RIZIEQ SHIHAB LAGI CAPER!

Oleh: Denny Siregar

 

Melihat ulah Rizieq Shihab di sidang yang teriak-teriak dizalimi saya suka ketawa. Seperti biasa, Rizieq suka bermain drama supaya perhatian orang kembali ke dia.

Memang beberapa orang kalau sudah tua, tingkahnya suka kembali ke anak kecil. Rizieq termasuk salah satunya. Dia masih merasa kalau dia menjadi pusat perhatian seluruh orang Indonesia. Lihat aja, waktu kabur ke Saudi dulu juga dia suka kirim-kirim video ceramahnya ke Indonesia. Supaya dibicarakan orang, sekaligus memastikan apakah pengikutnya itu masih setia sama dia.

Jadi sebenarnya ulah Rizieq di sidang yang teriak-teriak itu gak usah terlalu dianggap serius lah. Itu akting saja. Drama. Dan polanya ya dari dulu gitu, saya sampai hapal apa yang akan dia lakukan. Juga gelarnya sebagai cucu Nabi terus akan dia sampaikan sebagai penguat, supaya orang takut karena dia “berdarah biru”. Padahal gak ngefek, dia malah jadi bahan ketawaan orang se-Indonesia raya.

Pengikutnya modelnya mirip banget ma Rizieq. Sebelas dua belas. Ada emak-emak akting nangis di luar ruang sidang, seolah-olah itu hari berkabung nasional. Aktingnya jelek banget, mirip sinetron Indonesia yang kejar tayang, sehari syuting langsung jadi.

Ada lagi Neno Warisman tiba-tiba datang ke sidang dan ngaku jadi wartawan. Kapan sekolah jurnalistiknya kok tiba-tiba jadi wartawan? Lagian gak jelas dia wartawan media mana, mungkin karena sudah dekat sekali sama Tuhan, dia akhirnya jadi wartawan media online neraka jahanam.

Beberapa pendukungnya di daerah juga begitu. Mereka ramai-ramai mencoba melakukan tekanan publik. Ada yang menggeruduk Pemkot Bogor dan memaki-maki Walikota karena mereka anggap Pemkot Bogor lah biang dari Rizieq masuk penjara. Mungkin maksud mereka, kalau Pemkot Bogor diem aja meski Rizieq sudah bohong kalau dia gak positif covid, Rizieq pasti bebas. Payah nih Pemkot Bogor, kata mereka, gak bisa diajak joinan, jadi partner in crime.

Aneh-anehlah pokoknya mereka. Mereka gak sadar kalau ulah mereka yang seperti anak-anak itu jadi ketawaan banyak orang. Dikira negeri ini masih kayak dulu, takut sama baju-baju agamis begitu. Ini era internet, Drun. Udah banyak orang melek dan wawasan mereka terbuka. Kalian udah gak laku di zaman teknologi ini. Mending balik lagi masuk gua dan bertapa di sana.

Nah, pertanyaan sebenarnya, apasih yang mereka harapkan dengan demo-demo dan teriakan- teriakan di ruang sidang itu? Gampang jawabnya. Teror. Mereka sedang meneror hakim di ruang sidang.

Di dalam ruang sidang, hakim adalah penentu dari segalanya. Semua keputusan ada di tangan hakim. Mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Masalahnya, hakim bukan robot yang gak punya perasaan. Mereka manusia juga yang kadang kuat, kadang mentalnya lemah.

Dan mental hakim inilah yang terus-menerus digedor oleh Rizieq dan pengikutnya. Narasi-narasi kalau Rizieq adalah ulama dan cucu Nabi, terus digaungkan supaya hakim merasa bersalah dan merasa sudah menodai agama. Alam bawah sadar hakim inilah yang terus-menerus mereka hajar, sehingga diharapkan putusan yang dikeluarkan akan sangat ringan. Bahkan kalau bisa bebas.

Ya cuma itu harapan terakhir mereka sekarang ini. Mereka berharap bisa mempengaruhi kekuatan yudikatif, karena eksekutif yaitu pemerintahan dan legislatif yaitu parlemen, sudah menjadi lawan utama yang menghancurkan FPI sekarang. Jadi tinggal satu pilar lagi yang harus dimainkan, yaitu yudikatif atau lembaga pengadilan.

Dan saya lihat, hakim juga sudah mulai terpengaruh oleh narasi-narasi agama itu. Hakim yang di ruang sidang biasa dipanggil Yang Mulia, tiba-tiba memanggil Rizieq dengan gelarnya “habib”. Padahal biasanya di ruang sidang, hakim selalu memanggil terdakwa dengan panggilan “saudara terdakwa”. Dan keanehan kecil itu akhirnya jadi banyak sorotan banyak orang. Mereka menganggap hakim mulai longgar dalam persidangan. Apalagi ketika permintaan Rizieq untuk sidang offline dikabulkan hakim. Makin terlihatlah hakim semakin mengakomodir permintaan Rizieq.

Padahal, anehnya, apa yang dilakukan Rizieq dan pengacara-pengacaranya di persidangan seharusnya sudah memenuji syarat penghinaan pada pengadilan, atau contempt of court. Pengacara Rizieq bahkan teriak-teriak di ruang sidang dengan bahasa yang tidak enak didengar. Rizieq juga membuat kericuhan di dalam sidang yang tidak menghormati majelis hakim sebagai pembuat keputusan.

Lucu memang. Seperti ada keistimewaan terhadap Rizieq ini. Atau ini hanya sekedar jebakan hakim, supaya Rizieq dan pengacara-pengacaranya bisa terlihat semakin brutal di depan publik dan akhirnya reaksi publik justru negatif kepada dia? Entahlah. Bisa saja begitu, tapi kelihatannya kok jauh ya.

Pada intinya, kewibawaan hakim dan ruang sidang harus dijaga betul oleh orang-orang yang punya integritas. Jangan mau ruang sidang yang seharusnya dihormati, bahkan hakim disebut Yang Mulia di dalam sidang, menjadi bahan pelecehan oleh orang-orang seperti Rizieq dan kawan-kawannya. Yang merasa mereka lebih tinggi kedudukannya dari manusia biasa. Yang merasa mereka punya darah biru karena ada kedekatan.

Okelah, anggap saja Rizieq benar cucu Nabi. Tapi kan hakim di dunia adalah wakil Tuhan? Jadi tinggian mana posisinya? Ya, hakim lah.

Semoga Pak Hakim bisa menjaga marwah profesi juga pengadilan. Hukum seberat-beratnya mereka yang menghina pengadilan. Jika pengadilan saja tidak mereka hormati, bagaimana bisa mereka bicara mau menggaungkan Revolusi Akhlak?

Komentar