KALAU SEKOLAH GAK BUKA, ANAK-ANAK KITA NANTI JADI BODOH..

Oleh: Denny Siregar

 

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah zoom meeting, saya sempat berbincang dengan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.

Nadiem, yang biasa dipanggil Mas Menteri itu kelihatan gelisah, waktu menyampaikan kalau semakin lama kita tidak buka sekolah, maka kita akan kehilangan generasi emas anak-anak kita. Dia menyebutnya Lost Generation atau generasi yang hilang.

Ternyata program belajar online itu sangat kurang dari sisi apapun juga. Dan itu bukan hanya dialami oleh Indonesia, tetapi seluruh dunia, akibat pandemi yang merajalela. Belajar online tanpa tatap muka akan menghilangkan interaksi sosial antara anak dan gurunya, anak dan teman-temannya, sehingga anak kita cenderung menjadi anak yang individualis, susah bergaul bahkan jadi pemarah dan penyendiri.

Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang antisosial, yang apatis, dan pesimis. Dan Ini bahaya sekali. Ketika era kompetisi global semakin kencang, dan persaingan kerja bukan hanya di tingkat lokal tetapi juga di tingkat internasional, anak-anak kita kelak akan tumbuh menjadi generasi yang gampang patah dan mudah menyerah. Bahkan, bisa lebih parah. Bisa saja angka bunuh diri remaja karena tidak kuat dengan persaingan kerja nanti, malu terhadap tekanan sosial, akan meningkat tajam ke depan seperti yang sekarang terjadi di Jepang.

Kejiwaan anak yang sekolah online selama lebih dari setahun ini, makin parah karena akan muncul kekerasan dari orangtua yang bingung membagi waktu antara mencari uang dan menjaga anak di rumah. Selain itu, karena tidak berinteraksi dengan banyak orang, akhirnya terjadilah eksploitasi anak perempuan oleh teman dekatnya, sehingga di beberapa daerah terjadi pernikahan dini dan kehamilan remaja.

Saya juga membayangkan, ketidakmampuan anak bersosialisasi karena mereka terkurung selama pandemi ini, akan menurunkan kemampuan akademik mereka. Kemendikbud bahkan sudah melakukan studi, bahwa pembelajaran di kelas, ternyata jauh lebih baik daripada pembelajaran jarak jauh seperti online. Wah, kalau nanti anak-anak yang akademiknya kurang dan tumbuh menjadi antisosial begini, bisa-bisa ke depannya radikalisme di Indonesia akan semakin jadi. Radikalisme itu selalu menyerang dan mempengaruhi orang-orang yang secara wawasan sempit dan cenderung antisosial, sehingga mereka membentuk komunitas di antara mereka sendiri untuk menaikkan rasa kebanggaan diri.

Karena itulah, Nadiem Makarim ingin memaksa sekolah supaya buka lagi, dengan protokoler ketat sesuai dengan situasi pandemi. Sebenarnya, sejak lama Kemendikbud sudah menyerahkan pembukaan sekolah ke daerah masing-masing. Terutama di daerah yang zonanya hijau, silakan buka dengan sistem 50 persen siswa yang hadir misalnya. Tetapi banyak daerah yang tidak siap dengan situasi itu, terutama para orangtua yang tidak ingin anaknya atau bahkan dirinya tertular oleh Covid selama dari sekolah.

Padahal riset dari WHO yang dikeluarkan bulan Mei 2020, menyatakan kalau anak-anak lebih sedikit terinfeksi daripada orang dewasa dan gejalanya juga ringan. Juga biasanya penularan kepada anak itu terjadi ketika mereka beraktivitas di luar sekolah, bukan pada waktu tatap muka di dalam sekolah. Dan hasil studi WHO juga mengabarkan, anaklah yang lebih banyak tertular dari orang dewasa, bukan sebaliknya.

Karena itu, ketika akhirnya vaksin datang ke Indonesia, Nadiem Makarim kemudian melobi Presiden supaya dunia pendidikan termasuk yang diberikan prioritas vaksin, terutama untuk para pengajar. Target yang harus dia paksakan, demi tidak terjadinya Lost Generation atau generasi hilang anak-anak di Indonesia ke depan, adalah Juli sekolah di seluruh Indonesia wajib buka kembali. Tentu dengan ikuti protokoler kesehatan yang ketat, diisi 50 persen siswa, didampingi Satgas Covid di tiap sekolah, dan yang ini menarik, orangtua tetap diberikan kebebasan boleh atau tidak anaknya hadir dalam belajar tatap muka.

Pandemi ini memang menakutkan, dan membuat sebagian dari kita hidup dalam ketakutan yang sangat. Tetapi ketakutan kita, seharusnya juga tidak membuat kita mengorbankan masa depan anak-anak kita. Mereka butuh berinteraksi dengan banyak orang selain orangtua mereka sendiri, mereka masih butuh bermain dengan teman-temannya, mereka masih butuh diberikan pelajaran tatap muka di kelas, saling tanya jawab, karena dengan begitu wawasan mereka akan bertambah dan kemampuan sosial mereka akan semakin kuat.

Saya yakin, banyak orangtua yang setuju dan mendukung apa yang akan dilakukan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim, untuk membuka seluruh sekolah di bulan Juli nanti.

Komentar