LOGIKA DEDDY CORBUZIER DAN LOGIKA ATTA HALILINTAR

Oleh: Ade Armando

 

Saya bahagia bahwa melalui channel Youtubenya, Deddy Corbuzier berkomentar soal kritik saya terhadap pameran kemewahan artis-artis seperti Atta Halilintar, Raffi Ahmad, dan lain-lain.

Saya senang karena sejumlah hal. Pertama, dengan videonya, Deddy memperluas jangkauan khalayak yang bisa mendengar kritik saya. Video kritik saya terhadap pameran kemewahan Atta dan kawan-kawan itu di channel Cokro TV mencapai 1,2 juta penonton.

Di channel Deddy, penontonnya 2,2 juta orang. Buat saya, ini artinya semakin banyak orang yang bisa mendengar kritik saya. Tapi yang lebih penting, Deddy ternyata menangkap esensi kritik saya dan kemudian berusaha menjelaskannya secara sederhana kepada para penontonnya.

Deddy misalnya menyarankan agar khalayak menyaksikan video saya secara lengkap. Jangan menonton setengah-setengah katanya. Kalau cuma menonton setengah-setengah, menurut Deddy, Ade Armando itu memang julid. Mungkin maksudnya, saya itu nyebelin atau nyinyir.

Baru setelah menonton lengkap, kata Deddy lagi, orang bisa memahami apa yang ingin saya katakan. Deddy menjelaskan, yang saya kritik bukanlah kekayaan seseorang. Yang saya kritik adalah pameran gaya hidup yang mewah yang disebarkan melalui media sosial.

Dengan kata lain, ini pakai bahasa saya ya, kalau seorang artis bisa punya rumah mewah melalui uang yang diperolehnya melalui kerja keras halal, tentu itu hak dia sepenuhnya. Selama dia bayar pajak, ya sudah. Tapi kan yang jadi masalah ketika kekayaan dan kemewahan itu disombongkan atau diumbar melalui media sosial, dan itu bisa menimbulkan masalah sosial serius.

Deddy dengan baik menyimpulkan bahwa pameran kemewahan dapat menimbulkan kesenjangan, kecemburuan, radikalisme.

Deddy mengutip pendapat para ahli ilmu sosial yang menyatakan ledakan sosial akan terjadi ketika kaum miskin marah, dan kaum miskin itu marah bukan karena mereka miskin tapi karena mereka setiap hari menyaksikan pameran kemewahan yang tak mungkin mereka jangkau.

Deddy bahkan menyebut kasus revolusi di Kamboja, di mana kaum Komunis membunuhi kaum kaya, semata-mata karena mereka adalah kaum borjuis.

Dan terakhir, video Deddy ini penting karena yang menjelaskan kritik saya itu adalah Deddy Corbuzier, seorang youtuber yang sangat berpengaruh di kalangan milenial Indonesia.

Bagi banyak orang, pendapat Deddy sangat didengar. Karena itu kalau dia yang mengangkat kritik saya dengan positif, itu pasti bisa berpengaruh di kalangan ekonomi menengah ke atas. Memang Deddy berusaha memaklumi perilaku rekan-rekan artis yang pamer kemewahan itu.

Dia bilang, para artis itu kan menyajikan kemewahan karena penonton Indonesia suka banget hal-hal seperti itu. Jadi para artis itu pamer kemewahan demi jualan konten yang mendatangkan pemasukan. Kata Deddy: Kalau para artis itu menyajikan konten edukatif, apakah penontonnya akan suka?

Dengan mengatakan begitu, Deddy seperti berharap kita memaafkan perilaku kawan-kawannya itu. Mereka tidak bersalah, kata Deddy. Mereka cuma lagi mencari nafkah,

Dalam hal terakhir ini, saya harus menyatakan saya tidak sependapat. Pameran kemewahan adalah salah secara etika. Dan itu tidak dapat dibenarkan hanya karena penontonnya suka. Kita gunakanlah contoh Deddy sendiri.

Dalam videonya itu dia bilang, bahwa untuk bisa mencapai 14 juta subscribers yang kini menjadi pelanggan setia channel youtube Deddy Corbuzier, dia itu harus bekerja keras. Struggling.

Tapi buat saya, itu justru menjadi contoh bagaimana tanpa harus memamerkan pertunjukan kemewahan atau konten sampah, Deddy bisa sukses.

Jadi pertunjukan kemewahan bukanlah cara tunggal atau bahkan bukan cara utama untuk menarik viewers. Mayoritas isi channel Youtube Deddy adalah wawancara dengan para narasumber. Coba cek siapa yang diwawancara dan apa isi wawancaranya. Memang ada wawancaranya dengan sosok selebritis sensasional.

Tapi Dedy juga mewawancarai misalnya ahli radikalisme Dina Sulaeman (ditonton 3,4 juta), Tretan Muslim (2,6 juta), Menteri Kesehatan Budi Gunadi (1,2 juta), Mahfud MD (2,5 juta), Nadiem Makarim (2,4 juta), dan tentu saja sahabat saya Abu Janda (3,2 juta) dan Eko Kuntadhi (1,3 juta).

Deddy pernah mewawancarai pelawak senior Malih. Penontonnya 11 juta orang! Kreativitas dia pun seperti tak pernah habis. Channel Deddy menyajikan pertandingan catur Dewa Kipas vs Irene Sukandar. Penontonnya? 12 juta orang.

Yang saya ingin katakan, penonton Indonesia mau kok menyaksikan konten edukatif. Nama-nama yang saya sebut tadi adalah hanya sebagian dari wawancara-wawancara serius yang dilakukan Deddy.

Memang tidak mudah, tapi dengan kreativitas, Deddy berhasil mengajak jutaan orang untuk mengkonmsi muatan serius.

Jadi, saya sulit untuk menerima argumen bahwa kita perlu memaklumi konten-konten pameran kemewahan itu karena itulah yang disukai penonton. Kalau saya tanya, mengapa Deddy sendiri tidak memamerkan kemewahannya di dalam konten medsosnya?

Saya rasa jawaban dia adalah satu, karena dia sadar bahwa kekayaan itu bukan sesuatu yang secara etis layak dipertontonkan secara demonstratif di depan publik. Dan itu yang nampaknya tidak kunjung dipahami Atta Halilintar dan para fans loyalnya.

Salah satu konten instagram terakhir Atta misalnya diisi dengan luapan kegalauannya karena dikritik soal pameran kemewahannya. Atta bilang: “WHY ALWAYS ME!!? Pamer!? nyenggol istri saya?!”

Dia bilang, kenapa cuma soal video naik jet pribadi untuk membahagiakan istri yang dipersoalkan? Kenapa 100 video perjalanan cintanya menuju pernikahan dengan Aurel tidak dibahas?

Kenapa 1000 video naik bajai, naik angkot, naik sampan, bikin film, bikin musik, bikin buku, bikin usaha, buka lapangan kerja yang banyak, perjuangan hidup, motivasi hidup, peduli sesama, perjuangan hidup halal yang diridai Allah, vlog sahur buka taraweh ibadah sama istri, kenapa itu semua tidak pernah dibahas?

Kanapa yang dibahas adalah video dia naik Lamborghini, Ferrari? Atta mengeluh bahwa sebenarnya ada ribuan orang menggunakan tas Hermes, tapi kenapa Aurel yang dibilang pamer.

Dia bilang yang bayar sewa jet pribadi itu bukan dia, banyak mobil yang dia pertontonkan itu bukan mobil dia, tas Hermes itu adalah hadiah. Pernyataan ini melengkapi konten instagram dia sebelumnya yang menggambarkan bahwa kritik terhadapnya itu memang datang dari orang-orang yang mencari-cari kesalahan.

Atta misalnya menulis konten yang ditujukan pada Aurel:

“Dari awal sudah bilang sama istriku sebelum menikah. Sayang, hidupku dari kecil penuh cobaan. Waktu susah direndahkan, dicaci maki waktu diberikan rezki, di cari-cari masalah.
Dan aku bukan tipikal orang yang membalas. Nabi ku mengajarkan balas dengan senyum, balas dengan kebaikan. Kecuali sudah ngelunjak.

Yang penting sekarang fokus hidup bahagia sama istri. Kerja yang halal, hidup yang halal, makan makanan halal dan semoga segera punya Baby.” Kedua instagram itu dengan segera disambut para fansnya yang menganggap kritik terhadap pameran kemewahan itu hanya datang dari orang yang nyinyir dan iri.

Di situlah saya menganggap Atta dan para fansnya memang tidak kunjung paham dengan kritik saya. Saya kan tidak mencaci maki atau merendahkan dia. Saya cuma bilang pamer kemewahan itu tidak pantas.

Sederhananya begini deh, kalau Atta bisa disukai penonton karena videonya naik bajaj, dia membuat musik, membuka lapangan kerja, lantas kenapa pula dia harus pamer kemewahan?

Kalau mobil yang dia kendarai adalah mobil pinjaman, kenapa harus terlihat seolah adalah miliknya. Dan yang penting, apakah pameran kemewahan itu adalah perilaku halal yang diridai Allah?

Saya tidak ingin julid, seperti yang disebut Deddy. Karena itu saya ulang lagi permintaan saya: Wahai Atta dan Aurel, wahai Rafi dan Nagita, wahai para selebiritis sukses lainnya. Demi kebaikan kita bersama, demi masyarakat Indonesia, hentikanlah pameran kemewahan ini. Kami mencintai Anda, lho. Tapi tolonglah Anda semua mencintai Indonesia.

Komentar