MEMBONGKAR RENCANA MAKAR PARA LASKAR!

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Siapa bilang FPI hanya organisasi pecinta habib? Jelas bukan. Kalau melihat sepak terjangnya. Mereka adalah organisasi teror. Mirip seperti NII, JAD, JI atau yang lain-lain.

Anggota-anggota FPI kerap mengikuti latihan militer yang dilaksanakan oleh berbagai organisasi teroris, misalnya yang pernah dilakukan oleh NII, FPI kirim anggotanya, atau yang dilakukan oleh JAD. Mereka memang mempersiapkan diri untuk membuat pasukan.

Dalam organisasi FPI dibentuk sebuah kesatuan khusus atau laskar khusus. Laskar ini awalnya ditugaskan untuk melindungi sang Imam Besar, Rizieq. Mereka dipersenjatai. Dilatih militer dan dibiayai habis-habisan.

Ketika Rizieq diintai polisi sehabis pulang dari Saudi kemarin, laskar inilah yang berusaha untuk melindungi junjungannya. Dia menghalang-halangi petugas untuk mendekat ke Rizieq. Bahkan pada laskar ini ada perintah untuk menghabisi para aparat yang dianggap menguntit Rizieq Shihab.

Kita tahu kisahnya berdasarkan rekonstruksi Komnas HAM. Bahwa para laskar ini memang sengaja memancing para petugas ke ladang pembantaian. Waktu itu ketika mereka berkejar-kejaran di jalan tol Cikampek mobil petugas sebetulnya sudah tertinggal jauh, tapi oleh laskar itu sengaja ditungguin agar mendekat untuk dipancing dan diarahkan ke satu lokasi. Kemudian di lokasi itu petugas akan diserang dan dihabisi.

Nah, dalam peristiwa itulah 6 laskar akhirnya mati. Wajar, mereka latihan militernya kan baru kelas abal-abal. Sementara petugas yang dihadapi sudah terlatih secara profesional.

Saat itu kita membayangkan, bagi para petugas hanya punya dua pilihan: mereka dihabisi oleh para laskar itu atau mereka melawan sekuat tenaga. Jika mereka melawan, risikonya laskar-laskar itu modar. Dan itulah yang terjadi di KM 50, jalan tol Cikampek.

Enam orang memang mati. Tapi gerombolan lain yang berniat menghabisi polisi itu sampai saat ini masih melarikan diri. Kalau kita mau lhat, tindakan sekelompok orang ini jelas, mereka bisa dijerat dengan pasal yang serius. Penyerangan petugas itu merupakan pelanggaran serius.

Nah, berasarkan logika inilah polisi akhirnya menjadikan mereka semua sebagai tersangka. Sebab konstruksi hukum dari perbuatannya jelas-jelas pelanggaran serius. Pada orang yang melarikan diri, dikenakan status DPO.

Sementara para tersangka yang kebetulan tewas, enam orang itu ya otomatis kasusnya gugur secara hukum. Karena tersangkanya sudah tewas. Itulah logika hukum yang harus dilalui aparat untuk mendudukkan kasus ini dengan benar dan menyelesaikan masalah ini sampai ke akar-akarnya.

Di lain sisi, Rizieq berhasil ditangkap oleh polisi. Diajukan ke meja hijau dan teriak-teriak saat diadili. Ketika proses pengadilan itu, laskar-laskar khusus bentukan ini tambah sewot melihat junjungannya diadili. Mereka kemudian menyusun rencana aksi yang cukup mengerikan.

Tujuannya kata mereka untuk membebaskan junjungannya sang Imam Besar. Caranya: dengan membuat kekacauan di seluruh Indonesia.

Di Condet misalnya, sebagian orang-orang laskar khusus itu berkumpul. Mereka-mereka ini bukan termasuk orang yang waktu pas kejadian di KM 50 ikut mendampingi Rizieq. Ini kelompok terpisah lagi, walaupun dalam satu naungan. Jadi pada saat itu mereka masih bebas bergerak.

Perkumpulannya di Condet dikamuflase dengan acara pengajian yasinan. Tapi sesungguhnya mereka saat itu sedang kursus membuat peledak dan menyusun rencana teror yang besar.

Sekitar 200 bom berdaya ledak tinggi sudah disiapkan oleh mereka. Targetnya adalah membunuh semua anggota TNI dan Polri yang bisa mereka temui. Selain itu mereka juga akan meledakkan beragam SPBU agar terjadi kekacauan besar di berbagai kota. Dan target peledakan lainnya adalah toko-toko milik warga Tionghoa.

Ujungnya akan tercipta kerusuhan besar di Indonesia, hanya untuk seorang Rizieq.

Sebanyak 200 bom yang sudah disiapkan itu sebagian akan dikirim ke berbagai cabang FPI di seluruh Indonesia. Bukan hanya bom kiriman yang diterima. Cabang-cabang itu juga diminta menyiapkan takjil sendiri. Takjil dalam bahasa mereka adalah bahasa lain untuk alat peledak atau bom.

Mereka semua tinggal menunggu waktu dan aba-aba untuk bergerak serentak. Momennya sedang dicari. Para pentolan laskar khusus di berbagai daerah sudah siaga menunggu perintah, tinggal dikomandokan maka semuanya bergerak untuk membakar Indonesia.

Sepertinya momen persidangan Rizieq akan jadi momentum yang mereka pilih. Seorang laskar khusus Husein Hasny diakui sebagai komandan dan Zulhami Agus sebagai mentor teror sudah melakukan survei langsung saat Rizieq disidang di PN Jakarta Timur.

Di sana mereka memetakan kondisi. Mempelajari titik lemah keamanan. Dan menentukan titik-titik ledakan agar korban bisa sebanyak-banyaknya. Para pengunjung yang dimobilisir untuk menghadiri sidang Rizieq, mungkin juga akan dijadikan target ledakan.

Agar apa? Agar terbangun efek dramatis dan besar dengan korban yang banyak. Kalaupun korbannya ya dari teman-temannya sendiri juga.

Kalau kita perhatikan dari bahasa pengganti untuk bom yang mereka sebut takjil, rasanya rencana busuk itu akan dilakukan pada bulan Ramadan. Dan bulan Ramadan ya yang sedang kita hadapi sekarang.

Bayangkan jika rencana itu terlaksana. Ada berapa banyak korban, ada berapa ember darah, ada berapa tetes air mata, dan ada berapa anak yang tiba-tiba menjadi yatim akibat ulah orang-orang seperti itu? Jika mereka tidak buru-buru digulung oleh aparat, puasa kita hari ini mungkin akan diisi oleh jerit tangis dan asap mesiu. Karena mereka sudah mempersiapkan diri tinggal menunggu hitungan saja.

Hasny dan Zulhami adalah anggota laskar khusus jenis ini yang mau melakukan apa saja. Posisinya sama dengan pengawal Rizieq yang kabur di jalan tol Cikampek kemarin dan menyerang pihak aparat. Mereka memang sengaja dibentuk untuk mengawal Rizieq atau untuk berani membuat kekacauan seperti rencana yang telah mereka buat.

Pertanyaan besar di kepala kita. Jika laskar-laskar itu berserak di seluruh Indonesia, lalu siapa sesunguhnya yang mengkomandoi mereka?

Kita tahu sebagai Imam Besar, Rizieq di tahan polisi. Sobri Lubis sebagai ketua FPI juga sudah mendekam di tahanan. Di struktur FPI hanya hanya tinggal satu pentolan yang masih bebas berkeliaran, namanya Munarman. Posisinya sebagai Sekjen.

Saat polisi berhasil membongkar rencana biadab para laskar khusus itu, memang kita tahu Munarman buru-buru menolak. Di berbagai kesempatan media dia berdalih, katanya Husein Hasny kek, Zulfahmi Agus kek, atau para teroris yang sudah ditangkap polisi itu kata munarman sudah dipecat dari anggota FPI.

Padahal sebelum ditangkap polisi, Hasny masih tercatat sebagai Wakabid bidang Jihad FPI Jakarta Timur. Sedangkan Zulhaimi Agus posisinya masih clear sebagai ketua bidang jihad FPI Serang Baru, Bekasi. Jadi alasan Munarman soal mereka sudah dipecat ya mengada-ada. Sementara gerombolan pengikutnya yang lain seperti Abi atau Bambang, atau Ahmad Jailani itu jelas-jelas pengurus FPI.

Artinya mereka bergerak karena posisinya dalam organisasi yang sudah dilarang itu. Mereka adalah bagian dari organisasi yang saat ini dipimpin Munarman. Mereka bergerak kemungkinan besar karena mengikuti sebuah seruan atau sebuah komando.

Sebab rencana besarnya adalah kerusuhan di seluruh Indonesia. Artinya apa? Artinya yang mengkomandoi pasti bukan sekelas pengurus cabang. Secara hierarki hanya pengurus pusatlah yang bisa memberikan instruksi ke cabang-cabang di seluruh Indonesia untuk bergerak.

Wajar saja Munarman berusaha menepis benang merah rencana aksi teror itu. Ia memang harus bersikap seperti Bajaj, ngeles sekuat tenaga.

Tapi sekarang kita bersyukur terbongkarnya rencana busuk mereka. Kita bersyukur bangsa ini masih dilindungi Allah SWT dari gerombolan para pengacau itu. Kita patut mengapresiasi kerja semua orang yang terus menjaga bangsa ini agar terhindar dari rongrongan para pengacau. Para preman berkedok agama, sesungguhnya adalah musuh utama masa depan kita.

Sebab ini Indonesia kita. Kitalah yang harus menjaganya.

Komentar