GAGALNYA SKENARIO PELEDAKAN SERENTAK DI INDONESIA

Oleh: Ade Armando

 

Kalau hari-hari ini kita bisa tidur nyaman di rumah masing-masing, rasanya kita harus berterimakasih pada pihak Kepolisian, Densus 88, TNI, BIN. Tanpa gembar-gembor, mereka bekerja keras untuk menjaga kenyamanan hidup kita semua.

Salah satu yang terpenting, mereka berhasil menggagalkan rangkaian teror bom yang semula hendak diledakkan di puluhan titik di Indonesia saat ini. Bahkan menurut informasi, salah satu target mereka adalah Presiden Jokowi sendiri.

Karena itu saya merasa ngeri melihat sang Presiden bisa begitu dekat bertemu dengan rakyat. Saya tahu Pak Jokowi sangat mencintai rakyatnya. Tapi untuk saat ini, Pak Presiden mungkin sebaiknya menghindar dulu dari kedekatan tanpa jarak dengan rakyat.

Teror bom yang melibatkan FPI ini adalah ancaman serius. Yang masyarakat dengar barangkali cuma kegagalan bom bunuh diri di gereja Makassar. Atau penembakan di Mabes POLRI.

Dan sebagian dari kita barangkali juga mendengar adanya penangkapan calon teroris di beberapa kota: Jakarta, Bekasi, Tangerang. Tapi itu bukan hal yang terpisah-pisah. Itu adalah bagian dari sebuah aksi terencana yang mengerikan.

Kaum teroris itu sebenarnya sudah menyiapkan peledakan di titik-titik strategis: kantor polisi, TNI, SPBU, pertokoan, dan kantor-kantor bisnis yang dimiliki pengusaha Tionghoa. Mereka sudah punya kemampuan untuk melakukan peledakan di 200 titik sekaligus.

Jaringan teroris ini belum terungkap seluruhnya. Namun hampir pasti semua ini terkait dengan Front Pembela Islam (FPI). Apa yang terjadi menunjukkan FPI tidak bisa lagi dilihat sekadar sebagai gerakan politik. Mereka sudah menjelma menjadi sebuah gerakan kekerasan untuk menghancurkan Indonesia.

Yang sedang mereka upayakan adalah terciptanya kepanikan dan ketakutan masyarakat.
Mereka ingin menciptakan huru hara. Dan ini mereka lakukan karena mereka sekarang melihat pemerintah Jokowi bertindak semakin tegas untuk menghancurkan gerakan-gerakan Islamis Radikal.

Mereka ingin membalas perlakuan pemerintah terhadap imam besar mereka, Rizieq Shihab. Mereka marah melihat Rizieq dikejar-kejar, dimasukkan dalam tahanan, dan menurut mereka dihina di pengadilan.

Mereka marah melihat FPI dibubarkan. Mereka marah melihat sejumlah pimpinan FPI ditahan. Mereka marah melihat bagaimana enam anggota Laskar FPI dibunuh, meski sebenarnya FPI-lah yang menyerang polisi.

Mereka marah melihat rekening-rekening bank FPI diblokir. Mereka marah dan mereka tahu bahwa mereka sedang di ujung tanduk. Dan mereka menyaksikan bagaimana kelompok-kelompok Islamis Radikal lainnya pun dihabisi.

Mereka marah melihat HTI dibubarkan tanpa bisa melawan. Mereka marah melihat orang-orang seperti Bahar Smith, Sugik Nur, atau Maher At-Thuwailibi ditangkap. Maher bahkan mati dalam tahanan. Dan semakin lama pemerintah semakin berani menunjukkan sikap tegasnya.

Termasuk soal pelarangan kewajiban jilbab di sekolah negeri. Mereka juga marah melihat bagaimana kubu Islam Nusantara semakin berkibar. Mereka marah karena yang menjadi Menteri Agama adalah Gus Yaqut yang mereka nilai liberal. Itu semua bagi mereka sudah tak tertahankan.

Dan pembalasan yang terbayang adalah satu: menyerang balik mereka yang dianggap bertanggungjawab. Tentu saja kita tidak bisa menyatakan FPI saat ini adalah pelaku teror, karena mereka sudah dibubarkan.

Namun kalau kita melihat orang-orang yang tertangkap dalam aksi pembersihan yang dilakukan polisi, hampir semua memiliki keterkaitan dengan FPI. Beberapa nama teroris yang ditangkap polisi diketahui memiliki kartu anggota FPI.

Munarman memang menyatakan orang-orang tersebut sudah keluar dari FPI. Tapi fakta bahwa mereka setidaknya pernah menjadi anggota FPI sebelum FPI dibubarkan layak membuat kita curiga bahwa segenap aksi teror terkait dengan FPI.

Apalagi sekarang semakin jelas bukti-bukti yang menunjukkan bahwa juru bicara FPI, Munarman, adalah tokoh yang memang mengarahkan anggota-anggota FPI untuk berbaiat kepada pimpinan organisasi teroris ISIS.

Terbongkarnya jaringan teroris FPI ini dimulai dari pemboman di Gereja Katedral Makassar. Pada Januari 2021, Densus 88 menangkap jaringan teror di Makassar. Waktu itu berhasil diamankan 22 orang. Dari semuanya, 18 orang adalah anggota FPI. Dan rata-rata mereka adalah peserta baiat bersama Munarman.

Densus bergerak lebih jauh. Akhirnya polisi bisa meringkus lima teroris di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Salah seorang pelaku di Condet, bernama Bambang Setiono, mengaku bergabung dengan FPI setelah Rizieq pulang di akhir 2020.

Dalam kesaksiannya, ia menyatakan belajar membuat bom untuk meledakkan salah satu SPBU di Jakarta. Jenisnya TATP, peledak high explosive yang sangat sensitif. Menurutnya, indoktrinasi untuk melawan pemerintah itu diperoleh melalui pengajian-pengajian yang diikutinya setiap Jumat.

Seusai pengajian katanya, banyak dibahas tentang keadaan negara yang dikuasai oleh Cina. Ditanamkan bahwa ekonomi dan sumber daya alam Indonesia sudah dikuasai pengusaha Cina.

Bahkan pemerintah pun sudah tunduk pada kepentingan Cina. Karena itulah, untuk menyelamatkan umat Islam, mereka tidak boleh berdiam diri. Mereka harus menyerang pemerintah, polisi dan pengusaha Cina untuk menegakkan keadilan. Karena itulah Bambang belajar melakukan peledakan.

Dari penelusuran itu pula, diketahui FPI memang memiliki laskar khusus. Mereka memang dilatih untuk berperang. Mereka didoktrin untuk melihat musuh umat Islam adalah pemerintah, polisi, dan pengusaha Tionghoa.

Laskar FPI inilah yang menyerang polisi dalam tragedi Tol Jakarta-Cikampek. Syukurlah, enam anggota Laskar FPI itu bisa ditewaskan polisi. Mereka juga diketahui semula akan melakukan pemboman di saat Rizieq diadili. Karena itulah mereka berusaha keras agar pengadilan dilakukan secara offline, bukan online.

Mereka membayangkan efek yang ditimbulkan bila terjadi pemboman di saat pengadilan offline akan jauh lebih dahsyat dan menakutkan. Untunglah pengadilan offline bisa terus ditunda. Dan ketika pada akhirnya pengadilan offline bisa dilakukan, jaringan teror itu sudah terbongkar.

Skenario mereka pun gagal total. Apakah saat ini kita sudah bisa bernapas lega? Sama sekali tidak. Ruang gerak mereka memang makin terbatas. Sejak diblokirnya rekening dana FPI, mereka memang mengalami kesulitan dana. Tapi ini tidak berarti mereka akan berhenti.

Mereka masih akan melawan. Karena itulah, salah satu hal penting yang harus kita lakukan adalah mendukung pemerintah, polisi, Densus 88, TNI, BIN untuk melawan ancaman nyata ini. Kita tidak melawan Islam. Yang kita lawan adalah kaum Islamis Radikal yang bersedia melakukan semua cara untuk memuaskan syahwat mereka.

Komentar