BERDAKWAH TIDAK BOLEH MEMAKSA

Oleh: Syafiq Hasyim

Keluhan tentang mutu dakwah kita yang rendah masih saja mengemuka ke permukaan. Tidak hanya berkaitan dengan konten-konten yang disampaikan di dalam dakwah, keluhan dijumpai juga dalam gaya pendakwah menyampaikan materinya dalam ceramahnya. Gaya pendakwah yang intimidatif dan menganggap bahwa materi dakwah dialah yang paling benar adalah gejala umum dalam dakwah kita sehari-hari, baik dakwah itu langsung dilakukan di lapangan, maupun dakwah melalui media sosial.

Model dan gaya dakwah mengumpat dan menghardik menjadi gambaran aktivitas dakwah para muballigh kita, sebagaimana gaya Nur Sugik, terutama mereka ini adalah kalangan yang memiliki kecenderungan politik identitas. Yang penting bagi pendakwah model begini adalah menghardik lebih dulu. Karenanya, tidak heran jika para muballigh yang caranya berdakwah seperti ini banyak yang berurusan dengan kasus hukum. Tidak hanya berurusan, namun juga ada yang masuk penjara.

Sayangnya, sebagian kalangan dari kita, memang tidak besar jumlahnya, menganggap gaya dakwah seperti itulah yang disebut dengan dakwah. Jika ada dakwah yang retorikanya klemar-klemer, meskipun isinya bagus, karena tidak ada agitasi di dalamnya, mereka tidak menyebut kegiatan ini sebagai dakwah. Bahkan penyampai dakwah yang demikian ini mereka sebut sebagai bukan ulama.

Pandangan sebagian masyarakat yang demikian tercipta karena asmosfer dakwah kita yang memang sudah lama dipenuhi oleh pemaksaan dan kebencian, baik pada sesama Muslim maupun pada non-Muslim.

Fenomena pendakwah kasar dan agitatif sebenarnya model dakwah yang tidak mencontoh pada model dakwah Rasulullah SAW. Bagaimana model dakwah Nabi Muhammad yang harus dijadikan sebagai pedoman menjalankan dakwah bagi para muballigh kita?

Muhammad Sayyid Thantawi (mantan Imam Besar al-Azhar dan Mufti Dar al-Ifta Mesir) dalam sebuah catatan kecilnya yang berjudul, La Ikraha fi al-Din, memberikan gambaran di mana pemaksaan agama dan keyakinan itu memang terjadi di dalam proses dakwah kita sehari-hari.

Rupanya, fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun juga terjadi di dunia Islam lainnya, seperti Mesir dan negara-negara Timur Tengah. Pertama, Thantawi menyampaikan, al-Quran menyatakan bahwa pemaksaan untuk mengikuti sebuah keyakinan atau akidah tertentu tidak ada manfaatnya di dalam proses berdakwah.

Beragama dan berkeyakinan itu masalah hati dan kecenderungan jiwa yang dibimbing oleh kebebasan. Menurut Sayyid Thanthawi, antara keyakinan dan pemaksaan itu merupakan dua hal yang bertentangan, keduanya juga tidak bisa berkumpul, al-ikrah wa al-i’tiqad, naqidlani la yajtami’ani, demikian bahasa Arabnya.

Karenanya, jika ada orang yang memaksakan keyakinannya pada orang lain, dengan mengancam, misalnya kalau tidak menuruti maka akan masuk neraka Jahanam atau masuk neraka yang lain, maka itu cara yang tidak dianjurkan oleh Islam. Tuhan sendiri tidak memaksa umat manusia untuk beriman sebagaimana ayat: “apabila Tuhanmu berkehendak maka seluruh orang di atas bumi akan beriman semuanya.”

Namun ini tidak Tuhan kehendaki, apalagi tuhan paksakan. Sayyid Thanthawi mengatakan jika tugas Rasul itu menyampaikan (berdakwah), mengingatkan (tabsyir), membawa kabar gembira dan juga memberi kabar yang tidak menggembirakan. Tidak ada cara dakwah Nabi yang memaksakan dan membelenggu untuk orang lain agar masuk Islam.

Menurut Sayyid Thantawi, syariah Islam itu menghindarkan ucapan, perbuatan dan juga keyakinan yang datang karena adanya paksaan. Biarlah keyakinan itu datang pada seseorang karena pilihan bebas mereka, kesenangan mereka, dan juga karena penerimaan mereka.

Jika saya kontraskan model dakwah Nabi Muhammad, sebagaimana digambarkan oleh Sayyid Thanthawi, dengan kenyataan dakwah kita di lapangan maka praktiknya memang berbeda. Di lapangan kita di Indonesia, dakwah tidak untuk memeluk orang, namun menjauhkan orang, tidak untuk menyatukan orang atau umat, namun memisahkan, tidak untuk memberikan pilihan kebebasan, namun memaksakan dan membelenggu.

Lihat saja model dakwah yang dilakukan oleh Dzakir Naik dari India misalnya. Dengan cara menyerang kitab suci agama lain dia sebenarnya ingin memaksakan agar pengikut kitab suci agama lain mengikutinya. Cara dakwah yang demikian ini jelas tidak bisa lakukan.

Jangankan dakwah dengan orang yang berbeda keyakinan, dengan keluarga sendiri, seperti pada anak kita tidak diperkenankan dengan cara memaksakan keyakinan kita kepada mereka. Di dalam sebuah sebab peristiwa yang menyebabkan ayat “la ikraha fi al-din” (tidak ada paksaan dalam beragama) dan seterusnya, terdapat cerita yang sangat menarik.

Diceritakan, ada seorang laki-laki dari Bani Salim bin Auf yang memiliki dua anak. Keduanya tidak beragama Islam dan si bapaknya tadi sudah masuk Islam. Lalu, si bapak ini tanya ke Nabi Muhammad, apakah saya harus memaksa kedua anak saya untuk masuk Islam? Lalu turunlah ayat langsung dari Allah, “La ikraha fi al-din….”

Ayat ini jelas merupakan pesan yang inklusif bagi kita semua yang sering menjajakan agama dengan cara yang memaksa. Ruang media sosial kita penuh dengan konten-konten dakwah yang memaksa pihak lain. Hal ini bisa terjadi karena sebagian orang mengatakan bahwa dakwah itu jihad.

Dakwah itu memang bagian dari perjuangan (jihad), namun dakwah tidak boleh dengan cara coercive (memaksakan). Dakwah itu persuasi, karenanya masuk akal apabila dakwah tidak boleh dilaksanakan dengan cara-cara yang antagonistik.

Tingginya polarisasi dan disintegrasi di dalam masyarakat kita, terutama masyarakat Muslim, itu disebabkan oleh kegagalan dakwah kita yang memakai model dan pendekatan jihad. Obyek dakwah dianggap sebagai obyek perang. Perbedaan keyakinan disikapi dengan penyerangan, bukan disikapi dengan pendekatan yang baik.

Bagaimana satu sama lain tidak semakin memanas apabila psikologi dakwahnya adalah psikologi penaklukan. Jadi ungkapan-ungkapan yang ofensif di dalam corong dakwah ditujukan untuk menaklukkan keyakinan pihak lain. Hal yang paling konkret selain menyebabkan polarisasi, dakwah antagonistik tidak menyebabkan orang kita menjadi lebih maju dan sejahtera.

Sebagai catatan, kita sekarang harus mulai mengubah model dakwah kita. Cara memaksa, menaklukkan, mengancam, dlsb, itu sudah tidak sesuai dengan zamannya. Orang akan lari dengan cara seperti itu.

Komentar