ANIES BISA JADI PRESIDEN (TAPI BOONG)

Oleh: Denny Siregar

 

Beberapa hari ini beberapa lembaga survei secara bersamaan mengeluarkan hasil survei politiknya. Yang sedang diangkat adalah calon-calon presiden di 2024 nanti. Sepertinya ada yang nggak sabar untuk melihat peta pertarungan ke depan meski itu masih lamalah, sekitar dua tahunan lagi. Tetapi ancang-ancang harus dilakukan, dan ada beberapa nama yang bisa kita petakan dalam hasil dari lembaga-lembaga survei ini.

Nama tokoh pertama yang muncul di peringkat teratas dari beberapa lembaga survei adalah Prabowo Subianto.

Pak Prabowo, yang sekarang menjabat sebagai Menteri Pertahanan, meski tidak sering lagi muncul di media, tetapi ternyata namanya masih diingat banyak orang. Mungkin buat sebagian orang yang disurvei, nama Prabowo sangat berbekas karena dua periode pertandingan Pilpres lawan kuatnya adalah Jokowi dan Pak Prabowo selalu kalah.

Masalahnya, usia Pak Prabowo sekarang saja sudah 69 tahun, jadi kalau nanti 2024 beliau sudah berumur 72 tahun. Ini usia yang melelahkan buat sebagian orang karena sudah pasti ada penurunan kemampuan dari organ-organ tubuh. Belum lagi nanti jadi presiden itu nggak boleh diam, harus keliling ke seluruh Indonesia, belum lagi ada kunjungan ke luar negeri, selama dia menjabat.

Pertanyaannya adalah apakah nanti Pak Prabowo kuat? Jangan-jangan nanti malah lebih sering di istana daripada keluar ketemu rakyatnya. Dan ini juga akan jadi masalah, karena bisa jadi pembangunan nanti tidak ada pengawasan yang ketat, karena presidennya sudah sering masuk angin misalnya. Inilah masalah terbesar Pak Prabowo. Dan masalah lainnya adalah, apakah calon pemilih terbesar nanti mau memilih “orang lama” sebagai presiden?

Kemenangan Jokowi pertama kali dari Prabowo sudah menunjukkan kalau rakyat Indonesia membutuhkan sesuatu yang segar, sesuatu yang baru, sesuatu yang bisa membawa perubahan ke depan. Bukan sesuatu yang “old school” orang bilang. Dan di wilayah inilah, Prabowo tidak bisa melawan.

Yang masuk radar kedua di pemikiran banyak orang adalah Ganjar Pranowo.

Gubernur Jawa Tengah ini sering dianggap orang sebagai “The next Jokowi”. Pembawaannya yang ceria dan sangat anak muda, membuat Pak Ganjar menjadi idola baru yang diharapkan sebagai pengganti Jokowi nantinya. Tidak ada yang kurang dari seorang Ganjar Pranowo untuk menjadi calon presiden, kecuali bahwa dia ada di dalam PDI Perjuangan.

Seperti kita tahu, tidak mudah untuk menjadi capres di partai keluarga seperti PDI Perjuangan. Tahun 2014 saja, ketika PDI Perjuangan mencalonkan Jokowi sebagai calon Presiden, itu sudah melalui perjuangan yang berat dan pertarungan pendapat di internal mereka, karena sebagian kader PDI Perjuangan tetap ingin mencalonkan Megawati. Dan akhirnya penentuan nama Jokowi terjadi di menit-menit akhir.

Nah pertanyaannya nih, apakah nanti PDI Perjuangan rela memberikan kursinya kepada Ganjar Pranowo, sedangkan di sisi lain mereka ingin mengangkat Puan Maharani ke permukaan? Ini mirip dengan situasi 2014 lalu, ketika Jokowi dihadapkan dengan Megawati, dan tahun 2024 nanti Ganjar Pranowo dan Puan Maharani juga akan dihadapkan pada posisi yang sangat sulit. Apalagi di internal PDI Perjuangan, sudah beredar slogan “Ojo pedot oyot.” yang diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah jangan putus akar. Tentu maksudnya adalah Puan, karena dia adalah akar dari Soekarno.

Jika pada akhirnya PDI Perjuangan akhirnya mengangkat Puan Maharani sebagai calon presiden, Ganjar Pranowo lah yang akan dihadapkan pada pilihan sulit lagi, patuh pada partai untuk mundur teratur atau malah pindah ke partai lain yang memberikan kesempatan kepada dirinya? Dan saya yakin, sekarang saja sudah banyak yang menawarkan ke Ganjar posisi yang sangat bisa menggodanya.

Nah pada posisi ketiga ada dua nama yaitu Anies Baswedan dan Ridwan Kamil.

Anies Baswedan, gubernur yang suka sekali ngecat genteng warna-warni, ternyata namanya masih diingat banyak orang, terutama dalam hasil survei. Anies adalah gubernur yang berhasil memainkan politik identitas di dalam mencapai puncak karirnya. Dan dia tentu disupport oleh orang-orang yang juga punya pemikiran yang sama.

Sayangnya kawan, tahun 2022 nanti adalah tahun terakhir Anies menjabat. Dan dia akan kehilangan panggung besarnya selama dua tahun sebelum 2024. Kemarin sih, teman-temannya Anies sempat meributkan supaya bisa merevisi UU Pemilu, tapi ternyata nggak ada partai yang mau kecuali Demokrat dan PKS doang. Ya itu mereka, teman-temannya Anies.

Ada lagi Ridwan Kamil yang juga namanya banyak disebut dalam hasil survei. Meski peran aktifnya sebagai Gubernur Jabar belum terekspos dengan baik, tapi orang masih mengingat dia. Ya, lumayan lah.

Ada juga nama Sandiaga Uno yang diharapkan bisa mewakili orang muda di dalam pemilihan nanti. Meski ya, kalo ingat Sandiaga Uno itu saya selalu ketawa. Sandi ketika jadi pengusaha dan ketika masuk politik beda jauh penampilannya. Sebagai pengusaha, Sandi ini terlihat gagah perkasa. Saham-saham perusahaannya selalu diburu orang. Tapi kalau dia masuk politik, dia jadi alien. Kadang nelpon pakai tempe, kadang rambutnya ditempelin pete.

Kalau cara kampanyenya seperti itu Sandi nggak akan dianggap serius memimpin negara. Cuma jadi bahan lucu-lucuan saja.

Tapi memang asyik sih, melihat peta siapa yang punya kans ke depan, meski itu cuman buat hiburan. Presidennya masih tetap Jokowi selama beberapa tahun lagi. Yah, saya juga nggak tahu ada apa kok lembaga survei itu tiba-tiba bicara tentang Capres 2024. Mungkin ada yang mesen kali ya, supaya senang mencek apakah dirinya masih diingat orang apa nggak.

Sayangnya, Tengku Zulkarnain nggak ikutan. Padahal saya sebenarnya ngefans banget sama dia. Apalagi sejak di masa pandemi ini, beliau lebih sering bersama ayam-ayamnya, karena pesanan organ tunggal sudah sangat jarang. Saya rasa, beliau sudah berlatih pidato di depan ayam-ayamnya, yang setiap dia ngomong selalu mematuk-matuk saja. Siapa tau ada partai yang manggil beliau untuk mendukung capres mereka, dan kalau barang itu jadi, Tengku Zul dijanjikan jadi Menteri Permusikan dan Khusus Pelihara Ayam.

Komentar