SURVEI SMRC: GANJAR PRANOWO CALON KUAT PRESIDEN 2024

Oleh: Ade Armando

 

Siapakah tokoh politik yang paling besar peluangnya untuk menjadi Presiden 2024 Jawabannya: Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah.

Paling tidak, inilah temuan yang baru saja dirilis oleh salah satu lembaga survei terbaik di Indonesia, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Survei nasional SMRC ini menemukan Ganjar sangat mungkin memenangkan kursi kepresidenan, dengan satu syarat: namanya harus lebih banyak dikenal oleh rakyat Indonesia.

Saat ini, yang menjadi ganjalan dia adalah hampir 50% rakyat Indonesia belum mengenal nama Ganjar. Tapi begitu nama dia dikenal, kemungkinan nama Ganjar yang akan dipilih lebih tinggi daripada calon-calon lainnya.

Temuan SMRC lain yang menarik adalah, Ganjar bisa disebut sebagai pelanjut Jokowi. Persentase terbesar warga yang menyatakan mendukung Jokowi, akan memilih Ganjar sebagai Presiden.

Hal sebaliknya juga berlaku, para pendukung Ganjar cenderung untuk memandang Jokowi memiliki kinerja positif dan cenderung mendukung program-program pemerintah. Survei nasional SMRC ini tidak fokus pada soal Ganjar dan Jokowi saja.

Di dalam survei itu ada banyak pertanyaan lain, dari soal penanganan Covid, pemulihan ekonomi, kondisi politik, sampai nama-nama capres. Banyak temuan menarik di sana.

Tapi mungkin yang sangat relevan untuk membayangkan apa yang akan terjadi di Indonesia di masa yang akan datang adalah soal siapa yang memimpin Indonesia. Mungkin bagi sebagian Anda, membicarakan calon presiden 2024 saat ini masih terlalu dini. Tapi dalam pandangan saya, kita sebaiknya sudah membicarakannya sejak sekarang.

Masalahnya, Presiden Jokowi sudah hampir pasti akan diganti. Memang masih banyak yang berharap Jokowi bersedia untuk menduduki posisi kepresidenannya setidaknya satu periode lagi. Tapi UUD 1945 kita sudah menetapkan bahwa masa jabatan presiden dibatasi hanya dua periode.

Jokowi sendiri sudah berulangkali bilang, dia tidak akan mendukung ide mengamandemen atau mengubah UUD 1945. Jokowi ini bukan pemimpin yang haus kekuasaan sehingga ingin terus bertahan di tahtanya, walau itu misalnya melalui prosedur demokratis.

Karena itu kita sebagai bangsa terpaksa harus mencari pemimpin dalam waktu 3 tahun lagi. Jokowi sudah memimpin bangsa ini dengan mengagumkan. Survei SMRC ini misalnya mengungkapkan bahwa 77% warga menyatakan puas dengan kinerja Jokowi.

Angka ini adalah angka yang tinggi, bahkan tertinggi sejak awal kepemimpinannya di tahun 2019.

Kalau kita memang bahagia dengan kondisi Indonesia saat ini, kita harus memilih pemimpin yang berkualitas serupa agar semua kemajuan yang telah tercapai dapat dipertahankan dan dikembangkan.

Kalau kita hidup santai, tidak peduli, cuek, jangan salahkan kalau Indonesia nantinya akan terjerembab. DKI Jakarta adalah contoh terbaik.

Segenap pencapaian gubernur terdahulu, terutama Jokowi dan Ahok, hancur berantakan gara-gara 56% warga Jakarta memilih gubernur seiman yang sama sekali tidak becus kerjanya. Bangsa Indonesia tidak boleh mengulang kesalahan bodoh yang sama.

Sejak sekarang kita sudah harus menilai kualitas calon-calon pemimpin yang nanti akan bertarung. Waktu tiga tahun adalah waktu yang cukup lama kalau kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan proses penilaian.

Karena itulah survei tentang apa yang disebut sebagai popularitas dan elektabilitas tokoh sebagai calon presiden layak dilakukan sejak sekarang. Memang ada banyak lembaga survei abal-abal yang sok bikin survei nasional. Karena itu saran saya, pilih sedikit saja lembaga-lembaga survei yang bisa Anda percaya.

Yang saya rekomendasikan adalah antara lain: SMRC, Lembaga Survei Indonesia, Indikator, Charta Politica, CSIS, dan Kompas mungkin. Hasil survei lembaga-lembaga ini akan cenderung mirip, tak banyak berbeda, dan relatif bisa diandalkan kesahihannya.

Sekarang kita kembali ke survei SMRC yang saya bicarakan di awal. Survei ini menunjukkan nama Jokowi tetap menjulang.

Ketika warga ditanya nama-nama tokoh yang akan dipilih sebagai Presiden, nama Jokowi berada di peringkat teratas, baru diikuti oleh Prabowo, Ganjar, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, dan Ahok.

Nama-nama lain hanya dipilih oleh kurang dari 2% warga. Namun ada dua persoalan dengan peringkat pilihan tersebut. Pertama, di dalamnya ada nama Jokowi yang tidak boleh dipilih lagi. Kedua, kedikenalan nama-nama tokoh tersebut tidak merata di semua masyarakat.

Ada yang kenal Prabowo tapi tidak kenal Ganjar, atau ada yang kenal nama Anies tapi tidak kenal Sandiaga, dan seterusnya.

Karena itulah untuk memperoleh prediksi yang lebih akurat, nama Jokowi harus dihilangkan dulu, dan faktor kedikenalan harus disertakan.

Ketika ditanya lebih lanjut, diketahui bahwa hampir 96% warga tahu Prabowo. Dia yang tertinggi. Di lapis kedua, ada Sandiaga Uno yang dikenal oleh 83% warga, dan Anies Baswedan 81% warga.

Di lapis ketiga, dengan selisih agak jauh, ada AHY (66%), Ridwan Kamil (62%), dan Puan Maharani (61%). Baru di lapis keempat ada Ganjar Pranowo yang hanya dikenal oleh 54% warga.

Nama-nama lain, seperti Mahfud MD, atau Erick Tohir, berada di bawah 50%. Kemudian SMRC menanyakan siapa capres pilihan hanya kepada mereka yang mengenal ketujuh nama tokoh yang tingkat kedikenalannya lebih dari 50% tadi.

Di sinilah diketahui bahwa nama Ganjar berada di peringkat teratas calon presiden. Ganjar memperoleh sekitar 21% suara, diikuti Anies (sekitar 16%), Prabowo (14%), Ridwan Kamil (8%), Sandiaga Uno (7% lebih sedikit), AHY (3%) dan Puan Maharani (1,6%).

Sekitar 40% warga memang tidak memberikan jawaban. Tapi dari angka itu saja, kita sudah bisa melihat siapa calon-calon kuat untuk jadi presiden.

Lihat saja perbandingan Ganjar dan Anies. Anies jauh lebih dikenal daripada Ganjar. Anies dikenal 81% warga, Ganjar hanya 54%. Namun kalau dikerucutkan hanya pada mereka yang mengenal nama ketujuh tokoh, ternyata Ganjar berada di posisi teratas untuk dipilih sebagai presiden, di atas Anies.

Artinya peluang Ganjar untuk terpilih sebagai presiden, kalau tingkat kedikenalannya sama dengan tokoh-tokoh lain, paling tinggi. Dengan kata lain, kalau Ganjar ingin bertarung untuk jadi capres, dia perlu dikampanyekan dalam tiga tahun mendatang.

Selain itu, survei SMRC ini juga menunjukkan bahwa pendukung Jokowi akan cenderung memilih Ganjar dibandingkan kandidat lain.

Jadi survei SMRC berusaha mempelajari, kalau nama Jokowi dihilangkan dari daftar, siapa nama tokoh yang akan dipilih mereka yang semula memilih nama Jokowi.

Ternyata, perpindahan pemilih Jokowi yang terbesar adalah pada Ganjar (18.4%), kemudian Anies (15.2%), dan Ridwan Kamil (13.1%). Hanya sekitar 9% pemilih Jokowi yang memindahkan suara ke Prabowo.

Demikian pula, survei ini juga menunjukkan mereka yang memilih nama Ganjar sebagai capres memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mendukung Jokowi dibandingkan pemilih nama tokoh lain.

Sebagai contoh di kalangan warga yang menyatakan puas dengan kinerja Jokowi, sekitar 24%nya adalah pendukung Ganjar, 12%nya pendukung Prabowo, 11% pendukung Anies, dan 10% pendukung Ridwan Kamil.

Begitu juga, di kalangan warga yang menyatakan puas dengan kinerja pemerintah menangani Covid, sekitar 22% adalah pendukung Ganjar, hanya 12% pendukung Anies, 10% pendukung Prabowo dan 10% pendukung Ridwan Kamil.

Di kalangan warga yang menyatakan puas dengan kinerja pemerintah melakukan pemulihan ekonomi, 22% adalah pendukung Ganjar, hanya 12% pendukung Anies, 10% pendukung Prabowo, dan 10% pendukung Ridwan Kamil.

Jadi terlihat jelas di kalangan pendukung Jokowi, persentase pendukung Ganjar selalu di atas pendukung tokoh-tokoh lain. Sebagai penyimpul, apa saja yang bisa ditarik dari survei nasional SMRC yang menarik ini?

Pertama, ada sejumlah nama yang berpeluang untuk maju sebagai capres 2024: Prabowo, Ganjar, Anies, dan Ridwan.

Nama Prabowo mungkin sebaiknya dihilangkan, mengingat data menunjukkan bahwa walau dia sudah menjadi capres dua kali dan kini menjadi menteri, elektabilitasnya bahkan di bawah 15%.

Kalau dia nekad maju lagi, sangat mungkin dia mempermalukan diri untuk ketigakalinya. Kesimpulan kedua, persaingan di antara Ganjar, Anies, dan Ridwan memang cukup ketat, namun nampaknya peluang lebih besar dimiliki Ganjar.Yang diperlukan Ganjar adalah bagaimana meningkatkan tingkat kedikenalannya.

Ketiga, salah satu faktor yang mungkin akan mendorong keberhasilan Ganjar adalah para pendukung Jokowi. Yang terbesar peluangnya untuk menjadi tempat berlabuh hati pendukung Jokowi adalah Ganjar.

Dan itu sangat berarti. Pilpres memang masih akan berlangsung tiga tahun lagi. Namun sangat penting bagi kita untuk terus mengawalnya, sejak saat ini.

Komentar