JOKOWI: BENCI PRODUK ASING!

Oleh: Denny Siregar

 

Teknologi itu punya sifat yang sama, yaitu memudahkan manusia untuk melakukan pekerjaan. Apapun jenis teknologinya, pasti seperti itu. Dan biasanya kita melakukan sesuatu yang manual, dengan tangan kita, ketika ada teknologi maka pekerjaan kita akan jauh lebih mudah karena dibantu oleh mesin.

Internet juga begitu. Dengan adanya internet, maka ada perubahan besar-besaran dalam budaya kita. Yang biasanya kita belanja ke pasar dan ke mall, sekarang tinggal lewat handphone, barang sudah ada di rumah. Gak perlu biaya besar lagi untuk parkir, bensin, atau apapun. Tinggal klik, bayar, dan tunggu aja teriakan “Pakeeett..” di depan. Semakin mudah, maka kita juga akan semakin sering belanja.

Enak, kan? Tapi nanti dulu, meski enak, teknologi juga bisa sangat berbahaya. Di mana bahayanya? Saya terangkan dengan sederhana ya.

Setiap kita berbelanja di sebuah toko online, maka jejak kita akan terbaca oleh sebuah sistem komputer, apa yang kita beli, di mana kita beli, kapan kita beli, dan segala macam perilaku kita di dalam berbelanja. Semua itu terkumpul dalam sebuah sistem yang dinamakan Big Data. Data-data kita, perilaku kita dalam berbelanja dikumpulkan dan diteliti oleh si pemilik sistem itu. Sistem ini belum tentu ada di negeri kita sendiri, bisa saja ada di negara luar, di Singapura misalnya, atau di Cina, karena di internet sudah tidak ada lagi jarak dalam melakukan kegiatan.

Nah, permasalahan terbesar dari data itu adalah informasi yang mereka dapat, bisa jadi senjata untuk menghancurkan kita. Misalnya ya, dari sisi belanja itu saja. Negara luar bisa tahu kita suka belanja apa, dan apa barang yang lagi tren di negara kita.

Oke, contohnya di Indonesia sedang tren baju muslim. Baju muslim itu dibuat oleh orang Indonesia, dikembangkan di sini, dan dijual lewat toko online. Meledak. Banyak orang suka dan dagangan pun jadi laris. Sistem kemudian membaca perilaku itu dan mengirimkan informasinya ke negara pesaing kita. Negara itu, berdasarkan data yang mereka dapat, kemudian menyuruh para pelaku industri kecilnya atau di negeri kita itu dikenal dengan nama UMKM, untuk membuat baju muslim juga supaya dijual ke negara kita. Dan dengan harga yang sangat murah.

Inilah yang jadi masalah besar. Mereka dengan enaknya membajak ide kreatif dari orang kita, lalu membuat produk yang sama dan menjualnya ke kita dengan harga yang jauh lebih murah. Kita sebagai konsumen tentu mau dong dengan barang yang sama dan harga yang jauh lebih murah. Dan apa yang terjadi akhirnya? Kita tanpa sadar membeli barang produk asing, dan menghancurkan UMKM di negeri kita sendiri. Mereka bangkrut karena tidak mampu bersaing, padahal merekalah yang pertama kali menciptakan produk yang sedang laris di sini. Dan orang-orang asing itu menikmati keuntungannya, uang kita mengalir ke sana, bukan ke saudara sebangsa kita sendiri.

Inilah yang dinamakan predatory pricing. Predatory pricing ini adalah strategi dari sekumpulan orang untuk menjual barang dengan harga yang sangat murah, supaya pelaku industri yang lain bangkrut dan mereka kemudian akan menguasai pasar.

Keluhan para pelaku UMKM kita ini akhirnya sampai juga ke telinga Presiden Jokowi. Dan entah bagaimana, Jokowi kemudian menyerukan slogan “Benci Produk Asing”. Sebuah kalimat yang sebenarnya kurang tepat karena bisa ditafsirkan ke mana-mana dan menjadi bumerang untuk kita. Seruan Jokowi “Benci Produk Asing” ditangkap oleh media luar negeri dengan penafsiran yang berbeda, dan pelaku usaha yang selama ini mengekspor barang ke Indonesia pun menjadi gelisah. Mereka mengira kalau Jokowi mau melakukan boikot terhadap produk luar dan itu akan menyusahkan mereka, para pengusaha-pengusaha di negara lain.

Saya juga heran dengan kata “Benci Produk Asing” itu. Itu komunikasi yang sangat buruk sekali. Padahal maksud Jokowi adalah dia benci sekali dengan konsep predatory pricing, bukan benci dengan barang dari luar negeri. Karena selama ini kita juga banyak pakai produk dari luar, handphone misalnya yang sebagian besar adalah produk luar. Kita belum sanggup untuk membuatnya sendiri dengan teknologi yang sangat canggih. Komunikasi yang buruk ini dampaknya memang bukan buat di dalam negeri, tetapi justru di luar negeri. Gak tau, kenapa Istana tidak punya ahli komunikasi yang baik untuk bisa membahasakan hal sesederhana ini. Masalah kita selalu seperti itu. Programnya bagus, komunikasinya yang buruk. Capek saya menjelaskan ini berkali-kali.

Kembalilah kita ke masalah predatory pricing, seruan Jokowi itu akhirnya ditindaklanjuti oleh Kementerian Perdagangan untuk menyusun aturan predatory pricing e-commerce. Aturan itu dimaksudkan untuk melindungi UMKM di negeri kita supaya mereka terus hidup dan berkreasi. Dan aturan dari Kemendag ini, nanti kalau sudah jadi akan disosialisasikan dan wajib dilaksanakan oleh toko-toko online besar yang berdagang di negara kita, seperti Tokopedia, Shopee, Blibli, dan banyak lainnya.

Sebagai catatan saja, negara kita adalah salah satu negara konsumen terbesar di dunia dengan jumlah penduduk 270 juta orang. Dan sekarang ini, pelaku UMKM kita sudah ada di angka 57 juta UMKM.

Setiap Indonesia punya masalah, seperti hancurnya ekonomi global di tahun 1998 dan pandemi ini, UMKM kita sebagai usaha kecil dan menengah selalu menjadi penyelamat. Ketika perusahaan-perusahaan besar itu tumbang dan mulai mecat ribuan orang, UMKM kita malah tumbuh dan menyebar di mana-mana. Merekalah tulang punggung ekonomi nasional. Kalau mereka hancur, maka hancur jugalah ekonomi negara kita. Karena itu UMKM di Indonesia wajib dilindungi dan kalau perlu diperbanyak supaya makin kuat pondasi ekonomi kita.

Cuma, untuk membela UMKM ini tidak haruslah dengan kata “Benci Produk Asing”, karena biar bagaimanapun semua negara harus belajar dari negara luar supaya mereka tidak ketinggalan zaman. Bayangkan kalau misalnya negara kita tidak ada satupun produk asing, bisa tinggal lagi kita di dalam gua karena gak bisa berkomunikasi dengan orang luar.

Kalau di negara kita sih, kata “Benci Produk Asing” itu gak ada pengaruhnya. Netizen Indonesia malah menganggapnya lucu-lucuan. Mereka dengan gaya bercanda menganggap bahwa pisahnya Kaesang, anak Jokowi dengan mantan pacarnya, Felicia di Singapura, itu karena kata “Benci Produk Asing” itu.

Saya juga kadang benci produk asing, sih. Apalagi kalau produk itu berbentuk wanita cantik yang tinggal di Kazakhstan seperti Dayana. Gimana gak benci? Wong dia cantik dan saya gak bisa menggapainya. Bahasanya aja gak bisa, gimana mau bicara?

Komentar