AKUI SAJA PENGANTIN DI MAKASSAR ITU BERAGAMA

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Di Makassar baru aja ada pengantin baru yang nekat. Usia pernikahannya baru 6 bulan, tapi mimpi mereka sudah sampai akhirat. Yang lelaki kelahiran tahun 1995. Yang perempuannya lebih muda lagi. Minggu pagi kemarin, saat umat Katolik merayakan minggu Palma, pengantin baru ini melakukan amaliyah di sebuah Gereja Katedral di Makassar.

Akibat ulahnya kita terguncang. Indonesia sekali lagi tercoreng oleh keberingasan mereka.
Majelis Ulama Indonesia buru-buru bikin statemen. Katanya, teror di Makassar tidak ada hubungannya dengan agama.

Kita bingung pasti. Iya, sih. Bagi MUI teror di gereja memang tidak ada hubungannya dengan agama. Di mata MUI, yang ada hubungannya dengan agama itu hanya vaksin, kulkas, cat tembok, sepatu dan seragam sekolah. Kalau untuk benda-benda itu MUI sangat bersemangat menghubung-hubungkannya dengan agama.

Tapi pas kejadian teror di gereja di Makassar, MUI kayak lepas tangan. Maksudnya ya agar MUI gak perlu ada beban tambahan meluruskan pandangan beragama dalam masyarakat yang bengkok, sehingga pandangan bengkok itu bisa menjadi motivasi untuk membunuh orang lain.

Kita harus maklum. Tugas MUI sudah cukup berat. Memberi sertifikat semua benda-benda itu. Termasuk makanan buat kucing.

Biarlah MUI dengan kesibukannya. Sementara berkenaan dengan tragedi di Makassar, meski kita sedih ada 20 korban luka, tapi kita tetap harus bersyukur tidak ada korban jiwa dari masyarakat. Yang tewas hanya dua orang pelaku. Mereka mati dengan tubuh yang terserak.

Menurut keyakinan kelompok ini pelaku lelaki katanya, nanti akan mendapatkan hadiah 72 bidadari di akhirat. Sementara yang perempuan, gak tahu dapat apaan. Mungkin cuma dapat Tupperware doang.

Lagi pula mengapa untuk mendapatkan 72 bidadari sang suami harus membawa-bawa istrinya segala dalam praktik amaliyah itu. Bukankah itu nanti berisiko istrinya akan terlibat jambak-jambakan dengan bidadari di surga? Apalagi mereka masih pengantin baru.

Soal jambak-jambakan, biarlah itu urusan keluarga mereka. Bukan urusan kita.
Yang pasti, ulah pengantin baru itu menyebabkan kerusakan di muka bumi. Membuat kehidupan kita ternoda.

Jauh sebelum kejadian di Makassar Minggu kemarin, pada Januari 2021 lalu, Densus 88 berhasil membekuk 24 orang terduga teroris di Makassar. Mereka tergabung dalam jaringan JAD yang berbaiat ke Islamic State.

Dari 24 orang yang ditangkap Densus itu, 18 orang tercatat sebagai anggota FPI. Artinya, 18 orang yang ditangkap di Makassar kemarin, menjadi anggota dua organisasi kelas berat: JAD dan FPI sekaligus.

Sementara kita tahu kan, di Jakarta nih, belakangan-belakangan ini Rizieq sedang bermain drama di pengadilan. Ia berulah, ia berteriak, ia memaki. Aktingnya melebihi artis Drama Korea. Ulahnya itu, mungkin saja diterjemahkan sebagai sinyal oleh para simpatisannya untuk beraksi.

Jangan heran jika dalam pemeriksaan Polisi mendapatkan pengacara Rizieq menyiapkan parang dalam mobilnya. Ketika dikonfirmasi, sang pengacara beralasan parang sebesar lengan itu digunakan untuk mengupas mangga.

Kamu percaya? Sama. Saya juga percaya.

Bahkan jika pengacara itu mengatakan ia menggunakan parang buat mengorek kuping, saya juga percaya. Terserahlah mereka mau beralasan apapun. Yang kita lihat adalah kekerasan dan simbol-simbol kekerasan memang telah dipersiapkan di seputar persidangan Rizieq.

Setelah kasus pengantin di Makassar kemarin, Densus 88 melakukan penangkapan lagi di Cibarusah dan Condet, Jakarta Timur. Di Cibarusah, polisi menangkap Zuliani Agus, jabatannya Wakil Ketua Bidang Jihad DPC FPI Serang Baru.

Selain Zuliani, Densus juga menangkap Ahmad Junaidi dan Bambang atau Abi. Ketiga orang ini bergabung dalam pasukan khusus FPI yang bertugas melakukan tindakan khusus untuk menjaga Imam Besar. Mereka biasanya bekerja dalam senyap.

Nah, meski Rizieq sudah ditangkap polisi, pasukan ini tetap konsisten melaksanakan aksinya. Dari penelaahan petugas menggambarkan sebelum tertangkap, mereka ini rupanya sedang mempersiapkan serangan ke berbagai titik di Indonesia. Dan kabarnya salah satu titik yang ditarget oleh pasukan khusus ini adalah gedung Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Tempat Rizieq disidangkan.

Tujuan serangan itu untuk memberi efek ketakutan kepada hakim dan jaksa yang mengawal sidang Rizieq. Pesan yang mau mereka sampaikan jelas, mereka ingin mengembangkan ancaman, agar jaksa dan hakim tidak berani menegakkan keadilan di ruang sidang.

Sepertinya bukan hanya PN Jaktim yang menjadi target pasukan ini. Para anggota FPI yang tergabung dalam divisi jihad diminta untuk secara mandiri menyiapkan takjil. Takjil kayak mau buka puasa, ya takjil di sini adalah istilah mereka untuk menyiapkan bahan peledak.

Artinya seruan menyiapkan serangan bukan hanya pada satu titik saja, tetapi di berbagai titik di seluruh Indonesia.

Bagi FPI menyiapkan serangan massif seperti itu memungkinkan. Anggotanya tersebar di berbagai wilayah. Tidak salah juga jika mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla kemarin memperingati bahwa potensi serangan bisa mencapai skala nasional. Kita gak tahu info dari mana Pak JK.

Bukan hanya alat peledak, kabarnya mereka juga menyiapkan air keras untuk menyerang anggota polisi dari jarak dekat. Keterangan Ahmad Junaidi, salah satu yang ditangkap misalnya, dia mengatakan bahwa mereka juga menyiapkan ketapel untuk menghantam petugas.

Artinya rencana sudah disusun. Tinggal menghitung hari. Lalu duar!

Untung saja polisi cepat bertindak. Di kediaman para terduga teroris itu ditemukan racikan bahan kimia, bahan dasar untuk membuat peledak yang banyaknya bisa membuat 70 buah bom pipa dengan daya ledak tinggi. Sampai-sampai beberapa bom terpaksa diledakkan di lokasi penangkapan.

Dana dan pelatihan pembuat alat peledak itu didapatkan dari seseorang bernama Husein Hasny. Hasny ini seorang pengusaha jual-beli mobil yang ditangkap di Condet, Jakarta Timur. Ia juga terdata sebagai Ketua Divisi Jihad FPI Jakarta Timur. Lagi-lagi Divisi Jihad.

Benar kata Gus Dur, FPI ini adalah organisasi teroris lokal. Mereka bukan lagi sekadar organisasi radikal, tapi sudah menjelma menjadi sekelas JAD. Pasukan-pasukan khusus diorganisir untuk membuat kekacauan.

Pasukan sejenis ini juga yang kemarin menyerang petugas di jalan tol. Mereka dipersenjatai dengan senjata rakitan. Mereka berusaha membunuh petugas kepolisian yang menguntitnya.

Untung saja polisi berhasil melawannya. Hingga akibatnya enam orang anggota laskar khusus itu tewas.

Kita patut sekali lagi mengapresiasi kerja cepat para petugas yang sigap menggagalkan semua rencana aksi besar para begundal ini. Para petugas itu selama ini menjadi sasaran nomor satu para begundal yang berniat merusak Indonesia.

Tapi kita tidak boleh hanya mengandalkan kerja para petugas itu saja. Kita harus ikut berperan aktif menghalau mereka, menghalau semua ujaran kebencian, menghalau semua provokasi yang mereka lakukan. Kita harus waspada agar mereka tidak berulah merusak kedamaian di Indonesia.

Sebab ini Indonesia kita. Kitalah yang harus menjaganya.

Komentar