CACAT LOGIKA ARIE UNTUNG, MUNARMAN, REFLY SOAL MABES POLRI

Oleh: Ade Armando

 

Seperti sudah dapat diduga, saat ini bermunculan orang-orang yang berusaha membangun frame bahwa aksi teror di Mabes POLRI dan sebelumnya di Makassar adalah hasil rekayasa.
Memang tidak ada tuduhan spesifik tentang siapa yang jadi mastermind aksi teror itu. Tapi jelas ada upaya untuk membangun serangkaian kesan yang ujung-ujungnya bisa bukan saja meruntuhkan kredibilitas polisi, tapi juga bisa membuat orang menduga bahwa polisi terlibat dalam aksi teror ini.

Setidaknya ada tiga narasi yang dibangun. Narasi pertama adalah, aksi teror itu bukan sesuatu yang memang alamiah dilakukan kelompok-kelompok Islam radikal. Narasi kedua, polisi membiarkan Zakiah Aini, perempuan berjilbab itu, melenggang masuk dan menembaki petugas di Mabes POLRI. Narasi ketiga, polisi dengan sengaja menghabisi nyawa Zakiah.

Ketiga narasi itu mengemuka di banyak platform media sosial para komentator yang berusaha menyudutkan POLRI. Saya mulai dari Arie Untung. Sekadar catatan, mantan pelawak ini memang dikenal sebagai artis yang hijrah dan pendukung loyal 212.

Arie menulis di tweetnya, dia heran kok gerak-gerik Zakiah di Mabes POLRI itu sudah terekam kamera sejak sebelum baku tembak. Isi tweetnya begini: “Kameranya bukan CCTV mungkin lagi iseng atau indigo ngeshoot lahan parkir eh gataunya ada kejadian tak terduga kok bisa pas record sebelum ada baku tembak.”

Saya tidak paham kenapa ada kata ‘indigo’ di situ. Tapi walau dengan bahasa kacau balau, Arie tampaknya ingin mengajak pembaca tweetnya untuk merasa ada kejanggalan dalam rekaman itu.

Kemudian, ada juga Imam Besar umat Islam di New York, Shamsi Ali. Shamsi menulis ia heran mengapa Zakiah itu bisa lolos dari penjaga gerbang Mabes POLRI. Tulis dia: “Tapi kenapa bisa lolos masuk ya? Kenapa penjaga gerbang Gedung POLRI tidak menghalangi? Apalagi pastinya mencurigakan.”

Selain itu tentu saja ada Munarman, mantan juru bicara Front Pembela Islam (FPI), yang mengecam polisi karena menembak mati Zakiah. Munarman menyatakan penembakan itu menunjukkan bahwa nyawa manusia di Indonesia harganya terlalu murah.

Menurut Munarman, Zakiah seharusnya bisa dilumpuhkan kaki atau tangannya saja tanpa perlu ditembak mati. Apalagi, menurut Munarman, Zakiah itu kan perempuan.

Pernyataan Munarman ini sejalan dengan Refly Harun. Menurut Refly, tidak ada justifikasi bagi polisi untuk melakukan penembakan dengan semena-mena, kecuali memang ada serangan yang membahayakan dan mengancam keselamatan mereka. Polisi, menurut Refly, tidak dibenarkan untuk menembak mati seseorang yang diduga teroris.

“Teroris yang sudah terbukti melakukan pembunuhan pun tidak boleh ditembak atau dibunuh, kecuali polisi diserang terlebih dahulu,” ujarnya. Tambah Refly lagi: “Penembakan bisa dilakukan kalau dalam rangka membela diri, ada ancaman nyata, dan kalau tidak diserang balik akan membahayakan nyawa polisi.”

Bahkan, meskipun ada serangan sekalipun, kata Refly, konteks tersebut tetaplah harus diuji. Dalam artian, dilihat terlebih dahulu kondisinya dengan saksama, apakah memang perlu untuk ditembak mati. Lantas ada pula pengamat teroris dari Community of Ideological Islamic Analyst, Harits Abu Ulya.

Terus terang mendengar nama organisasinya saja, saya agak ragu dengan kredibilitas si pengamat ini. Namun terlepas dari keanehan nama itu, ya barang kali, pendapatnya perlu juga didengar.
Harits mempertanyakan kenapa polisi harus menembak mati Zakiah karena gerak-geriknya aneh.
Menurut Harits, banyak orang yang marah atau labil, lalu bisa dikondisikan untuk bertindak seperti yang lakukan Zakiah Aini.
”Dia putar-putar di ruang terbuka sambil menenteng senjata api. Bisa saja dia wanita dalam kondisi labil, marah, atau semacamnya di bawah kendali hipnotis atau obat-obatan. Kemudian dia disuruh melakukan sesuatu yang di luar kesadaran dirinya,” ujar Harits.
Mungkin masih ada pula pernyataan-pernyataan lain yang tidak saya rekam.
Namun itu semua saya rasa sudah cukuplah untuk menjelaskan apa yang saya anggap sebagai frame untuk menyudutkan polisi.
Saya pribadi menganggap kita memang harus selalu kritis.
Tapi bersikap kritis itu mensyaratkan penggunaan argumen yang rasional, yang sejalan dengan akal sehat, dan tidak mengada-ada.
Kita lihat deh.
Pertama, soal Arie.
Kita justru harus balik bertanya: kok Arie bisa-bisanya dia bertanya kenapa adegan itu terekam?
Yang ditampilkan polisi itu rekaman dari berbagai kamera berbeda.
Ada yang dari CCTV karena di Mabes POLRI kan memang ada CCTV di banyak tempat.
Dan ada juga yang terlihat sebagai rekaman kamera smartphone dari jauh, karena wajar juga kan di era sekarang ini pas ada sesuatu yang janggal, para pemilik handphone akan buru-buru mengarahkan kamera ke adegan itu.
Jadi, di mana anehnya?
Lantas, soal penembakan yang menewaskan Zakiah.
Marilah kita menggunakan akal sehat.
Kalau saja ya, tiba-tiba Anda diserang dan terancam oleh kedatangan seseorang yang tak dikenal yang menembak-nembakkan pistolnya, apa yang pertama kali ada di kepala Anda?
Jawabannya sederhana: membunuh atau dibunuh.
Anda tidak punya banyak waktu untuk menimbang-nimbang.
Setiap detik akan sangat berharga.
Karena itu Anda akan mengambil keputusan cepat.
Kalau anda punya pistol, Anda akan menembak mati orang itu.
Anda tidak akan berpikir: siapa ya orang itu, apakah berpenyakit jiwa, apakah saya perlu mengarahkan tembakan ke kaki saja atau tangan saja, apakah saya harus mengikuti protokol HAM?
Dan jangan salah, baru beberapa hari sebelumnya, ada bom bunuh diri di Makassar, dan sudah ada serangan terhadap kantor polisi di banyak tempat sebelumnya.
Sangat wajar bahwa di kepala polisi, Zakiah dilihat sebagai teroris yang akan menghabisi mereka.
Sangat wajar bila di kepala polisi, ada dugaan bahwa Zakiah bukan hanya membawa pistol tapi juga misalnya membawa bom di tubuhnya.
Dengan kata lain, sangat masuk di akal polisi memutuskan untuk menembak mati Zakiah, sebagaimana polisi memutuskan menembak mati para anggota FPI yang menyerang dan mengancam nyawa mereka di tragedi KM 50 Jakarta-Cikampek.

Satu-satunya fakta yang menurut saya cukup sahih untuk dipertanyakan adalah soal detektor.
Pertanyaannya kan begini, kok bisa Zakiah membawa pistol ke Mabes POLRI tanpa terdeteksi.
Itu pertanyaan yang memang layak dicari jawabannya.
Ada sejumlah penjelasan.
Pertama, alat detector itu barang kali tidak berfungsi dengan baik.
Kedua, ada orang dalam, yang bermain sehingga detector di Mabes POLRI tidak berfungsi baik.
Ketiga, ada orang dalam yang membawa masuk pistol tanpa melalui detector, dan baru kemudian menyerahkannya pada Zakiah.
Ini semua memang perlu diselidiki.
Kalau jawabannya cuma detector rusak, persoalan selesai.
Namun kalau ternyata memang ada pihak lain yang misal membantu, itu layak membuat semua pihak waspada.
Bagaimanapun, yang membuat saya terganggu dengan narasi Ari, Munarman, Refly dan Harits adalah upaya mereka membuat masyarakat meragukan keorisinalan aksi teror dan upaya mereka menyudutkan polisi.
Teror ini riil, dan jelas diselenggarakan dalam jaringan yang menyebar di banyak daerah.
Hampir pasti, Zakiah terhubung dengan teror Makassar.
Bukti paling nyatanya adalah format surat wasiat yang mereka tinggalkan mengandung banyak sekali kesamaan.
Jadi walau Zakiah dan teroris Makassar bekerja sendiri-sendiri, tapi dalam cara tertentu mereka terhubung dalam satu jaringan.
Dan sangat mungkin mereka terhubung dengan mereka yang rencana aksinya juga terbongkar di Bekasi, di Condet, dan beberapa daerah lainnya.
Mereka bekerja sendiri-sendiri, tapi sama-sama sedang merancang teror nasional, sebagaimana misalnya diperingatkan oleh Jusuf Kalla.
Dan sangat mungkin para pelakunya bukanlah laskar profesional yang terlatih.
Ketika diwawancara di salah satu stasiun televisi swasta, istri tersangka teroris menjelaskan bahwa suaminya adalah pria yang tidak taat beribadah.
Tapi kalau sedang berdebat dengan istri, sang suami itu lazim menunjukkan ayat atau hadits untuk mendukung pendapatnya.
Jadi pelaku teror itu bisa siapa saja, bisa pria, bisa perempuan, bisa stres, bisa sehat, bisa tukang bengkel, guru, atau mahasiswi drop out.
Kita semua terancam oleh terorisme berpanji agama ini.
Karena itu kita harus bersatu menghadapinya.
Kita justru jangan terpecah dan malah menyalahkan polisi dan pemerintah.

Komentar