DRAMA WALK OUT RIZIEQ DAN GEROMBOLANNYA

Oleh: Ade Armando

 

Rizieq Shihab dan kuasa hukumnya walk-out dari persidangan Selasa lalu di Pengadilan Jakarta Timur. Dan bagi saya ini adalah pertunjukan keterbelakangan. Rizieq dan pendukungnya nampak sebagai kaum barbar yang tertinggal jauh dari peradaban.

Sebelumnya hakim memang sudah memutuskan bahwa persidangan dilakukan secara online. Rizieq berdiam di Mabes POLRI dan dihubungkan secara online dengan Pengadilan Jakarta Timur.

Ini yang kemudian dijadikan drama oleh kubu Rizieq.

Di awal sidang, Rizieq menolak sidang online dengan lima alasan. Pertama katanya, sidang online ini sangat mungkin terganggu oleh kendala teknis. Bahkan bisa disabotase.

Kedua dia bilang, kalau alasan sidang online adalah untuk menjaga protokol kesehatan, maka yang harus dilakukan adalah memperketat protokol kesehatan dengan menjaga jarak, menggunakan masker.

Ketiga katanya lagi, kalau dipaksakan sidang online maka ini adalah tindak diskriminasi mengingat faktanya ada sidang-sidang lain yang dilakukan secara langsung.

Keempat, kata Rizieq lagi, faktanya dia tidak berada di ruang pengadilan, melainkan di ruang Mabes POLRI. Ini agak membingungkan, tapi mungkin maksudnya, pengadilan seharusnya dilakukan di ruang pengadilan.

Kelima, dan ini yang terakhir katanya, kalau dipaksakan, sidang online ini akan menjadi sidang abal-abal dan akan mempermalukan hukum Indonesia di mata dunia internasional.

Setelah dia bicara panjang lebar, tim kuasa hukum menambahkan dengan lebih dramatis. Munarman yang memimpin tim kuasa hukum bilang, dia tidak bisa mendengar suara Rizieq.

Dia minta penzaliman ini dihentikan dan tidak dibiarkan berkepanjangan. Ketika hakim menyatakan tidak akan mengubah keputusan dan melanjutkan sidang, drama berikutnya digelar.

Rizieq bilang dia tidak akan melanjutkan persidangan dan langsung bediri meninggalkan kursinya. Dengan pongah dia memerintahkan petugas rekaman mematikan kamera.

Dia kemudian memaki-maki petugas keamanan yang berusah mencegahnya meninggalkan tempat. Di Pengadilan Jakarta Timur sendiri, dengan demonstratif, Munarman dan 40 temannya juga baramai-ramai meninggalkan kursi.

Munarman bilang dengan kasar ke majelis hakim: sidang saja dengan dinding, dengan bangku. Tim kuasa hukum Rizieq menuding-nuding, berteriak-teriak, dan membentak-bentak majelis hakim dan jaksa

Sebagian bertakbir, karena mengira Tuhan berada di pihak mereka. Belakangan di media, mereka bilang sudah berulangkali meminta agar Rizieq dihadirkan dalam ruang sidang, tapi majelis hakim tidak memenuhi permintaan mereka.

Mereka bilang, mereka tidak diperlakukan secara adil

Mereka menyatakan bahwa hakim tidak berhak menetapkan acara persidangan sendiri dan seharusnya menerapkan asas ‘equality before law’ yang artinya semua orang berhak diperlakukan sama di depan hukum.

Mereka bahkan menyatakan tidak akan menghadiri persidangan berikutnya selama masih dilakukan tanpa menghadirkan Rizieq di luar sidang. Mereka itu terbelakang.

Cara mereka mencacimaki persidangan sebenarnya adalah penghinaan terhadap pengadilan, contempt of court. Namun mereka sangat yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang dibenarkan secara hukum.

Ketika Rizieq menyatakan tidak akan melanjutkan persidangan, tim kuasa hukum seharusnya menasehati Rizieq untuk tetap menghormati persidangan. Bukannya malah ramai-ramai meninggalkan ruang sidang secara demonstratif.

Tapi saya duga, mereka memang ingin menjadikan persidangan ini sebagai panggung pertunjukan. Sejak awal agaknya mereka sudah bersiap untuk memempermalukan hakim.

Mereka memang tidak punya niat baik untuk menjalani proses hukum. Mereka tahu bahwa mereka akan kalah, Rizieq akan dinyatakan bersalah. Tapi mereka ingin ini semua berlangsung dengan cara dramatis, sehingga kaum pecinta Rizieq bisa melihat bagaimana Rizieq adalah pejuang yang dizalimi rezim Jokowi.

Kalau semua dijalani dengan tertib, efek sensasional ini tidak akan tercapai. Jaksa mengajukan setidaknya tiga kasus dalam persidangan.

Pertama Rizieq dianggap dengan sengaja mengundang kerumunan pada pertengahan November 2020 saat dia melaksanakan acara perayaan Maulid dan pernikahan putrinya di Petamburan.

Sekadar catatan, setelah acara, Satgas COVID-19 memang mengumumkan adanya penularan kasus COVID-19 yang signifikan dari acara Rizieq.

Kasus kedua adalah Rizieq dianggap dengan sengaja mengundang kerumunan di Bogor terkait peletakan batu pertama pembangunan masjid di Pondok Pesantren Agrokultural Markaz Syariah miliknya.

Ketiga, terkait test usap di RS Ummi, Bogor. Dalam kasus ini Rizieq Shihab ditetapkan sebagai tersangka bersama dua orang lain.

Dalam kasus terakhir ini Rizieq dengan sengaja tidak bersedia bekerjasama menjalani prosedur penanganan Covid, berbohong dan melarikan diri saat diperiksa di RS Ummi, Bogor.

Ini baru tiga kasus terakhir yang diperkarakan.

Di luar itu, masih menunggu banyak kasus-kasus lain, seperti kasus chat mesum dengan Firza dan penghinaan agama Kristen yang bukti-buktinya juga sudah terkumpul secara menyakinkan.

Karena itu tim kuasa hukum berusaha menunjukkan bahwa mereka tidak akan begitu saja membiarkan Rizieq dipenjara.

Mereka harus menunjukkan bahwa proses pengadilan ini berjalan dengan cara zalim. Mereka ingin menunjukkan Rizieq adalah korban. Mereka tahu keberatan mereka mengada-ada.

Kalau persoalannya adalah koneksi internet buruk, ya sebenarnya tinggal diperbaiki.

Kalau soal pengadilan online, ya memang ada peraturan MA yang menetapkan prosedur pengadilan di masa pandemi yang memungkinkan pengadilan tidak berlangsung di ruang pengadilan.

Lagipula dalam kasus pengadilan Rizieq ini, yang dikhawatirkan bukanlah protokol kesehatan di dalam ruang sidang.

Geng Munarman bilang kalau yang dikhawatirkan adalah protokol kesehatan, bukankah ruang persidangan bisa ditata sedemikian rupa sehingga tidak perlu ada kekhawatiran penularan?

Kata mereka, bukankah Rizieq bisa diminta menggunakan masker, menggunakan hand sanitizer, mengikuti test SWAB.

Mereka bilang, tim kuasa hukum saja duduk rapat-rapat, kok tidak dipermasalahkan? Mereka mungkin pura-pura tidak tahu, bahwa salah satu alasan utama untuk tidak menghadirkan Rizieq adalah kemungkinan yang terjadi di luar sidang.

Tim Rizieq ingin persidangan dilakukan secara langsung, karena efek dramatisnya bisa lebih kuat.

Mereka bisa memobilisasi massa untuk mendatangi pengadilan. Tentu saja mereka akan datang tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Mereka akan berteriak-teriak, bertakbir. Dan kalau aparat keamanan bertindak, mungkin sekali akan terjadi bentrok yang menimbulkan korban fisik.

Tim Rizieq mungkin sekali akan senang kalau sampai ada yang tewas dalam benturan itu. Dan saya rasa saya tidak berlebihan.

Kasus tewasnya enam anggota Laskar FPI di Tol Jakarta Cikampek adalah contoh terbaik bahwa mereka bersedia melakukan apa saja untuk mencapai tujuan.

Termasuk mengorbankan anak-anak muda naif yang bersedia mati untuk membela Rizieq. Mereka diinstruksikan memang untuk menabrak mobil polisi dan menembaki polisi. Mereka pasti diperintahkan, karena para elit FPI tahu bahwa kalau sampai ada korban nyawa jatuh, kondisinya menjadi dramatis dan itu akan menimbulkan kemarahan.

Para anggota FPI yang tewas itu dikorbankan oleh para petingginya. Begitu juga dengan persidangan ini. Dan kondisi itulah yang berusaha dicegah oleh pengadilan.

Itu yang membuat marah kubu Rizieq. Mereka tahu bahwa ini semua berlangsung di bawah sorotan kamera.

Mareka tahu bahwa kalau semua berjalan lancar, tanya jawab berlangsung tanpa konflik, Rizieq akan dinyatakan bersalah dan masuk penjara begitu saja. Tidak ada yang heroik di situ.

Padahal Rizieq sedemikian dipuja-puja karena kemampuannya berperan sebagai seorang pejuang yang memimpin jihad umat Islam. Rizieq harus diberi panggung untuk berpidato, berorasi, menunjukkan kharismanya.

Kalau sekarang dia langsung dinyatakan bersalah karena melanggar protokol kesehatan dengan mengumpulkan orang untuk menghadiri pernikahan putrinya atau karena kabur dari rumah sakit, itu pasti kisah yang sama sekali tidak mengagumkan.

Karena itu mereka membangun narasi bahwa hakim Indonesia dengan sengaja tidak mau bertemu langsung dengan Rizieq.

Mereka membangun kisah imajiner bahwa sedemikian kharismatiknya Rizieq sehingga kehadiran Rizieq secara fisik akan menggetarkan ruang sidang.

Apakah drama ini akan bisa mempengaruhi rakyat Indonesia? Bisa saja, terutama di kalangan anti Jokowi dan pecinta Rizieq. Mereka ini adalah kaum yang sudah tertutup mata dan hatinya tentang Rizieq.

Buat mereka, fakta terang benderang tentang kaburnya Rizieq ke tanah Arab, penghinaannya terhadap non-muslim, cacimakinya saat berdakwah, ajakannya untuk revolusi, kepengecutannya di RS Ummi, tindak kekerasan FPI di bawah komandonya, semua itu tidak bisa mengurangi penghormatan mereka pada Rizieq yang mereka percaya adalah Imam Besar Umat Islam.

Apalagi soal persidangan ini. Tapi saya yakin, Indonesia terlalu besar untuk takut pada Rizieq dan para pengikutnya. Rizieq dan umatnya adalah kaum pembawa bencana yang memang harus dihadapi dengan penuh ketegasan.

Kita dukung terus lembaga pengadilan untuk secara bertahap menuntaskan kasus-kasus kejahatan Rizieq.

 

Komentar