SURAT WASIAT SANG PENGANTIN

Oleh: Denny Siregar

 

Ada pertanyaan menarik dari seorang teman, “Kenapa generasi sekarang kok gampang sekali ya jadi radikal?”

Kalau kita perhatikan usia para “pengantin” yang menyerang negeri ini baru-baru ini, kita melihat bahwa usia mereka itu masih muda, kelahiran tahun 1995 yang berarti mereka masih 26 tahunan. Dan pada usia semuda itu, mereka lebih sibuk berbicara tentang akhirat, tentang halal haram, tentang ayat daripada sibuk bicara tentang ilmu pengetahuan, tentang prestasi, tentang masa depan yang cemerlang.

Bisa jadi mereka yang terpapar itu sebenarnya sedang mencari jati diri mereka. Seperti remaja umumnya mereka sedang krisis kepercayaan diri, karena merasa kalah bersaing dengan remaja di sekitarnya. Dan salah satu pelarian mereka adalah agama.

Sayangnya, ketika mereka memilih agama sebagai pelarian, akal mereka tidak mampu memilah mana guru yang benar dan mana guru yang salah. Mereka menelan semua mentah-mentah karena menganggap guru mengaji mereka itu tidak ada salahnya, seperti malaikat yang tidak punya dosa.

Dan hasilnya? Mereka seperti robot yang diprogram sesuai perintah guru mengajinya. Kalau saat itu disuruh melakukan kekerasan, mereka sama sekali tidak berfikir kalau kekerasan itu salah. Buat mereka, apa yang dikatakan gurunya itu semuanya benar.

Coba perhatikan surat wasiat yang menyebar di media sosial dari para “pengantin” itu. Mereka membuat surat wasiat kepada orangtuanya, kepada keluarganya, seolah-olah mereka sudah pasti masuk ke surga. Orangtuanya pun dinasihati dengan pedenya, supaya jangan terlibat dengan bank yang dianggapnya riba.

Dan menariknya, dia seolah-olah nanti di akhirat akan memberikan syafa’at, atau pertolongan kepada orangtuanya. Si pengantin menganggap bahwa apa yang dilakukannya dalam mencari kematian adalah jihad, yang sudah pasti jika dia lakukan akan secara langsung lewat jalan tol, memasukkannya ke surga tanpa harus ditimbang amal dan dosanya. Gila, kan?

Memang gila. Dan begitulah yang diajarkan gurunya di majelis yang dia duduk di sana, mendengarkan satu persatu perkataan gurunya tanpa memakai akal dan logika dalam memahami perkataannya. Karena di dunia nyata si pengantin merasa sudah kalah bersaing dalam kompetisi kerja dan profesi, dia lalu mencari kebanggaan dirinya lewat agama yang dia yakini. Dan biasanya, orang seperti ini membungkus dirinya dengan simbol-simbol supaya orang bisa melihat bahwa ia sedang mengikuti apa. Dan simbol itu biasanya berbentuk pakaian. Yang cewek pakai burqa, yang cowok celananya semakin cingkrang. Dan semakin rapat cadarnyalah, semakin besar potensi dia masuk surga.

Cobalah berbicara kepada mereka tentang makna, tentang filosofi, tentang hakikat dari ajaran yang dia yakini. Percayalah, mereka gak akan bisa dan gak akan mampu menemukannya. Karena buat mereka, agama itu lebih kepada kebanggaan diri saja, bukan ilmu yang harus dipelajari kedalaman pengetahuannya. Dan dalam pemikiran orang-orang seperti ini, gak ada pilihan apapun, gak ada multiple choice seperti biasanya kita ujian di sekolah. Yang ada cuma benar atau salah. Kenapa benar, kenapa salah, dia gak paham. Kalau kata gurunya salah, ya salah. Gurunya buat mereka dia seperti kunci jawaban ujian di dalan ujian. Mending nyontek aja, semua pasti benar.

Padahal gurunya juga hasil dari situasi yang sama. Sama-sama nyontek dari guru yang salah paham juga. Jadi si bodoh ngajarin si bodoh. Dan hasilnya apa? Bodoh berjamaah.

Karena akalnya yang lemah itulah, kebanggaan diri mereka menguat. Akal gak ada, otot yang keluar. Agama tidak membuat dirinya menjadi damai dan sejuk, malah seperti api menyala-nyala dengan kebencian terhadap sesama, karena buat mereka, kebencian itu adalah sebagian daripada iman.

Dan mereka menyebut itu sebagai hijrah. Atau orang yang mengalami perubahan dari buruk menjadi baik, meski baik menurut mereka adalah buruk buat orang sekitarnya. Mereka menjadi orang yang sombong dengan imannya, gampang mengkafir-kafirkan orang lain. Apalagi kalau ketemu orang seusianya yang lebih pintar dan lebih sukses dari dia. Gampang, kafirkan saja mereka. “Toh orang itu cuma sukses di dunia, gua dong sukses nanti di akhirat.” Begitu pikiran mereka.

Inilah potret sebagian dari generasi milenial kita, yang seperti kelinci dan mudah diterkam oleh para serigala yang berpakaian agamis, dengan gelar ustaz, tetapi punya agenda politik demi tujuan mereka belaka. Para orang muda ini dicuci otaknya supaya mau mengikuti mereka. Dan buat para serigala berbaju agama ini, anak-anak muda itu cuma produk saja, benda mati yang bisa disuruh ke mana-mana, bahkan disuruh cari duit supaya si “ustaz”nya bisa duduk manis dengan perut buncit tanpa harus bekerja apa-apa. Modalnya cuma bacot doang, udah bisa kaya. Jadi, ngapain juga kerja?

Membaca surat si “pengantin” yang menyebar di media sosial itu, sedih sebenarnya. Karena itulah potret orang muda dengan wawasan kurang. Nilai akademisnya sih boleh oke, tetapi dalam pergaulan, di dalam jaringan, dalam kompetisi dan dalam menatap masa depan, nilai-nilai mereka minus semua. Mental mereka mudah patah, dan sibuk mencari pelarian, tempat di mana mereka diakui dan disanjung berlebihan sebagai “saudara seiman”.

Saya jadi ingat perkataan seorang teman, “Agama itu seperti secangkir kopi. Seruputlah dia sesuai dosisnya, setahap demi setahap, nikmati perlahan-lahan, maka kamu akan mendapatkan nilai-nilai di dalamnya. Tapi kalau kamu teguk kopi itu, apalagi dalam kondisi yang panas, lidahmu pasti kebakar dan isinya caci maki yang gak pernah selesai.”

Komentar