JAKSA VS RIZIEQ SHIHAB

Oleh: Denny Siregar

 

Bukan Rizieq Shihab namanya kalau tidak kontroversial. Sejak kembali ke Indonesia sesudah kabur 3,5 tahun lamanya di Saudi Arabia, dia selalu jadi bahan pembicaraan.

Mulai kedatangannya yang mengerahkan ratusan orang di bandara, perkawinan anaknya yang mengundang ribuan orang waktu pandemi, kaburnya dia dari rumah sakit, dan tewasnya para pengawal Rizieq di tangan polisi, bahkan sampai sidangnya pun selalu mengundang keributan.

Para simpatisan Rizieq juga tidak kalah kontroversialnya. Ada yang teriak-teriak di dalam dan di luar ruang sidang, bahkan sampai nangis-nangis segala mencari perhatian wartawan supaya diliput dan viral. Ada juga pengacaranya yang tertangkap bawa senjata tajam di mobilnya, dan pengakuannya berubah-ubah. Kadang dia bilang parang yang dibawanya untuk kupas mangga, besoknya dia ngaku itu untuk benerin kabel putus. Gak jelas sebenarnya untuk apa dia bawa parang di mobilnya, mungkin untuk tusuk gigi kalo ada daging yang nyelip sesudah makan. Bang jago rupanya.

Apa yang terjadi dan dipertontonkan Rizieq Shihab dan pendukungnya itu sangat bertentangan dengan revolusi akhlak yang dia gembar-gemborkan pada waktu pulang. Bulan Desember kemarin, Rizieq menyebarkan video tentang pentingnya revolusi akhlak yang harus dilihat sebagai situasi darurat. Menurut Rizieq, sistem di Indonesia itu darurat akhlak dan tidak berperikemanusiaan serta beradab sesuai sila kedua Pancasila. Karena itu, dia ingin memimpin negeri ini supaya umat Islam harus merevolusi akhlaknya.

Tapi lucunya, dia sendiri akhlaknya minus. Sehari sesudah dia mengumumkan revolusi akhlak, Rizieq tidak datang ketika dipanggil polisi untuk diminta keterangan. Dia bahkan sampai kabur ke Bogor dan masuk rumah sakit karena tertular Corona. Parahnya lagi, Rizieq bohong ke satgas kalau dia tidak tertular, bahkan kabur dari rumah sakit lewat pintu belakang. Di situ aja udah ketahuan kok akhlaknya nol besar, padahal dia mengaku dirinya imam jumbo, pemimpin umat Islam. Masa pemimpin kok bohong dan kabur-kaburan?

Saya pernah mendengar dari seorang aparat yang pernah menangkap Rizieq Shihab, kalau Rizieq itu aslinya cengeng dan penakut. Dan untuk menutupi rasa takutnya, dia membangun benteng di sekitarnya lewat laskar yang khusus untuk menjaga dirinya. Rizieq itu paranoid, selalu curiga orang di sekitarnya berkhianat yang ingin mencuri posisinya sebagai pimpinan di FPI. Karena itulah dia menciptakan konsep Imam Besar dengan jabatan seumur hidup, supaya tidak ada yang mengambil posisi dia sekarang. Ormas FPI buat Rizieq adalah segala-galanya, karena di sanalah eksistensinya diakui dan dia menjadi seseorang. Kalau gak ada FPI, Rizieq bisa jadi hanya seorang penjual parfum saja dan bukan siapa-siapa.

Dan untuk memantapkan halusinasinya, dia lalu menyuruh pendukungnya untuk bikin baliho-baliho besar di sepanjang jalan dengan wajah dirinya. Dan ya begitulah, Rizieq hidup dalam mimpi yang dia ciptakan sendiri. Dia merasa sebagai pemimpin umat Islam, padahal mayoritas umat Islam malah mentertawakannya. Rizieq dan pendukungnya sudah sama-sama hidup dalam kegilaan pemikiran mereka, yang mereka bangun sendiri. Mereka sama-sama membutuhkan. Rizieq butuh pengakuan, sedangkan pendukungnya butuh dia sebagai simbol untuk mencari uang. Karena tanpa Rizieq, bohir gak mau kasih dana besar untuk kegiatan.

Tapi siapa sih yang berani ngomong begini waktu organisasi FPI sedang besar-besarnya? Gak ada. Banyak orang yang lebih senang hidup dalam ketakutan, padahal ketakutan itu hanya bangunan yang dibikin sendiri oleh Rizieq. Rizieq memanfaatkan garis darahnya sebagai keturunan Nabi untuk kepentingan pribadinya. Dia juga memanfaatkan posisi dia sebagai “ulama besar” dan menciptakan “ulama-ulama” baru di sekitarnya untuk mendukung klaimnya.

Coba lihat, hakim saja di dalam sidang sempat terpengaruh oleh bangunan halusinasi yang dibangun oleh Rizieq dan pendukungnya, sampai lupa kalau di dalam sidang seorang hakim seharusnya pantang menyebut gelar seseorang ketika dia menjadi terdakwa. Hakim dengan polosnya memanggil Rizieq Shihab dengan gelar habib, padahal sepantasnya seorang terdakwa dipanggil dengan panggilan “saudara terdakwa”.

Dan yang menarik adalah apa yang dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum. Jaksa itu tidak ada segannya dengan memperlakukan Rizieq seperti terdakwa lainnya. Buat Jaksa, lu mau habib kek, mau sultan kek, kalau sudah di ruang sidang lu sama terdakwa kayak yang lainnya. Dan kerasnya prinsip Jaksa itu sudah dimulai sejak sidang itu dimulai, sehingga terjadi gesekan keras antara Jaksa dengan Rizieq sebagai terdakwa. Dan seperti biasa, Rizieq kemudian teriak-teriak seperti anak cengeng dan manja yang mengadu ke orangtuanya, bahwa dia didzalimi oleh Jaksa.

Pendukung Rizieq, seperti biasa, marah ketika simbol mereka tidak dianggap tinggi oleh Jaksa. Di Ciamis Jawa Barat, ratusan pendukung Rizieq menyerbu kantor Kejaksaan. Mereka menuntut Rizieq diperlakukan dengan baik karena dia habib. Luar biasa memang doktrin Rizieq kepada pendukungnya, sehingga dia tampak seperti dewa yang tidak punya salah dan dosa. Orang yang menonton perilaku pendukung Rizieq itu ya pasti ketawa lah, masa Rizieq disidang di Jakarta, yang diserbu kantor Jaksa di Ciamis. Kan gak ada hubungannya?

Dan puncak dari gesekan Rizieq Shihab dengan Jaksa akhirnya terjadi, ketika Jaksa menjadi tidak sabar karena terus dimaki-maki Rizieq dalam sidang. Jaksa kemudian akhirnya menguliahi si imam jumbo dengan kata-kata yang sangat menohok dan viral di media sosial.

1-0 buat Jaksa. Rizieq terkapar lemah dengan malu yang amat sangat. Ia ditelanjangi habis-habisan. Rizieq yang biasanya menjadi penceramah, kali ini diceramahi Jaksa di depan umum dengan kata-kata yang telak dan tidak bisa dia bantah. Kata-kata Rizieq untuk memimpin Revolusi Akhlak yang dia bangga-banggakan, dikembalikan ke dirinya sendiri dengan penuh penghinaan. Habislah Rizieq dipermalukan.

Jarang sekali kita melihat Jaksa yang pemberani seperti ini. Yang tidak terpengaruh oleh gelar habib dan cucu Nabi yang selalu dipakai Rizieq sebagai senjata. Buat Jaksa, semua manusia itu derajatnya sama di mata Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya belaka.

 

 

Komentar