RIZIEQ THE BARBARIANS!

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Anda pasti mual melihat tingkah Rizieq di persidangan. Ia berulah menolak sidang online. Seperti biasa, ia memainkan drama dizalimi. Rizieq dijadikan tersangka karena melanggar UU Karantina Kesehatan. Tiga perkara sekaligus menghadangnya.

Itu kasus yang baru. Sementara kasus-kasus lamanya juga masih menunggu proses. Ada penghinaan agama. Ujaran kebencian. Dan jangan lupa, Rizieq kembali dijadikan tersangka untuk kasus pornografi.

Saat pandemi seperti ini, sidang online mah sebetulnya biasa. Jangankan sidang, sekolah aja online. Kerja online. Dagang online. Toh, esek-esek juga bisa online.

Kenapa Rizieq menolak sidang online? Karena kalau sidangnya online ia gak bisa berulah lebih sangar di persidangan. Kayaknya Rizieq mau menjadikan sidangnya sebagai panggung yang baru. Panggung itulah yang diharapkan dapat kembali membakar semangat pengikutnya yang kemarin mulai loyo.

Kita tahu pemerintah sudah melarang segala aktivitas FPI. Sebetulnya bukan pelarangannya yang memukul kelompok itu. Tapi yang membuat gerombolan ini mendem karena rekening organisasi itu diblokir Pemerintah. Pemblokiran itulah yang memangkas energi mereka sampai ke titik nadir.

Rizieq tahu itu. Jika ia tidak berulah di persidangan, pengikutnya akan pelan-pelan melupakannya. Ia cuma jadi pesakitan dengan serenceng tindak pidana. Apalagi bohir yang selama ini turut membiayai juga gak mau berhubungan cuma dengan seorang pecundang.

Makanya Rizieq harus tetap eksis jika ia tidak mau tenggelam dilupakan orang. Ia harus tetap memperlihatkan perlawanannya, meski dengan cara yang paling norak sekalipun. Ia berharap perlawanannya tersebut bisa menjadi api untuk merawat semangat pendukungnya. Sekaligus memberikan kepecayaan kepada pada bohir yang selama ini membiayai gerakannya.

Iya sih, satu-dua daerah merespons ulah Rizieq ini. Di Ciamis kemarin segerombolan orang mendatangi kantor kejaksaan untuk memprotes persidangan Rizieq. Sementara di persidangan sendiri, selain ulah Rizieq, pengacaranya juga menunjukkan sikap penghinaan terhadap pengadilan. Mereka berteriak-teriak sambil menuding hakim dan jaksa.

Beberapa gelombang demonstran juga ikut menghadiri sidang Rizieq. Tujuannya apa? Agar sel-sel gerombolan Rizieq yang semula tiarap pasca diberangusnya FPI mulai ada semangat lagi.

Tapi ternyata, gerakan mereka ya cuma segitu-gitu saja. Aparat keamanan dengan cepat meredamnya. Bleb! Di PN Jaktim, 35 orang demonstran langsung diamankan petugas. Di Ciamis, pemimpin demonstrasinya langsung dicokok ke kantor kejaksaan.

Dengan kata lain, aparat keamanan tidak lagi terlalu menghitung Rizieq sebagai faktor. Bandingkan misalnya saat demo 212, Rizieq begitu jumawa. Ia adalah faktor yang diperhitungkan dalam setiap langkah.

Bahkan saat kepulangannya dari Saudi kemarin, ia masih dianggap sebagai faktor juga. Buktinya apa? Buktinya aparat sangat hati-hati menanganinya sampai akhirnya menimbulkan kerumunan orang di Bandara.

Itu bisa terjadi, karena di mata aparat saat itu, Rizieq punya pendukung fanatik yang penanganannya harus ekstra hati-hati.

Tapi saat ini kayaknya semua itu sirna. Setelah rekening FPI diberangus dan aparat lebih serius menegakkan hukum, terbukti Rizieq ya bukan siapa-siapa. Selain lelaki bermulut kasar dan doyan melanggar hukum.

Rizieq memang tetap berulah seperti tabiatnya selama ini. Tapi di mata aparat, ulahnya itu ya kayak anak kecil yang ngambek. Dengan kata lain, Rizieq hanya seorang terdakwa dengan serenceng kasus.

Jadi apapun ulahnya di persidangan, itu tidak lagi menjadi bahan penting untuk dipertimbangkan. Sidang akan terus berjalan. Jika Rizieq menolak hadir akan merugikan dirinya sendiri. Provokasinya sudah gak terlalu laku lagi.

Selain Rizieq, orang yang kayaknya ada di sisa-sisa kekuatannya ya Amien Rais. Meski pamornya sudah melorot, ia masih juga mau mendompleng kasus yang berkenaan dengan Rizieq.

Amin Rais misalnya mau menangguk simpati dari para simpatisan FPI. Ia mendatangi istana bertemu Presiden. Membawa agenda tewasnya 6 orang pengawal Rizieq. Amien berkepentingan memanfaatkan isu ini. Kita tahu ia sedang membangun partai Umat yang segmentasi pasarnya kayaknya beririsan dengan para pendukung Rizieq. Amien berharap dapat limpahan suara dari orang-orang dengan spesies yang sama.

Padahal kasus tewasnya enam pengawal Rizieq sudah ditangani kepolisian. Komnas HAM juga sudah membeberkan hasil investigasinya. Kesimpulannya tidak ada pelanggaran HAM berat. Yang ada, polisi menindak gerombolan yang bermaksud menyerang mereka dengan senjata api.

Tapi Amien tidak peduli dengan fakta itu. Tujuannya memang bukan mau mencari kebenaran, tapi cuma mau menarik simpati dari kelompok FPI untuk partai barunya.
Lain Amien, lain lagi dengan Neno Warisman. Dengan ulahnya ia mencoba menerobos sidang Rizieq mengaku sebagai wartawan. Kita gak tahu wartawan dari media apa?

Mungkin Neno berpikir persis seperti doanya saat kampanye lalu, “Ya, Tuhan. Jika Neno tidak diakui sebagai wartawan, kami khawatir Tuhan, tidak ada lagi yang menyembahmu.” Nah itu urusan Neno…

Tapi siapa yang peduli sama Neno. Ia mau ngaku wartawan atau ngaku nenek sihir, gak ngaruh apa-apa. Neno hanya berminat namanya juga diperbincangkan dalam kasus ini. Gak lebih.

Walhasil, sisa-sisa kekuatan Rizieq, sisa-sisa kekuatan Amien Rais dan sisa-sisa pamor Neno itu udah gak berarti lagi. Mereka hanya bergerak di tengah sisa-sisa energinya.

Rizieq misalnya berharap, dengan ulahnya, aparat keamanan tetap menggigil ketakutan seperti masa-masa lalu. Dengan begitu aparat keamanan dipaksa untuk mengikuti kemauannya. Kenapa itu dilakukan? Agar Rizieq tetap terlihat punya ‘power’ di hadapan pengikutnya.

Untung saja aparat keamanan kita gak sepengecut sangkaan Rizieq. Biarlah dia berulah. Tapi hukum harus ditegakkan. Memang menangani kaum barbarian seperti ini, hanya ada satu cara: tegakkan hukum dengan tegas. Beri sinyal kepada mereka, ini adalah Indonesia.

Siapa saja yang mau berulah merusak tatanannya, akan berhadapan dengan hukum. Mau imam besar atau imam kecil, sama saja posisinya di mata hukum.

Negara tidak boleh lagi mengalah pada kelompok-kelompok barbarian seperti ini. Kita harus punya sikap yang tegas untuk menjaga Indonesia!

Komentar