ASAL-USUL TERORISME: KHAWARIJ ATAU SALAFI-WAHABI?

Oleh: Syafiq Hasyim

Banyak kalangan yang mengasosiasikan tindakan terorisme ini dengan kelompok Khawarij. Secara bahasa khawarij berarti mereka yang keluar (khariji). Khawarij adalah kelompok yang keluar dari imam mereka pada zaman mereka atau mereka keluar dari Sahabat Ali R.A. Dalam Mu’jam al-Wasit, Khawarij adalah satu kelompok dari kelompok Islam yang keluar dari kesepakatan dengan Sahabat Ali, mereka juga menolak pendapat Ali dan tidak hanya Ali, mereka juga menolak pendapat dari sahabat-sahabat besar lainnya.

Dalam banyak hal, tindakan kaum Khawarij dan terorisme memiliki kesamaan-kesamaan seperti dalam hal keluar dari kesepakatan umat Islam, kejahatan membunuh mereka yang tidak sehaluan, bahkan mereka yang seagama. Namun, jika kita pelajari dari sekian banyak sumber tentang terorisme, bisa dikatakan hampir tidak ada dari mereka yang merujuk dan menyandarkan tindakan dan pemikiran mereka pada kaum Khawarij ini.

Bahkan hampir semua organisasi dan kelompok teroris menisbahkan diri pada kelompok Sunni. Selain itu, keberadaan kaum Khawarij pada zaman sekarang hampir dikatakan sudah tidak ada lagi. Kaum Ibadiah, yang dianggap sebagai ejawantah kaum Khawarij modern, justru memiliki pandangan keagamaan yang terbuka pada kelompok lain. Karenanya, menyamakan kaum teroris dengan Khawarij menurut saya masih meninggalkan problematika tersendiri.

Jika dilihat secara saksama dari rekam jejak dan paham yang mereka anut zaman dulu, kebanyakan dari kaum teroris dan ekstremis justru benci dan menolak Khawarij. Mereka menganggap Khawarij itu bukan bagian dari Islam. ISIS misalnya, Jamaah Islamiyah dan al-Qaedah rata-rata mendaku diri mereka sebagai pengikut Sunni atau juga bisa disebut pengikut Ahlussunnah Waljamaah.

Jika memakai definisi Imam al-Syihristani dalam kitabnya al-Milal wa al-Nihal, maka seluruh orang yang keluar dari pemimpin yang benar yang telah disepakati oleh seluruh masyarakat pada zamannya, maka mereka ini bisa disebut sebagai kelompok Khawarij, kullu man kharaja ‘ala al-imam al-haq al-ladhi ittafaqat al-jama’atu alaihi yusamma kharijiyya (lihat al-Milal wa al-Nihal, J. 1, h. 113).

Masih banyak lagi definisi tentang kaum Khawarij ini. Jika kita kembali pada pembicaraan tentang terorisme dan kaum ekstremis yang sekarang ada justru mereka lebih banyak berasal dari kelompok Sunni, tapi Sunni yang mana dan yang bagaimana? Apakah seluruh kelompok Sunni itu berpotensi menjadi teroris dan jika secara paham keagamaan mereka mengaku Sunni, namun dalam tindakan nyata mereka itu seperti kaum Khawarij, maka bisa tidak kaum Sunni yang seperti itu kita sebut sebagai Khawarij?

Sunni sendiri adalah kelompok keagamaan yang sangat luas. Bahkan kini Sunni menjadi kelompok terbesar umat Islam di Indonesia pada masa sekarang ini. Syiah adalah kelompok kedua terbesar umat Islam di dunia. Di Indonesia mereka tidak terlalu banyak. Karena begitu besar dan dominannya, sehingga apa yang disebut Sunni pada masa kini sering dianggap sebagai Islam itu sendiri.

Di Indonesia dan beberapa negara Muslim di Asia Tenggara menganggap bahwa Sunni itu adalah Islam. Dominasi ini tidak terlepas dari sejarah kedatangan Islam di Indonesia yang pada awalnya memang dibawa oleh para penyebar Islam dari kalangan Sunni. Namun sebagaimana yang saya katakan, bahwa Sunni itu banyak dan bervariasi.

Dari kecenderungan mereka menafsirkan al-Quran dan Hadis, Sunni secara umum bisa dibagi ke dalam dua peta; pertama, mereka yang memiliki kecenderungan naqliyah (literalis) dan mereka yang memiliki kecenderungan aqliyah (rasionalis). Naqliyah ini literalis dan mereka yang tergolong dalam kelompok ini antara lain adalah para pengikut Imam Hanbali dan juga sebagian para pengikut Imam Syafii, sementara mereka yang aqliyah adalah mereka yang mengikuti madzhab Hanafi dan mereka memiliki kecenderungan dalam mengandalkan ra’yun (nalar) untuk mendekati Islam.

Bagaimana dengan terorisme seperti ISIS? ISIS menurut banyak studi adalah bagian dari kelompok Sunni. Bahkan ISIS beroperasi dan merekrut anggotanya dari wilayah-wilayah Islam yang didominasi oleh kaum Sunni. Tidak hanya ISIS, Jama’ah Islamiyah dan juga al-Qaedah dulu juga menyatakan afiliasi mereka, afiliasi paham keagamaan mereka ke dalam kelompok Sunni. Lalu Sunni yang mana yang menjadi inspirasi kaum teroris ini?

Banyak kalangan setuju jika Sunni ekstremlah yang menjadi inspirasi gerakan teror dan juga gerakan ekstremisme kekerasan di lingkungan umat Islam. Bahkan menurut Kyai Said Aqil Siradj, Ketua PBNU, Salafi-Wahabi terkait dengan tindakan terorisme dan tindakan ekstremisme di Indonesia. Kyai Said menyatakan Salafi-Wahabi adalah pintu masuk kaum teroris dan ekstremis.

Mengapa Salafi-Wahabi bisa menjadi pintu masuk? Karena di dalam Salafi-Wahabi terdapat ideologi keagamaan yang kaku dan literal, sehingga menuntun banyak orang untuk memahami agama secara hitam-putih. Pemahaman hitam-putih inilah yang menyebabkan banyak orang menjadi ekstremis dan menjadi teroris.

Hal ini sesuai dengan pandangan Syaikh Yusuf al-Qaradawi. Dia berpendapat, jika mereka yang biasanya masuk dan terjebak dalam terorisme dan ekstremisme kekerasan adalah mereka yang memahami agama secara harfiah atau secara literalis.

Mengapa literalis menjadi masalah? Karena cara pandang literalis ini hanya fokus pada pengertian luarnya saja, pengertian harfiahnya saja, tanpa memikirkan makna-makna dan hakikat-hakikat lainnya.

Karenanya, jika menisbahkan kelompok teroris ke kaum Khawarij, saya memiliki pandangan yang berbeda. Dari segi tindakan kekerasan, membunuh orang Islam lainnya, seperti yang kaum Khawarij lakukan terhadap para sahabat besar pada saat itu, memang kaum Khawarij ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh kaum teroris masa kini. Namun dari segi yang lain, saya melihatnya tidak terlalu cocok untuk memasukkan kaum teroris ke dalam kelompok kaum Khawarij.

Dari segi populasi, kaum Khawarij ini sudah punah. Dari segi ajaran, teologi kaum Khawarij juga tidak berkembang, karena tidak ada yang mengembangkannya. Kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama mereka juga mungkin sulit kita jumpai saat ini. Sarjana dan ulama-ulama mereka juga tidak ada yang menonjol di era sekarang ini.

Justru sekarang ini yang memiliki cara pandang, sebagaimana Syaikh Yusuf al-Qaradawi dan juga Kyai Said Aqil Siradj, yang memungkinkan para teroris dan ekstremis memiliki tautan ideologis dengan kelompok tertentu adalah kalangan Salafi dan Wahabi. Memang benar, tidak semua kalangan Salafi-Wahabi terlibat dalam gerakan terorisme dan ekstremisme kekerasan. Mereka yang terlibat di dalam gerakan ini biasanya dipanggil atau dinamai sebagai Salafi-Wahabi Jihadis, karena mereka memiliki orientasi jihad atau perang.

Sebagai catatan, penelusuran asal-usul dan akar ideologi keagamaan kaum teroris dan kaum ekstremis ini perlu dilakukan secara serius, termasuk penelusuran kesejarahannya dan kontekstualisasinya pada zaman sekarang, agar kita memiliki cara penanggulangan dan treatment yang pas. Wacana keagamaan publik di Indonesia juga harus mengerti masalah ini, agar kita bisa melakukan penilaian yang adil. Yang jelas, keterkaitan terorisme dan ekstremisme dan agama itu harus dijelaskan secara clear, bahwa kaum teroris dan ekstremislah yang banyak mempergunakan dan menyalahgunakan agama.

Komentar