BAGAIMANA AJARAN ISLAM MENYUMBANG BAGI TRAGEDI MAKASSAR

Oleh: Ade Armando

 

Mungkinkah ajaran Islam berperan dalam tragedi bom bunuh diri di Makassar dan di daerah-daerah lain? Pertanyaan ini mengemuka dalam diskusi yang saya ikuti di TV One, Selasa malam lalu.

Hadir di sana Beni Mamoto (Komisi Kepolisian Nasional), Haikal Hassan dan Anwar Abbas (Pimpinan MUI), selain saya tentunya. Dalam diskusi, terasa sekali bahwa Haikal Hassan berusaha mati-matian menunjukkan bahwa agama tidak bisa disalahkan dalam kasus terorisme ini.

Anwar Abbas berargumen bahwa yang harus dipersoalkan adalah si pelakunya yang memang beragama Islam, tapi bukan agamanya. Terus terang saya beda pendapat.

Oh ya saya ingin disclaimer sedikit. Saya happy dengan diskusi yang berlangsung di TV One. Hostnya, Andromeda, beda sekali dengan gaya Karni Ilyas ketika memimpin debat ILC. Andro tidak memprovokasi dan memberi ruang setiap pembicara menuntaskan argumen. Dan itulah yang terjadi kemarin.

Walau kami saling beda pendapat, kami saling menghormati. Padahal isunya sangat sensitif: apakah islam menyebabkan terorisme?

Anwar dan Haikal bilang, yang salah adalah oknum, dan bukan ajaran Islam sendiri. Saya berbeda pendapat. Saya sendiri beragama Islam, saya muslim dan saya tidak percaya agama saya itu mengajarkan saya untuk membunuhi orang yang berbeda pendapat dengan saya.

Namun saya tidak bisa mengingkari ada orang-orang Islam lain yang memang percaya bahwa wajib hukumnya untuk memerangi kaum kafir, dan kaum kafir itu berarti mereka yang menentang hukum Allah, dan menentang hukum Allah itu berarti menolak keyakinan kelompok itu tentang hukum Allah.

Keyakinan semacam itu ada di kepala banyak muslim, bukan cuma satu dua orang.
ISIS adalah contoh dari kelompok orang-orang semacam itu. Begitu juga dengan gerombolan orang yang menyerang kaum Ahmadiyah dan membakar rumah ibadah dan tempat tinggal mereka serta membunuhi mereka.

Keyakinan semacam itu pula yang saya yakini ada di kepala sepasang pengantin baru yang memilih meledakkan tubuh mereka di depan gereja Makassar. Mereka yang percaya dengan gagasan-gagasan radikal itu tidak bisa dengan mudah dianggap sekadar oknum. Mereka yang radikal itu menjadi radikal karena mereka percaya Islam itu memang gagasan radikal.

Jadi kita harus mulai dengan satu pengakuan dulu: Islam itu tidak tunggal. Ada ribuan pemahaman mengenai Islam di sepanjang sejarah Islam yang tersebar di seluruh dunia.
Mana yang paling benar?

Sebagai manusia biasa yang jauh dari sempurna, kita harus mengatakan: kita tidak tahu.
Kalau Islam itu memang datang dari Allah, ya hanya Allah-lah yang bisa tahu mana sebenarnya Islam yang paling benar. Dan setelah mengatakan itupun, kita juga mengakui bahwa, jangan-jangan memang tidak ada satu Islam yang benar.

Jangan-jangan keragaman itu adalah hal yang memang diakui Allah. Sebagaimana juga dengan agama. Manakah agama yang paling benar?

Kita tidak tahu.

Jangan-jangan jalan menuju surga itu bukan satu, tapi banyak. Jangan-jangan memang Allah, Tuhanlah yang menciptakan beragam agama. Karena itu kita sebagai manusia tidak pernah bisa mengklaim ada agama yang lebih benar dari yang lain, atau ada satu versi Islam yang lebih benar dari yang lain.

Islam tidak tunggal, agama tidak tunggal. Kalau kita bisa bersepakat di situ, maka kita mungkin juga bisa bersepakat bahwa memang ada versi Islam yang memerintahkan umat untuk membunuhi orang Kristen, dan ada pula versi Islam yang memerintahkan umat untuk bersahabat, bersaudara, dan berkeluarga dengan orang Kristen.

Jadi semua kembali kepada cara kita berpikir. Islam bukanlah makhluk, bukanlah benda. Islam adalah gagasan, adalah ide, adalah ideologi, adalah wacana. Maka pertarungan yang kita hadapi sekarang adalah pertarungan ide.

Sebagaimana saya katakan, sebagai ide, semua relatif. Ide tidak ada yang mutlak benar atau mutlak salah. Tapi sebagai manusia berpikir, kita bisa mempelajari apa yang diakibatkan ide tertentu kepada perilaku orang yang percaya pada ide tersebut.

Dalam hal ini kita bisa berusaha mempelajari apa yang sebenarnya menjadi gagasan yang diyakini para pelaku teror tersebut sehingga mereka misalnya bersedia untuk mengorbankan nyawa mereka dan membunuhi warga yang sedang akan beribadat di gereja.

Tindakan bom bunuh diri itu bukanlah tindakan yang datang begitu saja karena wangsit yang datang tiba-tiba. Gagasan untuk bersedia mati dengan meledakkan tubuh adalah gagasan yang diajarkan melalui proses tertentu oleh orang tertentu.

Dan gagasan tersebut pasti dianggap oleh si pelaku sebagai gagasan yang sedemikian luhur sehingga dia bersedia mati untuk gagasan itu. Dan apa yang kurang luhur dari ajaran agama yang bisa membuat orang melakukan hal-hal yang sedemikian menakutkan?
Karena itulah kita harus bersedia untuk bicara tentang agama itu sendiri, bukan cuma soal orang-orang.

Kalau kita menganggap terorisme atau kekerasan atas nama agama ini adalah sekadar perilaku orang-orang tertentu, maka pusat perhatian kita hanyalah pada orang. Seolah mereka yang radikal itu memiliki sesuatu, mungkin penyakit kejiwaan, dalam diri mereka yang menyebabkan mereka, berbeda dengan kebanyakan orang normal lainnya, yang bisa dengan tega melakukan tindakan kekerasan yang bahkan sampai mengorbankan nyawa.
Jadi sumber masalah ada pada orang.

Kalau begitu, kalau orang-orang itu ditangkap, dipenjara, dibubarkan organisasinya, dibersihkan otaknya, persoalan selesai. Itu yang saya tidak setujui. Orang memang perlu ditindak tegas, tapi yang terpenting adalah memerangi gagasan yang membentuk orang-orang radikal itu.

Buat saya, yang jadi sumber masalah saat ini adalah menguatnya gagasan bahwa Islam memang memerintahkan umatnya untuk memerangi kaum kafir agar Islam terselamatkan. Kalau Anda belajar Islam, Anda akan tahu bahwa ayat-ayat Alquran dan hadist Nabi itu bisa dimanfaatkan untuk kebaikan tapi juga untuk kejahatan.

Semua bergantung pada bagaimana rangkaian ayat dan ucapan dan tindakan Nabi itu diframe dalam wacana tertentu. Ingat kasus Ahok pada 2016?

Hanya karena satu ayat Alquran, ratusan ribu orang turun ke jalan untuk mengatakan Ahok harus diturunkan, dipenjarakan, atau bahkan dibunuh. Begitu juga pemerkosaan brutal yang dilakukan prajurit ISIS terjadi karena mereka menggunakan ayat Alquran yang membenarkan pasukan Islam meniduri perempuan-perempuan tawanan perang.

Dalam kasus bom bunuh diri di Makassar, para pelaku melakukannya karena percaya bahwa umat Islam memang harus melawan kezaliman musuh-musuh Islam, kalau perlu dengan mengorbankan nyawa.

Yang saya mau bilang dengan contoh-contoh ini adalah ajaran Islam jelas berperan dalam rangkaian kejahatan kemanusiaan ini. Memang bukan ajaran Islam sebagaimana yang diyakini saya, atau mungkin Haikal Hassan, atau Anwar Abbas, atau Benny Mamoto.

Tapi ajaran Islam yang terus disebarkan, dikembangkan, ditanamkan oleh kalangan yang memang percaya bahwa Islam sesungguhnya memang memerintahkan umat Islam untuk menegakkan jalan Allah dengan memerangi musuh-musuh Islam, termasuk umat Kristen. Wacana Islam itulah yang harus dilawan, ditolak, dibasmi.

Hanya kalau kita bersedia jujur mengatakan bahwa dalam Islam memang ada ajaran-ajaran yang bisa ditafsirkan dengan cara ekstrim semacam itu, kita bisa memerangi terorisme.

Tanpa mengakui kenyataan pahit itu, kita tidak akan pernah bisa memerangi terorisme, ekstrimisme.

Komentar