TERORIS ITU AGAMANYA APA??

Oleh: Denny Siregar

 

Setiap kali ada kejadian bom bunuh diri di Indonesia, ramai-ramai para pejabat negara bicara bahwa terorisme tidak beragama. Dan akhirnya ramai juga perdebatan apakah agama teroris itu?

Perdebatan ini lebih ramai daripada bomnya sendiri. Dan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, bahkan juga di Amerika sendiri. Ketika terjadi serangan di Menara Kembar WTC tanggal 11 September 2001 di Washington DC Amerika, warga Amerika berdebat gak kalah sengitnya tentang agama para pelaku teror. Dan hasil dari perdebatan itu adalah tekanan kepada warga muslim minoritas di Amerika. Mereka mengalami serangan fisik dan psikis karena agamanya, bukan karena perbuatan mereka. Kebencian terhadap Islam kemudian tumbuh di sana, di kalangan penganut agama konservatif sehingga akhirnya muncul istilah islamophobia, atau ketakutan berlebih terhadap Islam.

Dan kebencian terhadap agama itu akhirnya meluas, bukan hanya di Amerika, juga di beberapa negara Eropa. Kebencian semakin besar, ketika bom bunuh diri terjadi lagi di beberapa negara di Eropa, yang dikabarkan dilakukan oleh kelompok ekstrimis Islam seperti Al-Qaeda. Belum lagi tayangan perang di Suriah dan kekejaman yang dilakukan kelompok teroris di sana.

Situasi kebencian itu kemudian menyebar dan mengakar hanya karena pertanyaan, teroris itu agamanya apa?

Terorisme itu punya definisi sendiri, yang bersifat kekerasan dan mengorbankan banyak nyawa. Tapi definisi terorisme juga berarti menebarkan ketakutan kepada banyak orang dengan perbuatan kekerasan. Dan sampai sekarang para ahli belum menemukan definisi yang tepat terhadap terorisme karena maknanya yang sangat luas. Mereka hanya sepakat bahwa pelaku terorisme disebut dengan teroris.

Tahun 1865, organisasi Ku Klux Klan dianggap teroris oleh banyak warga kulit hitam. KKK menebarkan ketakutan kepada warga kulit hitam di mana-mana, karena menganggap bahwa kulit hitam adalah hama atau virus yang harus dibasmi. Ku Klux Klan adalah organisasi supremasi kulit putih yang berkembang luas karena kebencian terhadap perbedaan warna kulit.

Di tahun 1994, suku Tutsi di Rwanda, Afrika, menganggap bahwa suku Hutu teroris. Suku Hutu menyebarkan ketakutan dengan melakukan kekerasan kepada suku Tutsi dan mengakibatkan hilangnya nyawa 1 juta jiwa dalam waktu sebulan saja.

Dan pada masa sekarang, terorisme lebih diperuntukkan kepada siapapun yang mengancam keutuhan negara atau melawan negara. Terorisme biasanya biasanya melalui fase awal terpapar, kemudian menjadi radikal, dan terakhir melakukan aksi teror. Radikal yang melawan negara dan melakukan tindakan kekerasan yang membawa korban jiwa itulah yang sekarang disebut dengan teroris. Dan biasanya, kata teroris itu muncul karena perbuatan kekerasannya punya niat untuk membuat ketakutan satu negara, bukan hanya kepada satu komunitas saja.

Itulah kenapa disebut kalau pelaku aksi teror tidak berhubungan dengan agama, tidak mewakili ras, tidak ada hubungannya dengan warna kulit, dan tidak mewakili apa saja. Mereka hanya mewakili ideologi politik mereka dan kelompoknya saja. Terorisme lebih kuat pada agenda politik daripada masalah-masalah lain. Dan ini disepakati oleh banyak negara. Adapun masalah agama, kulit, suku, dan ras itu hanya “atas nama” saja. Mereka merasa mewakili golongan yang mereka atas namakan, padahal mayoritas dari golongan itu menolak keberadaan mereka.

Sebagai contoh saja di Indonesia. Teroris di Indonesia yang melakukan bom bunuh diri, bisa saja mayoritas dari mereka beragama Islam. Mereka melakukan itu karena keyakinan yang mereka anggap jihad. Dan makna “jihad” yang seharusnya agung itu menjadi hancur oleh mereka karena dipakai untuk merusak dan menghilangkan nyawa sendiri dan orang lain dengan kekerasan. Tapi kalau kita lihat lebih dalam, benarkah konsep jihad di dalam agama yang mereka pakai? Bukan. Mereka menggunakan konsep jihad itu sebagai bagian dari melaksanakan agenda politik mereka, yaitu berlakunya negara satu agama.

Para pelaku bom bunuh diri, para teroris di Indonesia mulai dari otaknya, perakit bomnya sampai pengantinnya, punya ideologi politik yang sangat kuat. Otak dari bom bunuh diri, sangat mungkin tahu kalau agama tidak mengajarkan bunuh diri, apalagi bunuh diri di dalam Islam termasuk dosa besar. Tapi dia tidak punya cara lain untuk menyampaikan pesan di terornya, supaya mendapat perhatian negara selain dengan bom bunuh diri yang membawa korban jiwa. Dan banyaknya korban jiwa adalah kunci kesuksesan mereka, karena itu berarti perhatian terhadap pesan mereka akan meluas dan berdampak. Para pengantin biasanya hanyalah korban, karena tidak paham agama dan otaknya hanya diisi doktrin tanpa sedikitpun akal mereka mencerna.

Jadi bisa kita pahami, kenapa pejabat negara selalu bicara bahwa teroris tidak punya agama. Bukan mereka menyangkal kalau beberapa bomber bunuh diri itu beragama Islam di KTPnya. Mereka sangat tahu itu. Tetapi ketika mereka menuduh di publik dengan menyebut agama tertentu, sudah pasti akan ada keributan baru. Mayoritas Islam di Indonesia akan tersinggung, karena mereka sendiri tidak menganggap bahwa teroris itu bagian dari agama mereka. Kenapa? Ya, karena di dalam ajaran Islam tidak ada perintah bunuh diri, lha trus teroris itu pakai ajaran siapa? Bajunya doang yang Islam, tapi keyakinannya itu sangat berbeda.

Lagian, bahaya kalau pemerintah dipaksa menyebut bahwa teroris itu beragama tertentu. Bisa-bisa, negara kita lebih sibuk menebar kebencian karena agama, bukannya sibuk menyelesaikan akar masalahnya.

Yang harus kita sepakati dengan penuh kerendahan hati, tanpa kesombongan terhadap iman kita adalah, teroris itu musuh kita bersama. Mereka mengatasnamakan agama dengan menyerang agama lain, untuk memecah belah kita. Harus kita perangi mereka, apapun agamanya, warna kulitnya, sukunya, ataupun rasnya. Sudahilah bertanya, teroris itu agamanya apa? Karena dari pertanyaan itu akan muncul kebencian lain tanpa kita sadari dan kita akan menjadi seperti apa yang para teroris itu inginkan.

Yaitu, perang saudara.

Komentar