengan pesan yang luar biasa indah itu. Saya berdoa akan lebih banyak orangtua yang sedemikian dalam kasihnya seperti mereka.

Komentar