ANARKISME SELALU MENDAPATKAN TEMPAT, JIKA TOKOH ISLAM MASIH ADA YANG DENIAL

Oleh: Syafiq Hasyim

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahun 2000-an sampai tahun ini. Namun sikap menyangkal atau denialisme selalu datang mengiringinya. Di Indonesia, sikap denial ini justru muncul banyak dari kalangan para pemimpin Muslim, daripada dari kalangan pemuka agama lainnya.

Sebagian pemimpin Muslim ini tidak terima jika agama mereka, apalagi Islam, dikait-kaitkan dengan terorisme. Anwar Abbas, pejabat di MUI, misalnya, meminta tindakan terorisme jangan dikaitkan dengan agama dan suku apapun, karena agama dan suku apapun tidak menyetujui tindakan itu.

Pernyataan seperti yang dikemukakan oleh Anwar Abbas banyak dan sepintas terlihat bijaksana, ingin menyelamatkan agama, namun jika dilihat secara saksama justru sebaliknya. Menyatakan jika seorang teroris tidak terkait dengan agama justru akan menyebabkan tindakan serupa akan berulang dan berulang kembali.

Selain itu, kalangan teroris menjadi leluasa menggunakan agama karena manusia beragama lainnya tidak anggap tindakan mereka itu sebagai masalah agama. Memang tidak semua terorisme beririsan dengan agama, namun jika kita melihat bom Makassar dan bom-bom lainnya, itu hampir mustahil untuk menolak adanya motivasi keagamaan ketika sang teroris mengebom atau bunuh diri di gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya.

Saya melihat jika terorisme itu jelas memiliki kaitan dengan agama. Untuk membuktikannya sangat mudah. Lihatlah bagaimana ISIS menggunakan simbol-simbol agama seperti penggunaan kalimat Tauhid, narasi-narasi jihad, dan masih banyak lagi. Untuk pelaku bom Makassar narasi keagamaan yang digunakannya sangat jelas dan menonjol. Begitu juga dengan al-Qaedah, Jama’ah Islamiyah dan organisasi-organisasi teroris lainnya. Sekali lagi, bagaimana bisa kita mengatakan jika terorisme itu lepas dan tak terkait dengan agama?

Mari kita perhatikan bagaimana para ulama dunia memandang betapa terorisme itu terkait agama. Syaikh Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama terkemuka yang bermukim di Qatar, mengatakan, jika terorisme itu adalah cara beragama yang salah.

Al-Qaradawi menggarisbawahi jika para pelaku ekstremisme dan terorisme itu adalah pihak yang salah dalam memahami “hakikat agama.” Artinya, hakikat agama Islam itu adalah perdamaian (salam), namun oleh kalangan teroris itu hakikat agama dibelokkan seolah-olah mendukung ekstremisme dan terorisme. Kata al-Qaradawi, para ekstremis dan teroris itu mendudukkan diri bahwa diri mereka sejajar dengan para ulama dalam pengetahuan hakikat keagamaan, yang mereka wujudkan lewat tindakan ekstremisme berkekerasan dan juga terorisme.

Padahal hakikat agama yang dipahami oleh para ulama adalah agama itu untuk menyelamatkan nyawa manusia (hifd al-din), bukan membunuh manusia, menyelamatkan harta benda, bukan menghancurkannya, menyelamatkan akal, bukan membelenggunya, menjaga martabat agama (hifdz al-din), bukan merusaknya.

Bahkan secara jelas ada asumsi tindakan ekstremisme kekerasan dan terorisme itu memiliki kaitan erat dengan pemahaman literalistik dan tekstualistik dalam memahami nas-nas keagamaan. Usama Ibrahmi Hafidz dan Asim Abdul Madjid menyatakan, jika banyak para pemuda yang merasa cukup memahami nas al-Quran atau teks al-Quran, bahkan bukan nas al-Quran dalam konteks Indonesia, namun terjemahan al-Quran. Menjadi fondasi bagi gerakan ekstrimisme dan terorisme mereka.

Pada pemuda ini mereka merasa tidak perlu untuk mendalami setiap kata, istilah, dan ungkapan yang ada di dalam al-Quran, misalnya dengan melakukan penelahaan mendalam apa sebenarnya makna yang ada di balik kata, istilah dan ungkapan al-Quran. Lagi, Syaikh Yusuf al-Qaradawi menyatakan, jika ekstremisme dan terorisme itu bisa terjadi karena umat Islam terlalu berkutat pada persoalan-persoalan yang tidak esensial di dalam kehidupan mereka.

Mereka sibuk bertikai pada hal-hal yang bersifat furu’ (cabang) agama, bukan agenda keagamaan yang besar. Agenda keagamaan yang besar bagi bangsa Indonesia adalah bagaimana menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang makmur dan sejahtera bagi rakyatnya. Kalangan ekstremis dan teroris tidak mau berpikir jauh untuk bangsa dan negara mereka. Mereka hanya mau berpikir untuk kepentingan kelompok dan ideologi mereka.

Artinya, mereka rela merusak bangsa dan negara demi kelompok dan ideologi yang mereka anggap benar dari hasil pemahaman mereka yang dangkal terhadap agama mereka sendiri. Sementara mereka sudah melakukan ekploitasi keagamaan yang sudah menimbulkan banyak kerusakan publik, lalu kita masih berprasangka bahwa “mereka tidak beragama.” Sementara mereka sudah menganggap bahwa mereka adalah yang paling benar, yang lain, termasuk kita semua yang beragama adalah orang-orang kafir, kita masih menyangka bahwa mereka itu jauh dari agama.

Jika demikian halnya, maka bagaimana mereka, kaum ekstremis dan teroris, diklaim tidak beragama? Mereka sudah melangkah jauh ke depan ingin mendaku dan mendominasi agama, yang kita pahami berbeda dari mereka. Kita masih berbaik sangka saja terhadap mereka bahwa mereka itu orang-orang tanpa agama.

Melihat gejala yang sudah terjadi dan mungkin akan terjadi lagi, kita tidak tahu pasti, maka para pemuka agama seharusnya tegas mengatakan bahwa kita dalam keadaan mendesak untuk melakukan tindakan pengakuan kembali (reclaiming) bahwa mereka kaum teroris telah mengkapitalisasi dan mendestruksi agama yang kita anut.

Jika tidak, maka kita akan dikorbankan lagi oleh mereka. Korban lahir maupun batin. Kita harus tegas bahwa mereka beragama, namun mereka telah melakukan kesalahan besar di dalam agama mereka. Kita yang merupakan bagian umat yang dominan ini yang cinta damai harus mengatakan bahwa ekstremisme dan terorisme harus diperangi, karena jika tidak agama akan kehilangan masa depannya.

Bukankah organisasi seperti MUI juga sudah memiliki fatwa jika ekstremisme dan terorisme itu bukan bagian dari jihad? Lalu kenapa masih ada saja pengurus mereka yang memiliki komentar yang seolah-olah empatik terhadap tindakan ekstremisme dan kekerasan beragama.

Bahkan pernyataan-pernyataan yang sejenis tidak hanya keluar sekali ini saja, namun berkali-kali. Setiap terjadi terorisme ada saja wakil dari MUI yang berpandangan empatik atas terorisme dan kekerasan. Saya berharap selain mengeluarkan bantahan-bantahan, MUI sebaiknya memberikan sanksi terbuka pada pengurusnya yang memiliki cara pandang yang benar-benar membawa kerugian dan dampak buruk pada negeri ini. Terorisme adalah tindakan seburuk-buruknya.

Sebagai catatan, mari kita akhiri perdebatan bahwa terorisme itu tidak terkait agama. Terorisme itu terkait dengan agama, dalam pengertian agama menyimpan potensi ditafsirkan secara keliru oleh para teroris. Justru dengan mengakui bahwa agama itu potensial digunakan sebagai alat justifikasi tindakan kekerasan mereka, maka kita akan muncul kesadaran baru untuk menjadikan agama kita bersih dari peyalahgunaan tersebut.

Komentar