DUKUNG PRESIDEN MENOLAK IMPOR BARANG ASING

Oleh: Ade Armando

 

Pernyataan Presiden Jokowi agar bangsa Indonesia mencintai produk dalam negeri dan membenci produk luar negeri, bikin geger. Tapi buat saya dan buat banyak orang lainnya, yang sejak lama memang khawatir dengan banjir barang-barang konsumsi impor ke Indonesia, pernyataan Presiden ini luar biasa membahagiakan.

Sudah waktunya, pemimpin negara dan bangsa ini bilang pada rakyatnya untuk berhenti membeli barang-barang impor.

Seperti Presiden Obama yang sejak awal pemerintahannya melahirkan kebijakan ‘Buy American’ untuk menumbuhkan ekonomi negaranya, Presiden Jokowi juga sedang mendorong rakyat Indonesia untuk mencintai produk dalam negeri demi kesejahteraan bersama.

Saya sadar sikap Presiden ini akan dengan mudah dinyinyiri terutama kalangan menengah ke atas yang selama ini memang menjadi pecinta setia barang-barang konsumsi impor.

Saya bisa bayangkan, akan ada orang-orang yang bilang: “Di era global ini, sudah tidak saatnya sok bersikap nasionalis seperti Jokowi.”

Tapi saya percaya Jokowi tidak akan menarik ucapannya. Dia sudah mengambil langkah benar dan akan banyak orang yang mendukungnya.

Ada beberapa catatan yang harus diberikan dulu. Pertama, yang dikritik Jokowi adalah impor barang konsumsi, bukan impor bahan baku atau barang modal.

Impor kedua hal terakhir itu tidak terlalu bermasalah, karena itu akan digunakan untuk proses produksi barang-barang di industri domestik baik untuk keperluan pasar Indonesia, maupun untuk diekspor.

Yang jadi masalah adalah impor barang konsumsi, yang bisa dikatakan membawa manfaat ekonomi minimal dan yang pasti menyerap devisa secara besar-besaran.

Kedua, yang dikecam Presiden bukanlah barang-barang dengan merek global. Yang dikritik Presiden adalah kecintaan sebagian masyarakat Indonesia pada barang-barang yang diproduksi di luar negeri.

Jadi, tidak ada masalah kalau kita membeli barang-barang bermerek asing, seperti Coca Cola, Lux, Head and Shoulders, McDonald, Milo, mobil Honda, motor Yamaha, televisi Samsung, dan sebagainya, selama itu semua diproduksi di Indonesia.

Barang-barang itu bukanlah barang impor, karena sudah diproduksi di dalam negeri. Barang impor adalah barang-barang yang memuat keterangan ‘made in’ luar negeri. Sebagian bisa dibeli di toko-toko di Indonesia, sebagian dipesan langsung online dari negara asalnya.

Presiden tidak sedang mendorong masyarakat untuk anti-asing, atau sikap yang lazim disebut sebagai Xenophobia.

Pemerintah selama ini justru berusaha menarik lebih banyak lagi investor asing dari luar negeri untuk menanamkan modal di Indonesia. Kita sangat membutuhkan investasi asing.

Kalau perusahaan-perusahaan asing itu mau datang ke Indonesia, membangun pabrik di sini, mempekerjakan orang-orang Indonesia, melatih anak-anak muda Indonesia, mengalihkan teknologi yang mereka punya bagi bangsa Indonesia, kalau perlu bekerjasama dengan unit usaha kecil dan menengah di Indonesia maka mereka layak berusaha dan menjual barang mereka untuk rakyat Indonesia.

Tapi kalau mereka tidak mau datang ke Indonesia dan begitu saja mengekspor barangnya dari negara asal dengan hanya bayar pajak barang impor ke Indonesia, perusahaan itu namanya hanya sekadar mengeruk duit rakyat Indonesia tanpa membawa manfaat apa-apa bagi Indonesia.

Barang luar negeri yang terakhir inilah yang dikecam Jokowi. Pemerintah Indonesia tidak bisa melarang masuknya barang impor ke Indonesia.

Pemerintah nasionalis manapun di dunia tidak bisa lagi memberlakukan proteksi terhadap barang lokal, karena tatanan ekonomi global tidak mengizinkan itu.

Kalau kita menutup pasar dari barang-barang konsumsi luar negeri, Indonesia akan dikucilkan atau bahkan diboikot dalam ekonomi dunia. Kita akan memperoleh sanksi dari organisasi supranasional World Trade Organization. Karena itulah, yang harus diubah adalah mindset masyarakat Indonesia.

Yang sedang dikecam Presiden adalah budaya masyarakat Indonesia yang tergila-gila pada segala sesuatu yang berbau impor.

Ini terutama dapat dirasakan sekali terjadi pada kalangan kelas menengah ke atas di Indonesia yang rajin mengunjungi mall untuk belanja barang-barang branded.

Ini yang menyebabkan Jokowi mengatakan bahwa dia kecewa dengan suasana tempat perbelanjaan di kota-kota besar yang menonjolkan toko-toko mewah yang berjualan produk impor di lantai utama dan menempatkan counter UMKM di lantai bawah.

Cara berpikir serba impor ini yang harus dilawan. Dan data memang menunjukkan bahwa, di masa ekonomi normal, impor barang-barang konsumsi di Indonesia ini terus meningkat.

Akibatnya terjadi defisit perdagangan.

Indonesia mati-matian membangun ekonomi, namun keuntungan yang diperolehnya dengan segera diserap untuk belanja barang-barang konsumsi ke luar negeri.

Rentang barang konsumsi impor yang disukai orang-orang Indonesia ini terentang luas dari alat elektronik, laptop, handphone, sepatu, alas kaki, tas, baju, koper, perabotan rumah tangga, kacamata, sampai tentu saja yang sedang digandrungi kaum kaya Indonesia: sepeda.

Sebagian besar produk itu ada versi Indonesianya, tapi rupanya dianggap tidak berkelas sehingga tetap saja yang dibeli adalah yang impor.

Dalam ilmu-ilmu sosial, apa yang terjadi ini disebut sebagai bagian dari imperialisme budaya yang sebenarnya merupakan sarana untuk penciptaan imperialisme ekonomi.

Dalam teori ini digambarkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan negara-negara berkembang sulit maju adalah karena adanya penghisapan ekonomi oleh negara-negara maju.

Di masa lalu eksploitasi ini dilakukan dengan menggunakan senjata militer dan politik. Jadi negara-negara penjajah mengeruk keuntungan kekayaan dari negara-negara yang didudukinya dengan kekerasan.

Di saat ini, penjajahan semacam ini tidak bisa lagi dipertahankan karena bertentangan dengan Hak Asasi Manusia.

Karena itulah dibangun sebuah sistem ekonomi global yang seolah menawarkan kesetaraan, tapi sebetulnya diwarnai ketergantungan.

Negara-negara berkembang seperti Indonesia pada dasarnya adalah sebuah pasar yang luar biasa menguntungkan bagi industri negara maju.

Idealnya, pasar lebih dari 200 juta penduduk kita ini adalah pasar yang akan mendorong kemajuan ekonomi Indonesia.

Kalau saja barang-barang konsumsi yang dibeli rakyat Indonesia adalah barang-barang buatan perusahaan di Indonesia, kita akan makmur. Tapi, yang tertarik dengan pasar kita tentu saja bukan hanya bangsa kita sendiri.

Perusahaan-perusahaan transnasional di negara-negara industri maju juga berusaha agar dapat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pasar raksasa ini.

Di satu tahap, mereka berbondong berinvestasi ke Indonesia. Kalau yang ini, jelas membawa manfaat besar bagi rakyat Indonesia.

Yang celaka adalah kalau di tahap berikutnya, mereka tidak merasa perlu untuk mendirikan pabrik di negara pasar melainkan merasa cukup dengan mengirim produk jadi ke negara tersebut.

Ini bisa terjadi karena sistem ekonomi global dan perkembangan teknologi memungkinkannya.

Dan kalau akhirnya terjadi banjir barang-barang konsumsi impor, maka negara-negara maju akan semakin kaya sementara negara seperti Indonesia akan terus tertatih-tatih untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Indonesia perlu meniru jalan Korea Selatan, yang bangkit menjadi rakasasa Asia dan bahkan raksasa dunia, dengan mendorong rakyatnya untuk mencintai produk lokal.

Saya percaya, perubahan mindset masyarakat untuk menolak produk impor adalah keniscayaan.

Kita tidak membenci asing, yang kita benci adalah banjir impor barang konsumsi asing.

Komentar