JOKOWI 5 PERIODE SEKALIAN AJA…

Oleh: Denny Siregar

 

Meski baru tahun 2021, tapi peta politik untuk 2024 sudah mulai ramai. Mulai kisruh perebutan kepemimpinan di PAN, rebutan Partai Berkarya sampai kudeta di Demokrat adalah riak-riak awal dari Pilpres ke depan. Pilpres 2024 diperkirakan bakal seru, karena itu ruang kosong, tidak ada peserta yang incumbent. Semua punya kesempatan yang sama. Semua punya keinginan menang yang sama.

Dan salah satu kompas atau penunjuk arah untuk menaikkan rating calon presiden tahun 2024 adalah Presiden Jokowi.

Jujur saya kagum dengan Jokowi, dan merasa ikut berjasa karena saat Pemilu sudah memilih pemimpin yang benar. Jokowi yang awal menjabat selalu diejek sebagai cah ndeso, planga-plongo, boneka partai dan segala macam pelecehan lainnya, tapi ternyata bisa menunjukkan sisi sebaliknya. Pada akhirnya kita mengenal Jokowi sebagai orang yang kuat dan sangat berpengaruh, bukan saja di nasional tetapi juga di level internasional.

Banyak pemimpin partai juga merasakan hal yang sama. Mereka juga kagum dengan Jokowi yang pengaruhnya bahkan bisa meruntuhkan bangunan kuat oposisi. Dengan elegannya Jokowi mengajak Prabowo masuk ke kabinet dan itu menjadikan oposisi yang waktu Pilpres 2019 terlihat sebagai ancaman besar perpecahan bangsa, langsung berkeping-keping seketika. Prabowo adalah magnet besar mereka. Dan ketika Prabowo masuk kabinet, bergabung dengan Jokowi, maka kelompok radikal yang selama ini memanfaatkan Prabowo untuk tujuan politik mereka, lepas dan berpencar seperti anak ayam kehilangan induknya.

Dan di saat mereka kehilangan induk itulah, Jokowi menghajar ormas radikal itu habis-habisan. Kita melihat, FPI yang dulu begitu jumawa dengan poster-poster Rizieq di mana-mana sebagai bagian dari propaganda, hancur berantakan. Markas mereka diobrak-abrik. Pimpinan mereka dipenjarakan. Organisasinya dibubarkan dan dijadikan organisasi terlarang. Rekening mereka dibekukan. Praktis FPI lumpuh dan tidak bisa bergerak. Bohir-bohir mereka yang selama ini memasok dana untuk melakukan demo massa, langsung tiarap, gak berani memunculkan muka. FPI seperti orang yang kena penyakit kusta, semua orang yang dulu mengaku sebagai teman, menjauhi mereka karena takut kena imbasnya.

Kepiawaian Jokowi memainkan bidak-bidak caturnya inilah yang membuat banyak orang menjadi kagum padanya. Kepuasan publik dalam pemerintahan Jokowi meningkat tinggi, apalagi dalam masa penanganan pandemi ini. Survei paling baru dari Index Research menunjukkan 70 persen publik puas dengan kinerja Jokowi.

Dan ini tidak terbantahkan, Jokowi adalah kompas paling seksi dalam percaturan Pilpres di 2024 nanti. Dalam artian, saking berpengaruhnya Jokowi, maka ke mana arah telunjuknya mengarah, maka orang akan beramai-ramai menuju ke sana. Orang sekarang sedang menunggu, siapa calon presiden di 2024 yang layak memegang tongkat estafet dari Jokowi?

Tetapi kekuatan pengaruh Jokowi ini juga menimbulkan ketakutan dari pihak lawan politiknya. Mereka tidak mau Jokowi punya pengaruh besar dalam percaturan politik di tahun 2024 nanti, karena itu nama Jokowi harus dihancurkan, karakternya harus dibinasakan, supaya orang gak percaya dengan dia nantinya.

Pihak lawan tahu, menggunakan isu PKI untuk menghantam Jokowi sudah sia-sia. Orang sudah gak percaya lagi dan itu isu yang basi. Akhirnya daripada menghantam Jokowi, lebih baik memuji-muji dia sangat tinggi sehingga diharapkan Jokowi menjadi besar kepala dan menjadi otoriter supaya dimusuhi rakyatnya.

Isu “Jokowi 3 Periode” itu adalah salah satu strategi mereka. Pujian setinggi langit bahwa Jokowi dibutuhkan sebagai presiden lagi, adalah cara untuk menghancurkan hubungan Jokowi dengan partai-partai pendukungnya. Jokowi digambarkan oleh pihak lawan sebagai sosok yang haus jabatan, serakah, otoriter, dan ingin menjadikan negara ini sebagai negara dinasti, persis seperti yang dilakukan Soeharto pada masa orde baru lalu.

Dan sesudah pujian bahwa Jokowi harus 3 periode, sekarang muncul penolakan dari PKS, Amien Rais, dan rekan-rekan seprofesi mereka. Lucu memang. Mereka yang buat isu kalau Jokowi harus 3 periode, mereka juga yang menolaknya, seolah-olah PKS dan Amien Rais adalah pahlawan dengan menolak Jokowi sebagai presiden 3 periode.

Pembatasan jabatan presiden hanya 2 kali itu sudah jelas dan ada dalam UU. Dan itu sulit diubah. Pembatasan ini gunanya untuk mencegah jabatan yang terlalu lama, akan membangun kesewenang-wenangan dalam pemerintahan, atau bahasa kerennya adalah abuse of power. Dan jelas, Jokowi bukan tipikal pemimpin yang mau melakukan abuse of power. Dia patuh pada hukum dan menyerahkan semua proses pada demokrasi sesuai UU. Melawan UU sama dengan menghancurkan negeri ini sendiri.

Nah, karena Jokowi sejak awal tidak mau dicalonkan menjadi presiden 3 periode karena berbenturan dengan UU, maka dihembuskanlah isu lagi bahwa kemungkinan ada amandemen, atau perubahan resmi tanpa mengubah UUD untuk menjadikan Jokowi 3 periode. Alasan mereka adalah, hakim agung saja bisa menjabat dengan ukuran usia yaitu maksimal 70 tahun dan tidak dibatasi periode, kenapa kok jabatan presiden tidak bisa?

Pemerintah pun juga sudah membantah isu ini, bahwa jabatan presiden dan hakim agung itu berbeda. Jabatan presiden itu adalah jabatan politik, jadi harus ada pembatasan. Sedangkan jabatan hakim agung, dinilai berdasarkan kebutuhan hukum dan tidak ada nilai politiknya sama sekali, jadi tidak dibatasi oleh faktor periode tetapi lewat faktor usia.

Isu Jokowi 3 periode ini sebenarnya sudah mentah karena UU sudah membatasi masa jabatan presiden hanya 2 periode saja. Tapi isu ini terus dikembangkan, meski fakta berbicara berbeda. Untuk apa? Ya jelas, hanya membangun narasi saja berdasarkan isu supaya persepsi masyarakat terhadap Jokowi berubah, dari kagum menjadi benci. Dan kelompok oposisi perlu kebencian kepada Jokowi ini tumbuh, supaya Jokowi tidak punya pengaruh lagi dalam memilih calon presiden penerusnya di 2024 nanti.

Lagian, siapa sih sekarang yang percaya PKS dan Amien Rais selain kelompok mereka sendiri?

Cuma yang saya salut pada mereka adalah usaha mereka yang pantang menyerah. Masalah politik itu masalah dunia, tapi mereka gak ada sungkan-sungkannya bawa-bawa nama Tuhan, akhirat bahkan neraka jahanam sebagai jargon politik mereka. Ya wajarlah, mungkin mereka sangat dekat pada Tuhan sehingga merasa layak untuk menjadi juru bicaraNya.

Karena itu, sebagai seorang buzzeRp berlisensi yang suka rawon dan sudah mampu mencicil mobil Ferrari, saya ingin mengucapkan kepada PKS dan Amien Rais supaya tetap putus asa dan jangan pernah semangat. Hiduplah walau tidak berguna.

Komentar