FPI MENJELMA JADI ORGANISASI TER0R

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Hari minggu lalu terjadi sebuah tragedi di Gereja Katederal Makassar. Belum juga kesedihan kita hilang, eh, kemarin terjadi lagi di Jakarta. Tepatnya di Mabes Polri. Orang-orang yang telah dicuci otaknya mulai memainkan perannya. Katanya mereka mau mencari surga, tapi yang diciptakan di dunia ternyata kok neraka melulu.

Para pelakunya masih muda. Kelahiran tahun 1995. Yang di Makassar malah baru menikah 6 bulan. Istrinya diajak juga untuk melakukan kegiatan biadab itu. Istrinya sedang hamil 4 bulan ikut tewas dengan tubuh berantakan.

Sementara pelaku di Mabes Polri perempuan. Drop out kuliah. Dan dari surat wasiat yang ditinggalkan, kita membaca kok keduanya agak mirip ya. Pelaku di Makassar dengan pelaku di Mabes Polri, kayak sudah ada templatenya gitu. Isi suratnya, seperti mereka yakin bahwa jalan yang diambilnya ini sudah benar. Mereka mau mati dengan sadar. Mereka mati untuk membela sesuatu.

Pada bagian lain surat wasiatnya terbaca jelas kebencian mereka yang naudzubillah pada negara. Mereka bilang negara taghut, mereka bilang ikut demokrasi sebagai pengikut setan. Dan seruan kepada keluarganya untuk menjauhi bank. Mereka memang beranggapan bahwa terlibat pinjam-meminjam dengan bank itu sebuah dosa yang besar.

Surat wasiat Zakiah Aini, Zakiah ini pelaku teror di Mabes Polri kemarin agak beda sedikit. Karena dia anak Jakarta, anak Jakarta Timur tinggal di daerah Ciracas, jadi ada suasana Jakartanya. Dalam surat itu, dia kayaknya memprotes kakaknya, yang ternyata seorang Ahoker. Sempet-sempetnya mau meninggal masih mikirin soal Pilkada Jakarta.

Kenyataannya, baik yang di Makassar maupun di Jakarta, mereka semua telah mati konyol. Konyol yang sesungguhnya menurut saya.

Tapi jika kita telaah pola gerakannya di Indonesia ini kayaknya ada dua afiliasi gerombolan teroris. Pertama gerombolan di Indonesia ini berafiliasi ke Alqaedah dan yang kedua merujuk ke Islamic State (IS).

Kalau dilihat dari pola gerakannya, para pelaku di Makassar dan di Mabes Polri kemarin adalah simpatisan IS. Cirinya mudah. Gerakan itu atau teror mereka, dilakukan secara serampangan, cuma modal nekat, dan melibatkan perempuan. Karena modal nekat mereka kayaknya cari mati memang.

Sementara teror gaya Alqaedah biasanya dilakukan dengan perencanaan lebih matang. Dan rata-rata pelakunya lelaki dewasa. Sebab kabarnya Alqaedah itu punya doktrin, kata mereka jihad hanya boleh dilakukan oleh laki-laki yang sudah akil baligh. Jihad bukan untuk perempuan juga bukan buat anak-anak.

Nah karena biasanya teror gaya Alqaedah itu dilakukan dengan perencanaan yang lebih matang, makanya mereka bisa menyebabkan korban jiwa yang jauh lebih besar. Untuk melakukannya juga butuh dana yang besar. Dilakukan oleh kelompok yang besar dan terstruktur.

Ada yang merancang alat peledaknya, ada yang memantau kondisi, ada yang merujuk perintah, ada yang sewa mobil, ini semuanya beda-beda orang. Bom Bali atau bom Marriot adalah contoh pekerjaan kelompok ini. Dan kita tahu korbannya banyak.

Sementara teror ala IS cirinya lebih beringas. Pelakunya tidak disarankan harus lelaki baligh atau lelaki dewasa. Bahkan kini semakin sering dilakukan oleh perempuan dan juga ikut melibatkan anak-anak kecil. Ingat gak kasus di Surabaya yang melibatkan satu keluarga? Yang kemudian meledakkan pos polisi atau gereja juga.

Teror gaya IS emang gak pake otak. Yang penting terlihat beringas. Yang penting nyerang. Dan yang penting dianya mati. Sebab kematian itulah yang mereka kejar. Kematian buat dirinya sendiri, syukur-syukur bisa membuat orang lain mati juga.

Tujuannya memang mau mati dengan cara yang konyol. Mungkin mereka meyakini Tuhan menyukai kekonyolan mereka. Semakin konyol, semakin diridhoi. Nah itu cara berpikir mereka.

Kita tentu bertanya, kenapa ada dua kejadian teror dalam waktu yang sangat berdekatan. Dari polanya kita tahu, mereka merupakan orang dari kelompok yang sama. Berafiliasi pada IS atau gaya terornya gaya IS.

Bagi saya, pemicu kenapa mereka bisa bergerak bersamaan itu bisa saja ada yang menginstruksikan. Atau mereka semua menangkap sebuah sinyal yang sama. Atau ada sebuah kejadian yang mereka terjemahkan sebagai perintah untuk bergerak.

Saya pernah bikin ulasan di CokroTV yang tayang seminggu lalu. Waktu itu ketika Rizieq berulah di pengadilan online beberapa waktu lalu.

Dalam tayangan yang berjudul Rizieq the Barbarians itu saya kok felling waktu itu, bahwa ulah Rizieq di pengadilan itu seperti semacam isyarat atau seruan kepada para pengikutnya atau simpatiwan dan simpatiwatinya untuk melakukan aksi.

Dengan berulah anah-aneh, Rizeq seperti memanggil kelompok-kelompok barbar yang memang ada di Indonesia untuk melancarkan serangan.

Tentu saja prediksi saya belum tentu benar. Apakah benar ada kaitannya? Tapi kenyataannya kita memang mendapatkan dua aksi teror yang waktunya berdekatan di Makassar dan di Mabes Polri.

Catet, bukan hanya itu. Sehabis kejadian di Makassar kemarin, polisi menangkap para pengikut Rizieq, mereka adalah para pengurus FPI yang hendak menyiapkan serangan secara besar-besaran. Mereka telah mempersiapkan diri cukup lama. Para pengurus FPI itu ditangkap di Bekasi dan Condet, ketika ditangkap disita juga bom-bom yang telah dirakit. Atau bahan-bahan kimia untuk merakit bom. Bahkan di Bekasi terpaksa polisi meledakkan, karena memang sudah dirakit sedemikan rupa.

Bukan hanya itu. Kelompok ini, atau pengurus FPI ini juga menginstruksikan kepada seluruh jaringan FPI di Indonesia untuk mempersiapkan takjil secara serentak. Takjil yang dimaksud adalah menyiapkan alat-alat untuk melakukan serangan seperti bom, alat peledak maupun senjata, dan lain-lain.

Apakah kejadian di Makassar merupakan penyambutan dari seruan itu? Saya gak tahu. Yang pasti polisi masih mendalaminya. Tapi satu hal yang pasti, Lukman, pelaku pria di Makassar adalah aktivis FPI. Pada tahun 2015 Lukman ikut berbaiat pada IS bersama-sama Munarman, seorang petinggi FPI juga.

Dan di Makassar pada Januari 2021 ditangkap 24 orang teroris yang 18 di antaranya adalah anggota FPI. Teman-temannya Lukman.

Sementara kita tahu dari video-video yang beredar, Rizieq jelas-jelas pernah secara terang-terangan menyatakan dukungan kepada IS. Makanya sebagian anggota FPI akhirnya ikut berbaiat pada IS. Seperti Lukman itu.

Sepertinya sekarang FPI telah bermetamorphosis. Dari sekadar organisasi radikal, yang hobi sweeping-sweeping toko, sweeping-sweeping atribut Natal, kini telah menjelma menjadi organisasi teroris. Mirip seperti JAD atau JIT. JAD itu kita tahu Jamaah Ansharut Daulah dan JIT itu adalah Jihadis Indonesia Timur.

Bedanya, jika JAD dan JIT adalah organisasi bawah tanah yang pergerakannya diam-diam. Sementara kita tahu FPI itu dulunya ormas terbuka. Keanggotaannya banyak, strukturnya sampai ke wilayah-wilayah ke daerah-daerah.

Jika mereka sekarang sudah melangkah lebih jauh dengan jalan kekerasan, mereka melangkah dari ormas radikal menjadi organisasi yang merencanakan teror, ini adalah PR serius bagi bangsa ini. PR serius bagi aparat keamanan. Dan PR serius bagi kita semua.

Kita harus lebih waspada menghadapi mereka, karena barangkali anggota-anggotanya pernah kita kenal. Dan potensi orang yang terpapar menjadi teroris jadi jauh lebih banyak, dan tidak salah seperti Jusuf Kalla kemarin katakan, ada potensi serangan teroris secara nasional.

Kita harus menjaga bangsa ini. Sebab ini Indonesia kita. Kitalah yang harus menjaganya!

Komentar