ANIES CAPRES ANAK MUDA 2024?

Oleh: Denny Siregar

 

Beberapa hari ini media sosial saya banyak diserbu oleh simpatisan Anies Baswedan. Mereka mengejek saya dengan membawa hasil survei dari Indikator, kalau Anies adalah capres nomor satu yang dipilih anak muda kalau dipilih sekarang. Setidaknya, Anies dipilih oleh 15 persen responden. Di bawahnya ada Ganjar Pranowo yang dipilih oleh 13 persen responden. Dan di bawahnya lagi ada Ridwan Kamil, terus Sandiaga Uno, dan baru Prabowo Subianto.

Hasil survei dari Indikator ini membuat mereka euphoria, atau gembira berlebihan. Dan menariknya, hasil survei ini juga membuat Gerindra dan PKS berebut Anies Baswedan. Partai Gerindra bahkan sudah merancang duet Prabowo Subianto dan Anies Baswedan sebagai capres dan cawapres. Ide Gerindra ini kemudian ditolak oleh PKS, “Jangan mau Anies Baswedan,” kata Presiden PKS.

Ya aneh juga sih nih PKS, sepertinya dia yang punya Anies dan seolah-olah mereka punya kans untuk mencalonkan Anies Baswedan sebagai capres. Padahal kalau dibandingkan Gerindra sih, ya lebih besar Gerindra lah kursinya dibandingkan PKS, yang berarti Gerindra punya kans lebih besar untuk mencalonkan siapa presiden daripada PKS yang kursinya kecil dan hampir tereliminasi di Pilkada 2019.

Oke, gembira boleh tapi masalahnya benarkah Anies Baswedan adalah capres potensial anak muda?

Eits, nanti dulu. Ini baru tahun 2021. Pilpres masih 2024, Bro. Masih lama, 3 tahun lagi. Dan selama 3 tahun itu, banyak kemungkinan yang terjadi. Coba perhatikan saja perubahan dari hasil survei. Dua bulan lalu survei-survei itu memberitakan kalau Pilpres hari itu diadakan siapakah calon presiden yang dipilih? Dan nama Prabowo Subianto ada di atas berturut-turut dan tidak tergoyahkan. Sekarang, mendadak nama Prabowo merosot di nomor 5 ketika Indikator mencoba melakukan survei di kalangan anak muda.

Ya iyalah, Prabowo sulit diterima anak muda. Dia terlalu old school. Terlalu tua. Usianya kalau tidak salah nanti di tahun 2024, sudah 72 tahun. Anak muda pasti maleslah ngelihat Prabowo yang sudah seperti kakek mereka. Memang siapa yang mau milih kakek-kakek? Maaf ya, ini bukan menghina. Tapi kenyataan yang sebenarnya. Pahit memang, tapi itulah fakta sebenarnya.

Jangan salah, tahun 2024 Pemilu terbesar kita ada di generasi milenial dan generasi yang lebih muda atau populer dengan nama generasi Z. Kalau kita melihat sensus penduduk tahun 2020, jumlah generasi Z di Indonesia mencapai 75 juta jiwa. Atau setara dengan 28 persen dari total jumlah penduduk Indonesia

Itu baru generasi Z-nya. Sedangkan generasi yang lebih tua sedikit, yang bernama generasi milenial mencapai 69 juta jiwa atau setara dengan 26 persen dari total seluruh penduduk Indonesia.

Kalau dua-duanya digabungkan, maka generasi Z dan generasi milenial totalnya mencapai hampir 54 persen dari seluruh total penduduk Indonesia. Merekalah pemilih terbesar di tahun 2024, dan suara mereka akan diperebutkan oleh banyak partai.

Jadi, bagaimana mungkin seorang Prabowo bisa menang di 2024, kalau pemilih terbesarnya anak muda? Mereka pasti cari yang muda juga, bukan yang sudah kakek-kakek yang zamannya saja sudah beda. Yang satu adalah generasi internet, sedangkan satunya generasi kuda gigit besi. Itulah kenapa PKS mencegah Anies Baswedan untuk berpasangan dengan Prabowo sesuai usulnya Gerindra, karena Prabowo adalah kartu mati di 2024, gak bisa dimainkan lagi.

Nah, itu tentang Prabowo. Lalu pertanyaannya, kenapa kok nama Anies Baswedan ada di urutan pertama yang dipilih oleh anak muda?

Menurut pengamatan saya, sebagian besar anak muda sekarang sebenarnya tidak begitu tertarik pada politik atau biasa disebut apolitis. Mereka lebih suka bermain internet, berkomunikasi dengan banyak orang di seluruh dunia, main game online, dan traveling atau jalan-jalan. Mereka mungkin juga lebih tertarik berbisnis online, seperti trading mata uang Crypto atau hal-hal yang berhubunganlah dengan internet lainnya. Politik? Wah, gak penting karena gak berhubungan dengan masa depan mereka dan komunitas-komunitasnya mereka.

Kalaupun nama Anies Baswedan akhirnya menjadi pilihan, mungkin itu karena ada dalam top of mind-nya mereka. Orang yang sering muncul karena sering disebut di media sosial. Populer? Iya, sekarang. Beda nanti sesudah 2022 dan Anies tidak lagi menjabat Gubernur DKI dan tidak banyak dibicarakan orang. Maka nama Anies tidak akan beredar lagi di internet dan tidak akan dikenal oleh anak muda yang menjadi pemilih terbesar nantinya. Paham, kan?

Malah sangat mungkin nama Ganjar Pranowo lah yang akan menyalip di tikungan karena dia menjabat sampai tahun 2023, dan jelas dia punya potensi untuk diperbincangkan di media sosial. Itu juga kalau tim Ganjar pintar memainkan kartunya di media sosial dan internet sehingga namanya terus dibicarakan.

Jadi, kalau sekarang banyak yang euphoria karena nama Anies Baswedan ada di peringkat pertama survei, ya biarkanlah. Senyumin aja. Tidak menghalangi orang bahagia, toh berpahala. Mereka senang, kita juga ikut senang. Mereka cemberut nantinya, kita malah tambah senang.

Ah, Pilpres masih sangat lama. Kita senang-senang aja dulu dan baru bertarung nanti kalau sudah dekat masanya.

Komentar