MBAH AMIEN, MAU SERANG KAPOLRI?

Oleh: Denny Siregar

 

Sebenarnya saya tadi mau bicara banyak tentang gagalnya pemain bulutangkis kebanggaan kita tampil di All England, karena diusir gara-gara ada penumpang pesawat yang kedapatan positif Covid.

Tapi ya sudahlah. Mereka juga sudah kembali ke Indonesia dengan selamat. Mau teriak apa juga tidak akan mengubah keadaan. Kita toh tetap berbangga diri dengan kemampuan pemain bulu tangkis kita, meski mereka gak bisa tampil di sana.

Oke, mendingan kita bahas tentang kematian 6 orang anggota FPI aja yang sempat tembak-tembakan dengan anggota polisi di jalan tol, waktu mereka mengawal Rizieq Shihab kabur dari pengawasan.

Sampai sekarang, kematian 6 orang anggota FPI itu terus digoreng oleh pihak FPI dan para simpatisannya sebagai “pelanggaran hukum berat”. Mereka memakai temuan Komnas HAM sebagai referensi kalau matinya 6 orang anggota FPI itu adalah karena kesewenang-wenangan anggota polisi yang bertugas.

Bahkan Amien Rais dan kawan-kawannya sempat bertemu Presiden Jokowi membawa kasus itu supaya dituntaskan, sambil membawa-bawa neraka jahanam. Amien Rais juga menggelar acara yang katanya sih tahlil nasional, mengenang 100 hari kematian 6 laskar FPI. Meski ada bahasa “nasional”, tapi maaf ya Mbah Amien, acaranya gak kedengaran tuh. Malah orang lebih sibuk bahas perpisahan Kaesang dan Felicia. Emak-emak di rumah juga sibuk dengan sinetron Ikatan Cinta.

Amien Rais dan kawan-kawannya, seperti Abdullah Hehamahua yang dulu penasihat KPK dan dianggap sebagai salah satu otak di balik terbentuknya kelompok “Taliban” di KPK, memang punya kepentingan besar di balik gorengan mereka terhadap kasus matinya 6 orang anggota FPI itu.

Mari kita coba lihat alasannya. Pertama, mereka punya kepentingan besar untuk menunjukkan kepada publik bahwa memang anggota polisi sudah melakukan “pembunuhan” kepada anggota FPI itu. Dan narasi ini terus menerus mereka bangun, supaya publik terpengaruh dan percaya kalau kejadian di jalan tol itu adalah benar pembunuhan, bukan karena bentrokan bersenjata.

Kenapa harus ada narasi pembunuhan? Supaya publik percaya bahwa di masa pemerintahan Jokowi ada pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh aparat. Dan ini adalah bagian dari kekerasan oleh rezim pemerintah. Penting sekali buat Amien Rais dan kawan-kawannya itu nama Jokowi rusak karena ada pelanggaran HAM berat yang terjadi, supaya nama Jokowi pada Pilpres 2024 nanti, jadi tidak punya pengaruh untuk menunjuk siapa calon penggantinya yang terbaik.

Alasan kedua, Amien Rais ingin membesarkan partai barunya yaitu Partai Ummat. Seperti kita tahu, Amien Rais dan kawan-kawannya sudah ditendang keluar dari PAN. Mereka akhirnya bikin partai baru, namanya Partai Ummat. Dan di Partai Ummat ini, nama Amien Rais adalah simbol dan dia harus muncul sebagai tokoh yang tetap diingat oleh publik. Dengan terus mengawal kasus tembak menembak di jalan tol itu, Amien Rais berharap namanya akan terus ada dalam pikiran banyak orang. Sehingga dia bisa masuk dalam bursa Capres 2024.

Mbah Amien memang dalam berbagai survei, tidak masuk dalam tokoh yang layak sebagai Capres 2024. Karena itu, dia berjuang supaya namanya masuk di dalam radar. Dan kasus ini buat Amien adalah kasus yang bisa membuat namanya melambung, apalagi kalau misalnya akhirnya ada polisi yang menjadi tersangka. Wah, dia bisa muncul sebagai pahlawan di kelompok radikal seperti FPI dan ormas-ormas lainnya.

Seperti kita tahu juga, sesudah Rizieq Shihab dipenjara, kelompok radikal ini tidak punya pemimpin yang kuat lagi sehingga mereka harus tiarap, ikatan di antara mereka pun lemah dan berantakan. Dan Amien Rais tahu ini, sehingga dia berusaha supaya dirinya bisa jadi pengganti Rizieq Shihab. Apa tujuannya? Politik. Apalagi? Supaya angggota FPI yang lagi kebingungan seperti anak ayam kehilangan emak, bisa ikut gabung di Partai Ummat dan membesarkan partai itu dengan model politik identitas.

Jadi paham kan kenapa dinamakan Partai Ummat? Ya, karena Amien Rais merasa dan sedang berusaha bahwa dia menjadi Imam besar untuk orang-orang yang sedang kehilangan pegangan. Dalam masalah memanipulasi politik, Amien Rais memang jagonya. Jejak dia dengan menunggangi demo mahasiswa di tahun 1998 dan tiba-tiba muncul sebagai Lokomotif Reformasi, sudah menunjukkan bahwa Amien Rais bisa melakukan itu semua.

Amien Rais memang tidak punya cara lain dalam memainkan skenario politik, selain memainkan politik identitas atau politik berbasiskan agama. Karena dia selama ini belajar dari sana dan salah satu disertasinya tentang Ikhwanul Muslimin di Timur Tengah dan bagaimana cara mereka memainkan narasi agama dalam politik pecah belah di sana.

Amien Rais dan kawan-kawannya tidak akan menyerah untuk terus menggoreng berita kalau anggota kepolisian melakukan pelanggaran hukum berat dengan membunuh 6 anggota FPI. Bahkan kalau perlu, sesudah kemarin bertemu Jokowi, dia akan membawa permasalahan ini ke internasional. Buat Amien Rais, panggung politik harus dibesarkan, supaya namanya juga ikut besar. Gak penting buat Amien kalau masalah ini tuntas atau tidak, selama bisa dimainkan, terus mainkan sampai lagunya selesai.

Amien Rais juga tahu, pihak kepolisian sangat sensitif dengan kasus ini apalagi kalau ditarik ke ranah agama. Kebetulan Kapolri sekarang non muslim, maka ia harus menarik kasus ini ke ranah identitas. Perhatikan saja nanti, akan ada narasi bawa-bawa nama “umat Islam” seperti yang pernah dilakukan di Pilgub DKI 2017 lalu.

Saran saya, pihak kepolisian jangan terpengaruh dengan gorengan yang Amien Rais dan kawan-kawannya lakukan. Istilah populernya, jangan menari di genderang lawan. Fokus menjaga marwah kepolisian, termasuk melindungi anggota yang sudah bertugas dengan maksimal sesuai perintah yang diberikan. Karena sekali terbuka kesempatan, Amien Rais tidak akan berhenti dan akan mencoba membesarkan masalah ini karena dia melihat ada peluang.

Percayalah Pak Kapolri dan seluruh jajaran kepolisian yang ada, kalau saya dan banyak kawan-kawan yang cinta NKRI akan selalu berada di samping kalian. Kalian sudah menjalankan tugas dengan baik dan terhormat. Kalau tidak ada kalian, maka kelompok radikal itu akan sewenang-wenang dan merasa tidak ada hukum yang bisa melawan mereka.

Kematian 6 orang anggota FPI di jalan tol itu, adalah pesan. Kalau aparat tidak akan tinggal diam jika ada yang menyerang. Kill or be killed, adalah hal yang wajar dalam peristiwa tembak menembak yang mengancam jiwa anggota. Dan strategi itu efektif sekali.

Lihat, para anggota FPI sekarang pada tiarap. Mereka takut dengan aparat. Bayangkan, kalau aparatnya yang tewas dalam peristiwa tembak menembak itu, merekalah yang akan bersorak sorai dan menganggap itu sebuah kemenangan, karena bagi mereka darah anggota sudah halal untuk ditumpahkan.

Komentar