KETIKA ZITA ANJANI MEMBONGKAR KEGAGALAN ANIES

Oleh: Ade Armando

 

Ketidakbecusan Anies Baswedan mengendalikan banjir semakin terungkap. Dan yang megungkapkannya adalah kawan seiring.

Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional DKI, Zita Anjani, secara blak-blakan di channel Youtube detik.com menunjukkan keburukan pengelolaan banjir oleh Anies.

PAN adalah salah satu partai pendukung Anies. Zita sendiri adalah putri Ketua PAN, Zulkifli Hasan. Dan Zita ditunjuk sebagai Ketua Pansus Banjir DPRD DKI di tahun 2020. Karena itu kecamannya terasa sangat telak menghantam Anies.

Zita bicara dengan sistematis, berbasis data, dengan gaya rileks, tapi pada saat yang sama sangat tajam. Zita misalnya menganggap bahwa argumen bahwa banjir adalah sesuatu yang memang sudah ada di Jakarta sejak lama, sama sekali tidak berguna.

Kalau mau bicara sejarah, katanya dengan gaya lucu, banjir sudah ada di zaman Tarumanegara di abad ke lima Masehi. Karena itu, penanganan banjir akan sangat bergantung pada kebijakan para pemimpinnya.

Dengan kata lain, Zita nampaknya hendak mengatakan bahwa banjir adalah bukan sekadar bencana alam yang harus diterima sebagai keniscayaan. Apalagi, dia mengingatkan, saat ini karena perubahan alam yang terjadi di mana-mana, kita memang harus siap menghadapi curah hujan yang lebih tinggi.

Ancaman banjir harus dihadapi dengan kebijakan yang benar.

Masalahnya, selama tiga tahun terakhir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tak fokus mengatasi masalah banjir. Dan ini terjadi, kata Zita karena Anies terbelenggu oleh janji politik semasa kampanye.

Anies tidak mau melakukan normalisasi Ciliwung karena harus merelokasi warga di bantaran sungai. Padahal, normalisasi sungai itu merupakan solusi utama untuk mengatasi banjir di Jakarta.

Kalau mau bicara gamblang dan melihat alokasi anggaran, Pak Gubernur itu sudah tiga tahun tidak fokus terhadap isu banjir di Jakarta, kata Zita.

Menurutnya lagi, menangani banjir itu seharusnya jangan politis, jangan baper. Tapi pakai data dan fakta. Siapa pun gubernurnya nggak bisa dia ganti-ganti program penanganan banjir, kata Zita.

Dia membayangkan seharusnya siapapun yang nanti menjadi Gubernur DKI harus menandatangani pakta integritas untuk mengatasi banjir, agar tak ada lagi gubernur yang lepas tanggung jawab.

Mengatasi banjir itu harus saintifik, nggak bisa politik, ujarnya.

Pengendalian banjir di Jakarta harus ditangani dengan sekaligus normalisasi sungai, memperbaiki drainase, mengeruk lumpur, memperbanyak pompa, membuat waduk dan embung sebagai bagian dari infrastruktur banjir.

Dalam hal ini, ia memuji program Gerebek Lumpur yang dilakukan Pemprov DKI, yakni melakukan pengerukan lumpur di danau yang memang terbukti membuat banjir jadi cepat surut. Tapi menurutnya, langkah semacam itu hanya efektif untuk jangka pendek.

Pengerukan lumpur tetap tidak akan memadai bila dibandingkan dengan rata-rata debit banjir yang muncul. Mau dikeruk sebanyak apapun lumpurnya, kalau kapasitas sungai tak ditambah, ya Jakarta akan tetap banjir, kata Zita.

Ia mengungkapkan kapasitas sungai existing Jakarta hanya 950 meter kubik per detik, sedangkan rata-rata banjir tahunan debit airnya mencapai lebih dari dua ribu kubik per detik.

Karena itu normalisasi sungai sebagaimana yang sudah dimulai Gubernur Ahok adalah jawaban. Masalahnya itulah yang tidak dilakukan Anies selama tiga tahun terakhir.

Zita menunjukkan bahwa Pemprov DKI baru akan menjalankan program normalisasi sungai Ciliwung pada 2021 ini. Dan hasilnya baru bisa dirasakan dalam 3 tahun ke depan.

Ia juga menyoroti program sumur resapan yang kerap disampaikan Anies Baswedan. Dari 1,8 juta titik yang ditargetkan, ternyata yang baru dibangun hanya 1.772 titik. Dan soal anggaran seharusnya tidak menjadi masalah.

Menurut Zita, dalam Perda 2013 dikatakan bahwa pemerintah bisa meminta pengusaha melakukan pembangunan program sumur resapan tersebut. Dalam video di detik.com itu, Zita memang tampil secara impresif.

Dan kritik Zita menjadi penting karena dia pada dasarnya anak muda yang selama ini tidak dikenal berseberangan dengan Anies. Bahkan ketika di akhir Januari, Ketua DPC Gerindra Jakarta Timur Ali Lubis meminta agar Anies mundur, Zita justru membela sang Gubernur. Menurutnya, aneh kalau partai pendukung Anies sampai meminta Anies mundur.

Zita mengatakan, ia mengapresiasi kinerja Gubernur Anies Baswedan dalam menangani pandemi walaupun belum sempurna. Menurutnya, ikhtiar Anies tidak pernah berhenti untuk menyelamatkan dan mengedukasi warga DKI terhadap Covid-19. Karena itu bisa dibilang, Zita bukan anti-Anies.

Jadi kalau kali ini, Zita sampai mengecam Anies sedemikian keras, dengan didasarkan pada data objektif, ini menunjukkan bahwa kegagalan Anies tidak bisa lagi ditutupi.

Di sisi lain, kemarahan Zita sangat bisa dipahami. Pada Februari tahun lalu, ia ditunjuk sebagai Ketua Pansus Banjir Jakarta. Pansus ini dibentuk mengingat parahnya kondisi banjir Jakarta tahun itu.

Zita dan para anggota pansus lainnya bekerja serius mempelajari banjir Jakarta, mencari data, melakukan pemetaan, dan tentu saja mengundang para ahli. Nyatanya, hasil kerja serius ini tidak ditanggapi serius.

Pada Oktober 2020, Zita sudah menyatakan Pemprov Jakarta tak punya keinginan politik untuk menuntaskan masalah banjir di ibukota.

Ketika itu, Zita menyatakan bahwa ia bersama para ahli tata kota yang dilibatkan menyimpulkan bahwa Pemprov DKI tidak memiliki keinginan politik, baik secara program maupun anggaran, untuk menuntaskan masalah banjir.

Saat itu dia sudah menyatakan bahwa kondisi Jakarta semakin parah, karena Pemprov DKI tidak punya master plan yang terintegrasi dan tidak memiliki indikator keberhasilan dalam menangani banjir.

Dia mengkritik Pemprov DKI yang selama ini mengeluarkan anggaran untuk menangani banjir seperti membeli pompa, sistem polder, dan sebagainya namun tidak punya dampak yang signifikan untuk mengurangi banjir.

“Apa dampak itu semua terhadap banjir,” ujar Zita ketika itu. “Mengurangi banjir atau tidak? Nggak ada indikator keberhasilannya. Jadi, selama ini belanja-belanja saja tapi nggak bisa diukur yang dibelanjakan berhasil atau tidak.”

Kita tentu belum tahu apakah pernyataan Zita ini akan membuka mata Anies. Saat ini saja, saat hujan nampak tidak lagi turun deras seperti sebelumnya, Anies nampak kembali jumawa. Dia bilang, atas izin Allah, pada Senin lalu banjir sudah surut 100%.

Para buzzer Anies juga sudah aktif beraksi menyerang warga yang berani mengecam kegagalan pengendalian banjir di Jakarta.

Jadi dalam sisa dua tahun kepemimpinannya, kita mungkin tidak bisa berharap banyak bahwa Anies akan melakukan pembenahan yang diperlukan. Tapi, kabar baiknya, setidaknya sekarang kita tahu di DPRD DKI ada Zita.

Selama ini, kita hanya bisa berharap pada anak-anak muda PSI. Sekarang kita tahu ada anak muda lain yang sama cemerlangnya. Yuk kita dukung para wakil rakyat yang teguh membela rakyat.

Komentar